Dua Nema

14 1 0
                                    



Zidan membuka pintu dan langsung memanggil ibunya. Anehnya, kali ini ibu datang menghampiri mereka.

"Eh, ada tamu." Ibu Zidan kini telah berada di hadapan mereka.

"Iya, Tante. Oh, iya, perkenalkan namaku Laura."

Ibu Zidan membalasnya dengan senyuman. Sedangkan Zidan? Ia sangat bingung melihat pemandangan ini. Aneh, sungguh aneh, pikirnya.

"Dan, ajak duduk dong temannya. Ibu mau buatkan minum dulu." Sang Ibu langsung pergi menuju dapur.

Zidan memberi tatapan bingung pada Laura.

Melihat itu, Laura pun mengernyitkan keningnya dan bertanya, "Kenapa? Kamu belum tahu?"

"Belum tahu? Belum tahu apanya?"

"Sebenarnya ibu kamu it--"

"Ayo diminum dulu jusnya! Eh, iya, ibu mau ke dapur lagi, mau masak. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu." Ibu Zidan dengan seenaknya datang dan pergi begitu saja.

"Maafin, ibu, ya." Zidan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Santai aja, kali! Kayak ke siapa aja, gitu, hehe."

"Oh, iya. Lanjutin yang tadi, ibu aku kenapa?"

"Anu, ibu kamu itu ... cantik! Tapi gak nurun sama kamu."

"Haha ... ya, kali, aku cantik. Serem kali! Aku, 'kan, cowok! Pastinya ganteng dong."

Zidan so ganteng dengan memainkan rambutnya yang sudah panjang itu. Sedangakan Laura, ia memberikan tampang mengejeknya.

Tak terasa percakapan pun terus mengalir begitu saja, terkadang dibumbui dengan sedikit candaan. Awalnya Zidan pikir, dekat atau mengobrol dengan Laura akan membosankan dengan cerita-cerita seram akan pengalamannya, karena dia itu indigo. Tebakannya salah, justru ia sangat asik dan nyambung jadi teman bercerita.

Karena keasyikan berbincang, Laura pun tak sadar kalau gelas jus miliknya telah habis. Padahal saat itu ia mengangkat gelasnya untuk minum kembali.

"Eh," kaget Laura, kala gelas yang ia pegang telah kosong.

Rasa malu pun seketika menyerangnya, ia ketahuan masih haus.

"Mau nambah lagi?" tawar Zidan.

Laura menggeleng cepat, dan berkata, "Gak usah, aku tadi cuma bercanda, kok."

Laura tersenyum kikuk setelah berkata seperti itu.

"Gak usah malu-malu! Kayak ke siapa aja." Zidan bangkit dari duduknya, lalu pergi ke dapur.

Selama Zidan ke dapur, Laura kembali sibuk memerhatikan setiap sudut yang ada di rumah itu. Sebenarnya tatapannya terfokus pada kamar yang bertuliskan 'Zidan Punya' dan sudah dipastikan itu memang kamar milik Zidan.

Laura meneguk salivanya, tatapanya seketika sendu. Ia pun menunduk, entah apa yang ia rasakan, tapi ... matanya kini mulai berkaca-kaca.

"Ini, mau tuang sendiri? Atau dituangkan?" tanya Zidan, yang masih memegangi teko yang berisikan jus.

Merasa tak di respon, Zidan pun menaruh teko itu di meja dan ia duduk dekat Laura.

"La!" Zidan menyentuh bahu Laura.

"Hm? Eh, sorry-sorry, aku gak ngeh kalau kamu udah datang." Laura pura -pura mengelap wajahnya untuk menghapus tetesan air mata yang sedikit keluar.

PojoKamarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang