9. Pergi

4.4K 274 26
                                        

Terima kasih sudah selalu menunggu revisian cerita ini❤

Aku revisinya nyicil, jadi yang sabar ya teman-teman sekalian🥰

Jangan lupa tinggalkan jejak.

Happy reading and enjoy it❤


Sudah seminggu lamanya Zahra tinggal bersama kami. Dan selama itu pula belum ada kabar dari Kak Siva. Zahra setiap hari selalu menanyakan keberadaan Bundanya. Tentu saja ia bertanya pada Mas Nazar, aku dan Zahra tidak pernah mengobrol. Walau pun aku selalu berusaha untuk mengajaknya berbicara.

Seperti saat ini, Zahra hanya diam dan fokus mewarnai. Kemarin, ia merengek pada Mas Nazar ingin dibelikan buku mewarnai. Dan tentu saja Mas Nazar langsung menurutinya. Aku pikir-pikir sepertinya Mas Nazar memang tak bisa menolak semua keinginan Zahra. Apalagi jika Zahra sudah menangis.

"Zahra mau makan apa siang ini?" tanyaku seraya mengelus rambutnya dengan sayang. Seperti biasa, ia akan menepis semua sentuhanku.

"Jangan pegang-pegang Zahra. Zahra nggak mau dipegang sama Tante. Zahra benci Tante. Tante sudah rebut Papa dari Bunda!" Setelah sekian lama mendiamiku, akhirnya Zahra mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia simpan.

Aku tahu jika Zahra benci padaku karena hal itu. Tapi aku belum pernah mendengarnya langsung dari bibir mungilnya.

"Tante minta maaf karena sudah mengambil Papa Nazar dari Bunda kamu, Sayang. Tapi semua sudah takdir. Kalau kamu sudah besar, kamu pasti mengerti."

Tiba-tiba terdengar deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah ini. Dan tiba-tiba juga Zahra menangis histeris yang membuatku kaget setengah mati.

"Zahra? Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku seraya memegang kedua bahunya. Namun ia tetap menangis. Hingga suara yang sudah kuhafal itu mengalun ditelingaku.

"Ada apa ini? Kenapa Zahra nangis?"

"Aku nggak tahu, Mas. Zahra tiba-tiba nangis," jawabku.

Mas Nazar berdiri dengan kedua lututnya, mensejajarkan tubuhnya dengan Zahra.

"Zahra, kamu kenapa nangis?" tanya Mas Nazar dengan suara lembutnya.

"Tante Sarah jahat, Zahra nggak suka Tante Sarah!" jeritnya masih diiringi sebuah tangisan.

"Tante Sarah nyakitin kamu?"

Jujur, aku takut Zahra mengatakan yang tidak-tidak dan Mas Nazar mempercayainya.

"Pokoknya Zahra nggak suka Tante Sarah! Zahra mau ke rumah Nenek saja."

Mas Nazar menatapku dengan serius dan membuatku gugup. Lalu menatap Zahra kembali.

"Papa antarkan kamu, ya?" Zahra mengangguk.

Kini Mas Nazar kembali menatapku dan tersenyum lembut. "Kamu siapkan baju ganti Zahra." Aku mengangguk dan berlari ke kamar untuk menyiapkan beberapa helai pakaian Zahra.

Dalam hati aku terus berdoa agar Mas Nazar tak berpikir yang tidak-tidak. Tapi melihat senyuman itu, aku yakin jika Mas Nazar mempercayaiku.

"Ini, Mas." Aku menyodorkan tas jinjing berisi pakaian Zahra itu pada Mas Nazar.

"Aku yang antar Zahra ke rumah Ibu, kamu jaga rumah," ucapnya seraya berlalu.

Sepeninggal Mas Nazar, aku hanya diam saja setelah membersihkan alat gambar Zahra.

Sekitar satu jam lamanya aku menunggu, akhirnya Mas Nazar sudah kembali dari rumah Ibu.

"Mas mau makan dulu? Atau mandi? Biar Sarah siapkan air hangatnya untuk Mas," ucapku yang tahu jika ia cape karena bekerja seharian. Apalagi ia harus mengantarkan Zahra ke rumah Ibu, padahal ia baru saja sampai.

"Ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu." Ucapannya sukses membuatku mengernyitkan dahi bingung. Tapi aku hanya bisa mengangguk dan mengikutinya duduk di sofa.

"Mas mau bicara apa?" tanyaku setelah kami duduk di sofa empuk ini.

"Besok aku ada kerjaan ke luar negeri."

Aku mengangguk. "Iya, nggak ada masalah, kan? Mas kan sudah biasa perjalanan...."

"Masalahnya aku di sana sebulan," ucapnya memotong ucapanku. Dan tentu saja ucapannya itu membuat aku terkejut.

"Se-bulan?"

"Itu baru prediksi, bisa lebih. Atau bahkan bisa kurang. Aku nggak tahu bisa pulang lebih cepat atau lebih lama."

"Dan Mas baru ngomong sekarang? Padahal besok Mas harus pergi?"

Dia hanya mengangguk dan menatapku penuh permintaan maaf.

Aku menghela napas pasrah. "Jika itu memang pekerjaan Mas. Aku bisa apa?"

"Kamu nggak apa-apa di rumah sendiri?"

Aku menggeleng. "Mas tenang saja, aku bisa jaga diri, kok."

***

Seperti yang dikatakan Mas Nazar kemarin sore, hari ini adalah hari keberangkatannya. Jujur aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang pekerjaannya.

"Mas hati-hati, ya? Kalau sudah sampai jangan lupa kabari Sarah."

Mas Nazar terkekeh dengan ucapanku. "Iya, Sayang."

Setiap kali bibirnya melontarkan kata itu, pasti pipiku akan merona.

"Kamu jaga diri. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat telepon aku," ucapnya seraya mengacak rambutku.

Aku mengangguk seraya melepas kepergiannya. Mas Nazar lantas masuk ke dalam taksi yang ia pesan. Aku hanya bisa mengantarnya sampai depan pintu. Karena Mas Nazar melarang aku untuk mengantarnya ke bandara. Ia bilang, ia tak ingin aku kecapean. Karena akhir-akhir ini aku disibukkan dengan mengurus Zahra.

Mengingat anak itu, aku jadi merindukan ocehan judesnya. Kira-kira dia sedang apa, ya?

Menghela napas panjang, aku langsung masuk kembali ke dalam rumah setelah kepergian Mas Nazar. Berharap sebulan telah berlalu dan mempertemukan kami untuk melepas rindu.

Rasanya satu bulan itu sangat panjang. Aku tak yakin bisa menahan kerinduanku pada Mas Nazar.

Tbc❤

MLS [4] : Different [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang