6

169 20 3
                                        

Sebenarnya kalau boleh Lucy jujur, ia pergi dari rumah tanpa tau kemana tujuannya untuk tinggal sementara waktu.

Bodoh, bukan?

Untuk itu Lucy hanya bisa duduk terdiam dengan satu cup ramyeon bersama susu hangat dan air putih di meja luar minimarket. Seorang diri pula. Sementara disekitarnya berlalu lalang banyak pasangan yang mengumbar kemesraan tanpa malu.

Sialan sekali.

Sejenak terpikir untuk kembali ke rumah dan berpura-pura tak tahu kejadian tadi sore, tapi jelas itu akan membuatnya terlihat sebagai orang yang tidak berpegang teguh pada ucapan. Malah akan mempermalukan diri sendiri yang ada.

Perutnya kembali berbunyi, Lucy meringis pelan menyadari bahwa hidangan di depan mata hanya ia biarkan begitu saja. Lantas dengan menanggalkan rasa gengsi sebagai wanita, ia segera menyantap nikmat ramyeon cup hangat begitu cepat.

Rasa pedas dan hangat menjalar pada tubuhnya. Tidak tahu karena faktor lapar atau memang ramyeon ini lebih enak dari biasanya. Tapi merek yang disantapnya saat ini adalah yang biasa dirinya santap bersama Jimin. Terlampau enak sampai Lucy pun meminum kuahnya dari cup.

Hingga dibuat tidak sadar bahwa seorang Pria sudah menaruh atensi padanya sedari tadi.

"Boleh aku ikut bergabung? Meja lain sedang penuh."

"O-oh?"

Lucy lalu dibuat terkejut, bahkan sampai terbatuk karena kedatangan seseorang ke mejanya sungguh diluar dugaan. Setelah berhasil meloloskan air pada kerongkongan dan menyeka jejak air tertinggal di sekitaran mulut, Lucy segera mendongak untuk melihat seperti apa wajah oknum yang membuatnya tersedak.

Pria dengan balutan kaos putih berlengan panjang yang bagian bawahnya dimasukkan dan celana tak ketat berwarna hitam. Biasa saja. Tapi rasa-rasanya orang lain takkan berani mengomentari gaya berpakaian Pria ini karena Lucy saja menyadari kalau apa yang dikenakan dari atas dan bawah bermerk kelas atas. Bahkan jam tangan nya pun dari Rolex.

Barangkali dia seorang anak priyayi.

Dan poin plus, ternyata visualnya pun lumayan.

Oke, tampan. Lucy akui setiap inchi dari wajah Pria ini dipahat dengan sempurna. Tapi Jimin lebih tampan lagi.

Setelahnya ia menggunakan dua matanya untuk menebar ke sekitar, memastikan bahwa Pria ini memang bicara jujur. Dan yah, memang setiap meja sudah terisi penuh oleh Manusia.

Hanya meja nya yang kosong dengan satu kursi.

Terus terang, Lucy itu adalah tipikal orang yang tidak nyaman bila berdekatan orang asing. Namun kalau situasinya seperti sekarang, sepertinya ia harus menyingkirkan egonya sebab kasihan juga kalau Pria ini harus berdiri menunggu meja lain kosong. Pada akhirnya, Lucy mengangguk pelan. "Boleh, silahkan."

Senyum hangat terbit dari wajahnya. Tanpa menunggu waktu lama segera mendaratkan tubuhnya di hadapan Lucy dengan membawa satu cup ramen yang sudah ditambah nasi, telur, dan sosis, bersama satu cup kopi yang uapnya masih mengepul.

Dalam hati Lucy tak habis pikir sebab porsi makanannya terlampau banyak. Serius orang ini akan menghabiskannya sendiri?

Entah memang sedang dalam kondisi hati yang bagus atau memang pembawaan orang ini selalu begini, Lucy mengamati bahwa Pria itu tak habisnya tersenyum ceria setelah menikmati satu persatu hidangan di depannya seakan definisi bahagia ala dirinya itu sangat sederhana.

Melihat orang itu makan dengan lahap, Lucy pun kembali menyantap ramyeonnya yang mulai mendingin.

"Kau sendirian saja?" Setelah beberapa saat hanya dilingkupi hening, dia mengajak bicara Lucy untuk mencairkan suasana. Oleh sebab Lucy masih mengunyah mie dalam mulutnya, gadis itu menjawab dengan anggukan kepala singkat.

Blood, Sweat, and Tears [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang