03. Breathtakin

25 4 2
                                    

"semakin banyak berlari akan membuat mu lelah,dan akhirnya kamu akan diam sendiri"

Suara monitor jantung berbunyi sesuai ritme jantung seseorang. Wajah nya yang pucat dengan pakaian rumah sakit, serta mata yang masih terpejam. Mungkin jika ia bangun menampakkan iris mata indahnya bisa memikat siapa saja.

"Kau tau!...kau itu bodoh!" Kesal Reon duduk di samping Devan yang tak sadarkan diri.

Kesalnya karna Devan terlalu percaya akan sebuah suruhan seseorang bisa di bilang ancaman bukan suruhan. Terkadang ia tidak mengerti alur berpikir orang jenius tapi bodoh di depannya. Dia bisa menjadi orang yang sangat berhasil di dunia bisnis tapi tidak dengan urusan pribadi.

"Kau tau... Kau itu sangat baik sebenarnya" tawa Reon sumbang menatap iba boss GILA nya.

"Aku tau aku baik jadi jangan banyak murung dan menangis"

Suara itu mengagetkan Reon, ya itu suara Devan yang masih menutup matanya. Mungkin di rasa enggan bagi nya membuat orang lain tenang.

"Ais dasar bedebah!" Teriak Reon berdiri dari duduknya.

"Jangan marah, aku sungguh masih sakit... Serius!" Jawab Devan kembali.

"Buka matamu! kau apa senang melihat orang lain cemas? Ha?" Ucap Reon kembali duduk di samping tempat tidur Devan.

Devan hanya diam tak menggubris perintah dari Reon, di rasanya ia masih lelah di tambah agak sedikit nyeri bagian perutnya.

"Baiklah kau memang selalu begini Dev" kalah Reon diam, ia mengeluarkan Ponsel dari sakunya.

Ys A

"Ah sudahlah... Aku akan mencarinya nanti saja"keluh Clarissa masih duduk di bawah pohon Tampa berniat pergi sedikit pun.

Ia lelah dan buta,buta tujuan kemana ia akan pergi? Siapa yang akan membantunya? Sedangkan ia hanya sendiri di bumi.

Clarissa menggenggam kalung yang ada di leher nya dalam. Berharap ia akan bisa keluar dari situasi ini. Sambil menutup matanya dengan lelah.

"Aku ingin berpindah dari tempat ini"

Clarissa membuka matanya kembali. Tiba tiba ia sudah berada di pinggir danau. Sekarang sudah menjelang sore, wajar saja tidak banyak orang yang berada di pinggir danau itu. Padahal danau tersebut berada di pertengahan kota. Mungkin di peruntukan bagi penduduk untuk sekedar jalan-jalan dan berolahraga.

"Ah ini di mana?" Bingung Clarissa menatap sekeliling nya dengan cemas.

Bajunya sangat kotor di tambah rambutnya acak-acakan seperti tidak terurus. Wajar dia memang tidak mengurus rambutnya beberapa hari ini.

Lebih baik aku pergi dari sini, namun ini lebih baik dari hutan tadi pikir Clarissa menyusuri tepi danau. Di sini Benar-benar berbeda dari dunia malaikat, sangat canggung bagi Clarissa karna ia belum pernah keluar dari kerajaan nya. Bagaimana bisa keluar? Setiap jam, menit,detiknya tidak lepas dari pantauan. Hari-hari Clarissa hanya di habis kan di perpustakaan, kamarnya dan tempat lain di sekitar castle, finally ia tidak tau bahaya dunia luar atau pun kegembiraan dari sebuah kata 'bebas'.

"Apa aku salah pergi dari kerajaan" sendunya berhenti dan duduk di kursi taman.

Byur

Your AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang