Utari dan Laras sampai rumah pukul 8 malam karena terjebak macet di jalan. Ibu bertanya apa yang mereka lakukan di luar dan apa yang mereka bicarakan. Laras mengatakan kalau mereka membicarakan rencana pernikahnnya dengan Ridwan, tanpa tendeng aling-aling. Ibu mengerutkan dahi, lalu melirik Utari yang sedang pura-pura mengalihkan perhatian sambil membuka tudung saji di meja makan. Sementara itu, Laras pergi ke kamarnya di lantai dua.
"Itu apa?" Ibu menanyakan bingkisan besar yang Utari letakkan di pojok ruangan.
"Nggak tahu, belum Utari buka. Kado dari teman Tari."
"Ulang tahun kamu kan masih lama."
Utari tidak menjawab. Ia sibuk mengunyah tahu goreng yang diambilnya di meja makan. Meski sebenarnya pikirannya sedang tidak berada pada tahu goreng yang sekarang ada di tangan dan di dalam mulutnya.
"Eh, Utari. Tadi adik kamu bilang apa?" Tanya ibu setengah berbisik pada Utari.
"Ya, intinya dia keukeuh mau menikah dengan Ridwan." Utari melahap tahu gorengnya lagi.
"Nduk, coba kamu ambil positifnya dari keinginan adikmu itu. Jangan dimasukkan ke hati." Kata ibu. Utari menerka ibunya menyangka ia tersinggung. Mungkin karena Utari bicara tanpa melihat matanya
"Mbak Utari setuju kok, bu. Sebentar lagi juga akan bawa calon suami ke rumah." Laras tiba-tiba muncul dengan wangi sabun yang menusuk dan rambut yang basah. "Iya kan, mbak?" Katanya sambil tersenyum.
Utari menatap adiknya tidak mengerti.
"Oh, jadi kamu sudah punya calon toh, Tari? Coba dikenalkan sama ibu. Eh, iya... orang mana?"
"Opo toh, bu... Ngarang itu Laras."
"Masa? Terus yang ngasih lukisan gambar mbak sebagus itu siapa?"
Utari langsung beranjak menuju ruang makan, tempat ia meletakkan bingkisan dari Pak Jay. Ibu dan Laras mengikuti dari belakang. Laras meletakkan lukisan itu di atas bangku sehingga siapapun yang masuk ke dalam ruangan itu dapat melihatnya dengan jelas. Ia melihat foto dirinya di sana, begitu nyata seperti gambar yang diambil dengan kamera profesional. Utari tidak pernah tahu kalau Pak Jay pandai melukis, sampai ia melihat inisial nama di pojok lukisan itu. J.M (Jayadi Murat).
"Wah, bagus sekali lukisannya, nduk. Kamu kelihatan cantik di sini." Ibu sumringah.
"Ada suratnya tuh, mbak. Tenang... belum aku buka kok." Kata Laras sambil menunjuk sebuah amplop yang ada di dalam tas bingkisan itu. Tetap saja ia lancang membuka bingkisan orang tanpa izin dulu, pikir Utari.
Ibu mendekatinya yang sedang membuka surat, ingin tahu. Tapi, Utari menghindarinya dan membaca surat itu di ruang tamu. Dari sana ia tahu kalau yang membuat lukisan itu bukan Pak Jay, tetapi anaknya yang berusia 12 tahun. Pak Jay menuliskan kalau anaknya pernah melihat dirinya di kantor. Semenjak saat itu, anaknya tidak bisa melupakan wajah Utari karena katanya wajahnya mirip dengan almarhumah ibunya. Semenjak saat itu pula ia mulai memperhatikan Utari dan baru menyadari apa yang dilihat oleh anaknya. Titik.
"Apa isi suratnya, Utari? Ini dari siapa toh?"
"Dari teman kantor aku, bu."
"Lukisannya bagus. Dia seniman?"
"Bukan. Itu bukan lukisannya. Itu lukisan anaknya."
"Orang yang suka sama mbak sudah beristri?!" Pekik Laras. Entah bagaimana Laras bisa langsung menyimpulkan bila seseorang sudah memiliki anak, dia pasti sudah punya istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
UTARI
Ficción GeneralUtari sekali lagi akan dilangkahi adiknya. Setelah Ratri-adik pertamanya-menikah terlebih dahulu, kini giliran Laras-adik keduanya. Ibu Utari yang tidak menyetujui rencana pernikahan Laras, membuat Ratri merasa bersalah dan membebani adiknya. Bagaim...
