Setelah libur satu hari aku kembali bekerja dan kebetulan hari ini aku dapat shift jaga siang. Aku datang 15 menit lebih awal sebelum jam kerja. Aku memang lebih suka datang cepat agar bisa lebih leluasa menyiapkan pekerjaanku.
Saat ini kami di divisi perawat yang terdiri dari 7 personel sedang melakukan operan jaga, kita memang hanya bertujuh karena klinik ini terbilang hanya klinik kecil tidak ada fasilitas rawat inap dan hanya buka selama 12 jam atau dua shift untuk melayani masyarakat yang membutuhkan.
"Shift pagi tadi dengan dokter Alika kita ada 42 pasien, tidak ada tindakan UGD!" kata Mbak Sarah teman divisiku yang paling tua dan sudah punya dua anak.
"Untuk O2 yang kemarin habis sudah di isi dan siap digunakan." tambah Wina rekan kerja perawat juga dia masih muda baru saja lulus dan bergabung di sini.
"Siap, yang formulir Askep sudah jadi?" tanyaku.
"Sudah Mbak Syif, aku taruh di laci stok ya!" jawab Wina.
"Sip, bismillah dan semangaaatttt!!!" teriakku mencoba memberi semangat.
Setelah selesai operan, aku segera menyiapkan diri untuk bergantian tugas dengan Mbak Sarah dan Wina. Hari ini aku bertugas dengan Febri sahabatku. Di sini aku memang berteman baik dengan semuanya tapi aku punya beberapa sahabat yang dekat. Diantaranya Febri, Mbak Sarah dan satu lagi Mas Guntur. Mas Guntur seumuran dengan Mbak Sarah tapi baru memiliki satu anak, dia adalah perawat senior dan koordinator divisi keperawatan.
"Syif, mau enggak?" Febri menyodorkan kotak makanan berisi potongan buah, sahabatku satu ini sangat menjaga pola makannya.
"Wiiihh,, segar kayaknya. Simpenin buat nanti ya!"
"Puasa Jeng?" tanyanya.
"Insyaallah." jawabku sambil menulis rekam medis.
"Kagum aku punya sohib kaya kamu walaupun agak sableng tapi rajin ibadahnya!" katanya dengan seenak hati yang diakhiri dengan tawa.
"Dasar Luna Maya!!" sahutku sambil membenarkan letak jilbabku.
"Ih bukan!! Aku Pevita." Protesnya karena tidak terima.
"Terserah Anda saja."
Aku dan Febri mulai melayani pasien yang terus berdatangan di shift ini. Mereka yang datang biasanya adalah orang tua dengan keluhan lutut sakit, pegal-pegal, nyeri sendi dan sejenisnya. Jangan dipikir di sini penyakitnya parah-parah ya!
Saat waktu ashar, pelayanan dihentikan sementara. Aku bersyukur karena bisa bekerja di sini, klinik ini punya kebijakan agar semua pelayanan terhenti sementara saat tiba waktu sholat dan juga mewajibkan bagi seluruh pegawainya berpakaian sopan dan tertutup karena memang kebetulan klinik ini semua beragama islam.
Drrrt..drrrttt..drrrtt
Aku rasakan ponselku bergetar saat aku sedang melipat mukenaku seusai sholat. Segera aku buka pesan yang masuk.
08233651xxxx
Assalamualaikum,
ini nomor saya Riski
Ya Tuhan baru baca pesannya saja kenapa jantungku jadi berpacu lebih cepat begini sih?
Me
Waalaikumussalam. Iya Gus. Bagaimana?
Jawabku hanya dalam hitungan detik. Aku nggak terlihat bersemangat banget kan?
08233651xxxx
emm jangan panggil Gus, enggak enak! Panggil Mas saja ya!
Mas?? Haha aku kenapa sih bisa gugup begini padahal aku juga manggil mas ke banyak orang tapi kok ini rasanya beda ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
3. Gus Dokterku (Terbit)
RandomHidup dengan latar belakang keluarga pesantren membuat gadis ceria bernama Cut Syifa Humaira Ramli bertemu dengan Akbar Rizki Fadilah atau biasa dipanggil Gus Rizki, seorang putra kyai yang akhirnya melamarnya dalam perkenalan singkat mereka. Namun...
