Awal Kejadian

24 2 2
                                    

"Bu, aku tidak mau tidur di kamar lagi," ucapnya sembari meremas selimut.

Ibunya pun tersenyum simpul. "Memangnya kenapa, Dan?"

Ia merapatkan jarak dengan ibunya sebelum memulai cerita, tentang kejadian mistis semalam yang menimpanya.

Tak ada tanda-tanda akan ada kejadian mengerikan malam tadi. Semua berjalan seperti biasanya, selepas belajar Zidan langsung menaiki ranjang untuk pergi ke alam mimpi.

Sekitar lima belas menit memejamkan kelopak mata, tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang terbuka dan tertutup sendiri.

Merasa terganggu Zidan pun bangun dari tidurnya. Dengan rasa kantuk, ia pun mengunci pintu tersebut supaya tidak gaduh. Namun, saat membalikkan tubuh, ia melihat sosok hitam di setiap pojok kamarnya.

Ia mengusap-usap kedua matanya, berharap itu hanya halusinasi karena rasa kantuk. Akan tetapi, sosok itu masih ada, bahkan semakin terlihat jelas.

"Jika ini mimpi, kumohon bangunlah," Ia berujar pada dirinya sendiri.

Ia pun menutup mata selama beberapa detik, lalu membukanya kembali secara perlahan. Rasa lega pun datang kala melihat sosok di pojok itu sudah menghilang.

Saat ia melangkah menuju tempat tidur kembali, ranjang miliknya tiba-tiba bergoyang, membuat ia memundurkan langkahnya.

Bau anyir pun memenuhi ruang kamar. Seketika mata Zidan membulat, bagaimana tidak! Dari kolong ranjang keluar sesosok makhluk. Ya, wajah makhluk itu tertutup dengan rambut panjangnya yang terurai. Akan tetapi, tidak bisa mengurangi kesan seramnya.

Apalagi ... ia merangkak! merangkak, merangkak dan terus merangkak mendekati Zidan. Susah payah Zidan meneguk salivanya, ia terkukung di pojok kamar dekat pintu.

"Aku mohon, pergilah!" ucap Zidan terdengar gemetar.

Namun, nihil, makhluk itu tetap mendekatinya. Tubuh Zidan langsung beringsut, tak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk kakinya sendiri.

Rasanya Zidan akan menjemput ajalnya malam ini, saat sebuah lengan melingkar perlahan di lehernya. Lengan itu bukan dari sosok makhluk yang berada di depannya, tapi, muncul dari pojok tembok yang ia tempati.

"Zi ... dan, Zi ... dan," bisikan lembut nan menggetarkan tubuh itu terdengar di telinga kirinya.

"A--apa maumu?" lirih Zidan, "aku tidak pernah menganggu! Jadi, kumohon jangan ganggu aku."

Kini usapan dingin disertai bau anyir itu berada di puncak kepala milik Zidan. Ketakutan yang Zidan pikirkan saat ini, akan rasa sakit kalau saja makhluk itu menancapkan kuku panjangnya di kepalanya.

Dengan napas yang sudah tak beraturan, Zidan pun memberanikan diri untuk mengusir makhluk itu.

"Pergi!" bentak Zidan sekuat tenaga.

Anehnya, makhluk itu benar-benar pergi darinya. Ia pun dapat mengatur napasnya agar kembali netral dan mengeluarkan sisa tenaganya untuk berdiri.

Perlahan ia berjalan kembali menuju ranjangnya. Hal yang tak terduga kembali menimpa, selimut merah miliknya tiba-tiba melayang ke arahnya dan ....

PojoKamarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang