03 ||• Terbukanya Luka

20 3 2
                                    

       

      Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, pun dengan aku yang rindu tak pernah membenci waktu.

         _______________________________

      Nisha Terdiam di bawah terangnya rembulan, menatap lurus pohon yang tumbuh menjulang di dekat kamarnya yang kini di jadikan objek tatapannya.

  
Menghembuskan nafas perlahan, kemudian ia memejamkan matanya untuk menetralisir hatinya yang kembali berdenyut nyeri.

Perkataan Raina tadi siang membuatnya mau tak mau kembali membuka luka lamanya, ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.
Membuatnya harus kembali menahan rasa sesak itu.

Perkataan Raina lagi lagi terputar ulang di ingatan Nisha. Ada benarnya juga perkataan Raina. Kenapa Nisha harus menunggu dia sampai sekarang? Kenapa harus bertahan sampai sejauh ini?

Nisha mengusap kasar peluh keringat di wajahnya, lalu mengusap wajahnya berulang kali sama kasarnya saat ia mengusap keringat di wajah nya itu.

" Aku selalu rindu senyummu, perhatian demi perhatian kecil yang kau beri,  semua tentangmu aku rindu". Nisha tersenyum hambar, sesekali ia menyelipkan anak rambut yang mulai menutupi sebagian wajah manisnya di daun telinganya.

   Saat Nisha masih sibuk bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba sebuah notifikasi terdengar dari ponsel nya.

Ia menoleh sebentar, enggan untuk beranjak dari tempatnya yang sudah terlanjur nyaman. Di biarkannya ponsel tersebut berbunyi beberapa kali, di dalam hati Nisha menghitung sudah berapa kali ponselnya itu berbunyi.

Nisha mengernyit saat dirasanya ponsel itu berdering, pertandaa seseorang sedang menghubunginya disana.

Akhirnya Nisha beranjak dari tepatnya, berjalan menuju ponselnya dan segera mengangkat telfon dari nomor tak di kenal itu.

" Hallo, ini siapa ya? ". Tanya Nisha to the point.

Hening dari sebrang sana.

Nisha berdecak kesal.
" Kalok cuma iseng gue tutup tel---".
Belum sempat Nisha melanjutkan perkataannya orang di sebrang sana sudah menjawab.

" Ini aku Rel, I miss you so bad "

Setelah itu Nisha langsung menjatuhkan ponselnya ke ranjang dengan asal.
Dia tidak perduli lagi jika ponsel nya terjatuh ke lantai.

Karna saat ini, Nisha lah yang terjatuh di lantai. Luruh, bersama bayang banyang lamanya dengan seseorang yang baru saja menelfonnya. Terduduk lemas dan menangis dalam diam. Sesekali ia menahan nafasnya, saat dirasakannya sesuatu membentur dadanya dengan keras. Membuat nya harus menahan sesak lagi.

             



        Delta dan Rega sedang berada di luar, menikmati hembusan angin malam di bawah cahaya temaram. Hanya sedikit lampu jalan yang menyala, membuat mereka harus mengandalkan cahaya dari motor besarnya. Beruntung malam ini cahaya rembulan terlihat terang, membuat Rega bolak-balik harus berdecak kagum melihat keindahan dari sang rembulan.

Rega menghentikan motornya di depan mini market yang buka 24 jam. Delta turun dari jok penumpang dan berjalan meninggalkan Rega yang masih memarkirkan sepeda motornya. Setelah selesai, Rega mengikuti Delta masuk ke dalam mini market tersebut.

Delta mengambil satu cup mi instant, dua bungkus Snack, dan 2 botol minuman yang terdiri dari air mineral dan minuman coffe kemasan.

Sementara Rega hanya mengambil satu botol air mineral dan satu cup mi instant. Mereka berdua membayar makanan tersebut di kasir,  tak lupa untuk menyeduh cup mi instant yang sudah mereka bayar.

SorridereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang