SEMENJAK makan malam di malam tahun baru itu, setiap bangun tidur, kepala Utari terasa berat. Gravitasi di kasurnya juga terasa semakin besar. Setiap hari, rasanya ia tidak ingin pagi datang karena pada saat itu, ia merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya yang membuatnya tidak ingin bertemu dengan siapapun. Saat itu, hanya ada satu orang yang teringat di ingatannya. Orang yang menghilang bertahun-tahun yang lalu. Ia tidak pernah mengatakan kepada siapapun di keluarganya soal perasaan itu. Perasaan yang mengganggunya selama lebih dari enam tahun karena tak kunjung memudar. Ia pernah mendengar seseorang berkata kalau kehilangan yang tiba-tiba itu selalu menyisakan tanda tanya besar. Apalagi ketika kau tidak tahu apakah orang yang hilang itu masih hidup atau sudah mati. Ya, mereka tidak tahu kalau masalah yang sebenarnya itu ada di dalam diri Utari.
Setiap kali teringat tentang hal itu, Utari selalu berusaha untuk tidak mengacuhkannya. Biasanya, bila perasaan dan bayangan itu tak kunjung hilang, ia pergi ke Rumah Harapan untuk menumpahkan segalanya. Pagi itu, ia teringat kalau ia sudah jarang berkunjung kesana. Mungkin, sudah lebih dari setengah tahun. Dulu, hampir setiap minggu pagi ia pergi ke Rumah Harapan, satu-satunya tempat yang mampu membuatnya merasa diterima. Mungkin, minggu ini ia akan kembali lagi kesana.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Satu pesan dari nomor tak dikenal.
Sebuah pesan yang tidak pernah ia sangka akan sampai di layar ponselnya. Sebuah pesan singkat, padat, tanpa basa-basi.
"Hai Utari! Ini Aksara. Minggu ini ada acara, tidak? Saya mau mengajak bertemu kalau tidak keberatan."
Utari langsung teringat pada senyuman Aksara yang menenangkan hati itu. Utari suka dengan senyuman simetris yang menyisakan celah di setiap ujung bibirnya seperti yang ditunjukkan oleh Aksara, senyum yang lebar.
Utari segera bangun dari tidurnya, lalu bersila di atas kasur. Ia melihat ke arah jendela, belum ada cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Di luar masih gelap, tapi ia sudah dapat mendengar suara desisan minyak panas yang beradu dengan bahan masakan di dapur. Ia bertanya-tanya darimana Aksara tahu nomor ponselnya. Sudah pasti dari Maya atau Mas Seno. Tapi, kenapa tiba-tiba, ya?
"Hai, Aksara! Sebenarnya sudah ada rencana ingin pergi ke Bojong Gede minggu pagi besok. Kalau mau agak sore, mungkin bisa bertemu." Utari sengaja tidak bertanya mengapa Aksara tiba-tiba ingin mengajaknya bertemu. Entahlah, ia merasa kesannya seperti defensif, padahal Utari sebenarnya juga ingin bertemu Aksara.
"Ke Bojong Gede? Maaf kalau kesannya ingin tahu. Ada urusan apa memang di Bojong Gede?" Tulis Aksara dalam pesannya.
"Tidak penting, kok. Hanya ada acara kumpul-kumpul dengan suatu komunitas. Memang kenapa?" Utari sedikit menyesal karena memberitahukan Aksara kemana ia akan pergi. Ia mengernyit. Tidak lama kemudian, Aksara membalas pesannya lagi.
"Kamu tahu 'Rumah Harapan' di daerah Bojong Gede?"
Utari terdiam sejenak dan berpikir darimana Aksara tahu tentang Rumah Harapan. Padahal, setahu Utari tempat itu tidak banyak diketahui orang banyak, bahkan bisa dibilang tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu tentang keberadaan Rumah Harapan, lagipula semua orang yang ada disana adalah perempuan. Ia belum pernah melihat seorang laki-laki pun berkeliaran di tempat itu. Entah karena memang laki-laki tidak diperkenankan berada disana, atau tempat itu memang khusus diperuntukkan bagi perempuan. Lagipula, lingkungan di Rumah Harapan memang sengaja dibuat tertutup, mereka yang pergi kesana biasanya tidak akan membiarkan orang-orang disekitar mereka tahu karena bagi mereka Rumah Harapan itu seperti tempat pelarian diri dari dunia nyata.
KAMU SEDANG MEMBACA
UTARI
General FictionUtari sekali lagi akan dilangkahi adiknya. Setelah Ratri-adik pertamanya-menikah terlebih dahulu, kini giliran Laras-adik keduanya. Ibu Utari yang tidak menyetujui rencana pernikahan Laras, membuat Ratri merasa bersalah dan membebani adiknya. Bagaim...
