Bab 11 - Jawaban Sebuah Pertanyaan

310 20 0
                                        


HARI itu banyak sekali berita yang datang ke telinga Utari mengenai orang-orang terdekatnya. Selain itu, beberapa hari ini, Utari bermimpi tentang profesor gila yang menggunakan anaknya sendiri sebagai kelinci percobaan penelitiannya. Ya, cerita Pak Jay tentang anak angkatnya itu memang cukup terekam jelas di kepala Utari.

Lamunan Utari buyar saat ponselnya bergetar. Pagi itu tidak seperti biasanya, ibu menelepon dari rumah.

"Halo... ada apa, bu?"

"Ibu tadi baru dapat kabar kalau adikmu, Ratri positif hamil."

"Alhamdulillaah... Nanti aku telepon Ratri untuk mengucapkan selamat kalau begitu, bu. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga ya, pak."

"Ya, sama ibu juga menunggu kamu mengenalkan calonmu ya."

Wajah Utari yang semula merekah, langsung layu seketika. Mengapa harus terselip pernyataan itu di tengah pembicaraan tentang kehamilan Ratri.

"Oh, iya... Maya, istrinya Seno juga sudah hamil katanya."

"Oh ya? Alhamdulillaah.."

"Utari, ibu ini kok ya makin lama maki khawatir sama kamu. Ratri dan Maya sudah hamil. Larasati minta kawin. Kamu mau ketinggalan kereta?"

"Aduh, bu. Daritadi kenapa ujung-ujungnya ke aku sih."

"Ndak apa. Ibu cuma mau mengingatkan, mumpung masih bisa mengingatkan. Bapak baru sadar kalau kalian itu seumuran. Kamu ini kan perempuan, Seno yang lelaki saja sudah mau puna anak."

"Ya... doakan saja Utari segera ketemu jodoh, bu."

"Ya, nduk. Cari Abimanyu-mu dengan segera ya. Ndak usah terlalu lama. Kasihan adik kamu Laras yang ingin menikah dengan Ridwan. Ibu juga tidak setuju kalau kamu sampai dilangkahi lagi. Ya sudah... Selamat bekerja ya, nduk."

Sepanjang percakapan tadi sampai bapak menutup teleponnya, Utari tidak berhenti merasa terheran-heran. Mengapa ibu bisa-bisanya menasihatinya lewat telepon begitu. Tapi, setidaknya ibu membawa kabar bahagia.

Ia senang sekali saat tahu Ratri hamil. Adiknya itu sudah menunggu-nunggu kedatangan si jabang bayi selama setahun lebih. Ia tidak pernah terlihat mengeluh, tapi suatu waktu Utari melihatnya menangis sendirian karena meratapi penantiannya yang dirasanya begitu lama untuk mendapatkan seorang anak. Lalu, ia menghubungi Ratri untuk memberinya selamat.

"Mbak, cepat lah cari calon suami. Biar nanti kalau anakku lahir, dia sudah punya pak de." Begitu kata Ratri di ujung percakapan mereka.

Pagi itu membuat Utari tersadar bahwa ia waktu telah berlalu begitu cepat. Tak heran bila orang-orang disekitarnya memintanya untuk berlari lebih cepat, menggapai masa depan, dan mungkin juga merelakan masa lalu.

Semenjak kejadian Sirene mencuri dengan pembicaraanya dengan Azalea, Utari selalu mengajak temannya itu untuk makan di luar kantor. Siang itu, mereka makan di kedai soto kalkun tak jauh dari kantor. Utari menceritakan kepada Azalea bahwa ada banyak hal yang terjadi dalam hidupnya pagi itu. Ia juga bercerita soal lelaki yang ditemuinya di dalam bus menuju kantor dan ia ingat dengan satu-satunya mantan kekasih yang dimilikinya, Abimanyu. Kemudian soal mawar merah yang diberikan oleh Pak Jay dan cerita Sirene. Seperti biasa, Azalea selalu jadi pendengar yang baik. Menanggapi cerita-cerita Utari dengan tulus sehingga ia tidak enggan menumpahkan hampir segalanya kepada Azalea.

Namun, ada terasa berbeda ketika Utari menceritakan tentang berita kehamilan adiknya dan rencana pernikahan sepupunya. Azalea terlihat muram, lantas Utari menjadi merasa bersalah karena ia tidak sadar apa yang diceritakannya barusan menyinggung perasaan Azalea.

UTARICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang