Bab 8

153K 8.2K 426
                                        

Empat tahun kemudian ...

Ruangan yang ditempati enam karyawan terlihat sesak. Ada meja dengan permukaan kaca yang dijejalkan di dalam beserta kursi-kursi. Sementara lemari penyimpanan arsip berdiri menempel pada dinding. Satu-satuanya hiasan di ruangan itu hanya berupa bunga plastik yang diletakkan di pojok. Namun, itu sepertinya tidak banyak membantu untuk mempercatik ruangan yang penuh dengan dokumen. Tidak ada suara cakap apalagi canda, setiap orang sibuk dengan catatan atau komputer mereka.

Di sebelah ruangan mereka, ada satu ruangan yang lebih kecil. Dipisahkan oleh pintu kayu. Terdengar suara laki-laki berteriak di telepon. Begitu kerasnya suara itu, membuat orang yang mendengarnya berjengit kaget.

"Hei, Pak Tua ngamuk lagi." Seorang perempuan berwajah cubby dengan rambut dipotong bob, berbisik pada temannya. "Apa karena kita atau istrinya?"

Temannya yang diajak bicara mengangkat sebelah bahu. "Entahlah."

"Apa karena penjualan kita menurun bulan ini?" tanya perempuan itu sekali lagi.

"Bisa jadi."

"Lena, gosip aja lo. Urus kerjaan aja!" tegur seorang laki-laki berkacamata yang berada di meja dekat pintu.

Perempuan bernama Lena mencebik. "Gue ngomong sama Nara, bukan ama lo, dodol!"

Keduanya berpandangan lalu saling melotot, sampai sebuah deheman terdengar. "Kalian berantem terus, lama-lama jatuh cinta, ntar."

"No way!" teriak Lena. "mana mau gue ama laki-laki macam dia. Bisa turun harga diri."

"Nggak sudi, gendut!" Kali ini si kacamata yang bicara.

Saat keduanya berbantah sengit, Nara menunduk. Catatan penjualan bulan ini harus selesai dalam beberapa jam. Dia sedikit kesulitan mengerjakan secara cepat karena laporan dari divisi marketing dan supplier baru ia terima dalam beberapa hari ini. Banyak hal yang harus diperiksa sebelum memasukan dalam jurnal. Tak lama, perdebatan antara Lena dan si kacamata berakhir. Ia melirik diam-diam pada keduanya yang kini membuang muka. Sambil tersenyum ia berpikir, hanya butuh waktu bagi dua orang itu untuk saling jatuh cinta. Di dalam ruangan, memang mereka bertiga yang terbilang akrab. Sementara tiga orang karyawan lain yang kesemuanya laki-laki, terlihat tidak peduli.

Pintu kayu terbuka, keluar seorang laki-laki setengah baya dengan rambut hitam yang disisir licin. Bisa jadi karena minyak rambut yang dioles secara berlebihan. Ditambah tubuh kurus dan dagu lancip yang berkeringat, orang itu terlihat seperti baru saja keluar dari penggorengan. Dia mengedarkan pandangan dan seketika mulutnya berdecak tak puas.

"Ayo, kalian. Dari tadi ngobrol saja. Apa intruksiku masih kurang jelas!" Laki-laki itu menunjuk pada si kacamata dan berucap keras. "Kamu Bayu, lambat sekali kerjamu hari ini!"

Bayu hanya mengangkat bahu. "Bentar lagi selesai, Pak."

Laki-laki itu kembali mengedarkan pandangan dan melihat keseluruh ruangan. "Nanti jam dua siang akan ada kunjungan dari kantor pusat. Aku ingin kalian semua datang ke aula penyambutan. Jangan sampai ada yang telat dan perbaiki penampilan kalian. Malu kalau sampai dilihat para petinggi itu!"

"Kan-kantor pusat? Benarkah Pak Nasirin?" Lena bertanya terbata.

Nasiri mengangguk. "Iya, akan ada kunjungan ke gudang. Bisa jadi juga pemeriksaan laporan penjualan." Laki-laki itu menoleh ke arah Nara yang menunduk sebelum berucap pelan. "Nara, bisa kamu kerjakan secepatnya? Aku tunggu." Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

Nara mendongak sambil tersenyum. "Baik Pak, segera saya serahkan."

Nasiri manggut-manggut dengan gembira."Bagus, kamu memang karyawan istimewa."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ISTRI RAHASIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang