Missing Part

6.3K 424 39
                                        

“Gun, kamu sudah lama kerja di klinik?” Di sela-sela istirahat pelatihan, aku menepi dengan Guntur, menikmati kopi.

“Ya sejak peletakan batu pertama lah, Dok!” jawab bapak satu anak ini dengan guyonan khasnya.
Aku ikut tertawa sambil menimbang haruskah meneruskan rencanaku atau tidak.

“Kenapa Dok? Mau tanya sejarah tentang apa? Hafal semua saya!”

“Tentang Cut Syifa, kamu dekat sama dia?”

Guntur mengalihkan pandangan sepenuhnya padaku, dia melihatku dari atas sampai bawah sambil tersenyum jahil.

“Sudah saya duga, pasti Syifa main pelet sampai membuat penasaran seorang dokter Alfarizky!”

Aku hanya mendengus, memang benar kata Guntur rasanya aku seperti terkena peletnya Cut Syifa.

“Jaga rahasia, atau saya SP kamu!” ancamku pada Guntur, tapi tentu saja hanya ancaman omong kosong.

“Haha, siap Dok! Apa nih yang bisa saya bantu? Wah, saya beneran semangat ini Dok!”
“Ceritakan yang kamu tahu tentang dia!”

“Kalau Syifa itu, bagaimana ya! Unik orangnya Dok, jarang ketemu orang berkarakter seperti dia. Syifa itu kalau soal agama ya sudah bisa dilihat kan Dok! Hafal quran dia, rajin puasa Senin Kamis, entengan orangnya Dok, misal nih kita lagi kerepotan padahal sudah jamnya dia pulang tetep mau saja bantuin. Terus setia kawan juga, dia itu pintar memposisikan diri diantara teman-teman.”

Aku mendengarkan Guntur dengan seksama sambil menyeruput kopiku lagi.

“Nah itu yang bagus-bagus ya Dok! Yang aib-aibnya juga banyak!” tambah Guntur, lagi-lagi dengan tawa khasnya.“Dia itu responsif, reaktif, kreatif terus apa lagi ya? Pokoknya kalau sedikit saja kena senggol, waaahh! Pasti cepet banget tuh reaksinya! Seringnya dia Dok yang maju pertama kalau ada kerjaan yang enggak beres.”

“Dengan saya berarti responsif juga?”

“Beuuh! Bukan lagi Dok! Kalau pas kena marah dokter itu langsung deh daya kreatifitasnya muncul, cepet banget punya ide julukan atau misi balasan. Ada saja caranya! Waktu itu dia kesal banget sama dokter, terus dia nunjukin video dokter ke saya. Katanya kalau dokter masih mau marah-marah video aib itu bakalan dia kirim ke grup klinik.” Guntur langsung menutup mulutnya, merasa keceplosan.

“Video apa?”

“Hehe, bukan apa-apa Dok!”

“Video apa?” ulangku.

“Hehehe, kurang jelas sih. Tapi ada dokter dan ibunya lagi makan terus dokter ndusel-ndusel ke ibunya.” jawab Guntur dengan ragu-ragu.

Benar-benar ya gadis berisik itu berani ngerjain aku!

“Aduh maafin dia ya Dok! Videonya cuma ditunjukin ke saya kok, jangan dimarahin ya! Kasihan Dok, gadis yang malang lho dia Dok!”

“Kenapa?”

“Pernah gagal nikah Dok, padahal tinggal hitungan hari. Ditinggalin sama calon suaminya.”

Aku menegakkan duduk, tertarik dengan cerita Guntur. “Kok bisa?”

“Calon suaminya itu nggak terima Syifa main ice skating, menurutnya pakaian Syifa nggak pantas, bisa menimbulkan pengaruh buruk bagi keluarganya yang katanya keluarga kyai Dok! Ngenes sih habis itu, dia suka murung sendiri, untung yang tahu berita nikahnya baru kita di perawat dan  baru beberapa waktu terakhir ini dia kembali ceria.”

Aku tidak pernah mengira gadis seceria dan seberisik dia ternyata memendam luka hati.

“Tahu nggak Dok, namanya juga Rizki. Hehe makanya dia kalau kesal ke dokter maksimal banget, mungkin karena sudah punya beban dengan yang namanya Rizki.”

Satu hal lagi yang membuat aku terkejut, pikiranku jadi jauh melayang, mengingat waktu acara nikahan di Jogja dia menangis. Apa ada hubungannya dengan semua ini?

“Kamu tahu siapa laki-lakinya, Gun?”

“Kurang tahu dok, dia nggak cerita banyak. Tapi kemarin dia cerita kalau mantan calon suaminya itu menikah dengan saudaranya yang di Jogja!”

Berarti benar Mas Akbar adalah orang yang telah menyakiti hati Cut Syifa, tapi kenapa? Hanya karena penampilan?
Apapun alasannya, dia sama sekali tidak berhak menilai seseorang dari penampilannya apalagi itu calon istrinya sendiri.

Kenapa rasa di hatiku semakin kuat? Awal mulanya aku begitu penasaran dengannya karena wajahnya yang sangat mirip dengan bundaku, semakin mengenalnya rasa penasaran itu menjadi kagum.

“Gun, bisa bantu saya?”

“Siap dok!”

Aku memberitahukan Guntur tentang rencanaku yang tiba-tiba terlintas. Awalnya Guntur ragu akan berhasil tapi pada akhirnya dia menerima.

............

To be continue...☺️

Insyaallah teman-teman bisa baca lanjutannya di novel versi cetak yang akan mulai PO pertengahan September. Bisa nabung mulai sekarang ya kawan.

Sekali lagi terima kasih untuk semua doa dan dukungannya. ❤️

3. Gus Dokterku (Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang