04 ||• Game of taste

16 2 1
                                    

     Kenapa disaat aku mulai iklas untuk melepaskan, kamu justru datang tanpa di undang?  Segini sakitkah di mainkan oleh perasaan?

         _______________________________

    Pelajaran Matematika, pelajar kesukaan Delta. Dia memang mahir dalam pelajaran ini, nilai matematika nya selalu tinggi.

Rega yang memang mengetahui keahlian Delta, menjadi kannya bahan contekan.

" Del, liat dong gue! " Rega menyiku lengan nya Delta, membuat Delta menoleh.

Delta memberikan buku nya secara asal ke arah Rega. Kemudian dia melipatkan kedua tangannya di meja, dan menjadikannya bantalan kepala.

Sementara Rega masih sibuk menyalin jawaban milik Delta. Setelah selesai, Rega mengumpulkan tugas milik nya dan Delta ke meja guru. Untung gurunya sedang sibuk mengerjakan tugas di dalam komputernya. Jika tidak,  Rega pastikan dia akan mati berdiri karna tidak bisa menjawab pertanyaan dari gurunya.

Nisha malah anteng di bangkunya tanpa berniat untuk mengerjakan soal matematika yang di beri gurunya. Jangankan mengerjakan, nyentuh pulpennya saja Nisha Enggan.

Berbeda dengan Raina yang masih sibuk memecahkan rumus. Raina melirik  Nisha yang terlihat santai tidak mengerjakan apapun. " Sha, kok lo santai aja sih nggak ngerjain soal-soal ini? "

Nisha mengedikkan bahunya acuh.
Membuat Raina mengerucutkan bibirnya kesal.

Srek.....

Terdengar suara bangku bergeser. Tiba-tiba pak Indra, guru mata pelajaran matematika yang tadi masih anteng dengan komputernya, sudah berdiri dari kursi nya.

Seketika kelas menjadi hening, wajah mereka terlihat menegang.
" Kamu, maju ke depan! Kerjai soal nomor 1!" pak Indra menunjuk Nisha, membuat Nisha meneguk ludahnya kasar.

Raina menatap Nisha khawatir, dia tau Nisha sangat membenci pelajaran matematika.

" T- tapi pak" ucap Nisha gugup.

Pak Indra melotot " MAJU! " perintah yang tak terbantah.

Nisha maju dengan menundukkan kepalanya. Sial, seharus nya Nisha mengerjakan tugasnya tadi. Di depan Nisha hanya diam mematung, membuat pak Indra marah.

"Kenapa nggak kamu kerjakan tugas saya? Kamu melawan? ." Pak Indra bertanya dengan nada tinggi.

Nisha menggeleng pelan.

Pak Indra kembali duduk, membiarkan Nisha berdiri di dekat papan tulis.
Malu, itulah yang sekarang Nisha rasakan.

Pak Indra memeriksa buku-buku yang sudah terkumpul di mejanya, lalu dia kembali berdiri dengan memegang satu buku.

" Delta Aksa Pradivta" Indra menelusuri penjuru kelas. Delta berdiri seraya mengacungkan tangan kanannya.

Indra menoleh ke arah Delta " Kerjakan soal nomor satu! ".

Delta mengangguk, kemudian dia maju ke depan. Mengerjakan soal nomor satu dengan lancar. Kegiatan itu tak luput dari pandangan Indra. Indra mendekat ke arah Delta, memeriksa sekali lagi soal yang sudah di kerjakan Delta.

" Bagus! " puji pak Indra, "Kamu bersedia ikut olimpiade matematika antar sekolah nanti? "

Nisha tertegun melihat interaksi antara pak Indra dan Delta.
Jarang-jarang guru matematika nya ini bersikap manis kepada siswa. Bahkan baru ini Nisha melihat seorang pak Indra memuji Siswa di depan kelas seperti ini.

SorridereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang