Terkadang kita harus berfikir keras tentang logika dan etika dalam cinta.
_______________________________
Suara jam dinding berdetak terdengar di sebuah ruangan dirumah Delta. Dia membaca sebuah buku yang berjudul Termokimia. Dengan segelas kopi susu di atas meja yang berhadapan langsung dengannya.
Mulai dari perubahan reaksi, reaksi eksoterm, endoterm sampai entalpi sudah ia baca. Sesekali ia mengesap kopi susunya, mengerutkan keningnya saat terlihat tulisan yang sulit di cerna oleh akalnya.
Setelah selesai membaca, Delta beralih untuk mengambil ponsel genggamnya yang terletak di atas meja. Mencoba mencari kontak Rega disana, kemudian menekan layar telfon untuk menghubungi Rega.
" Kenapa Ta? " samar -samar terdengar suara Rega dari sebrang sana. Karna telinga Delta dominan menangkap suara-suara motor seperti sedang beradu kecepatan.
" lo masih ngelakuin itu? "
" lo tau gue nggak bisa untuk nggak ngelakuin ini Ta. "
Delta menghembuskan nafas nya, mencoba mengerti keadaan Rega yang tidak bisa lepas dari kegiatan malam nya.
" Yaudah gue nitip makanan kalok lo pulang ya! ". Tanpa menunggu jawaban dari Rega, Delta langsung menutup telfonnya.Delta memijat pelipisnya, bingung dengan tingkah Rega yang tidak pernah bisa meninggalkan kegiatan malamnya. Bahkan ketika mereka sudah pindah kota pun, bisa-bisanya Rega mendapat kegiatan malam nya dengan cepat.
Lalu Delta memilih untuk memejamkan matanya di sofa. Biarlah dia tertidur di sana, hitung-hitung sekalian nunggu Rega. Atau lebih tepatnya makanan yang di bawak Rega nantinya.
" Martabak kacang coklat kan mas? "
Rega mengangguk sopan " Pinggirannya sampai kering ya mang ".
" Beres Den ! ". Ucap si penjual dengan semangat.
Rega terdiam di kursi panjang milik mamang penjual martabak manis.
Menikmati hembusan angin malam yang menerepa permukaan kulitnya. Di sebrang jalan terdapat Indomaret. Rega memicingkan matanya, lalu berjalan menyebrangi jalan yang cukup besar ke arah Indomaret tersebut. Sebelum pergi Rega sudah pamit kepada sang penjual, mengatakan dia akan kembali lagi nanti.Di salah satu kursi yang di depannya juga terdapat meja, ada sosok yang menarik perhatian Rega. Kemudian dia berinisiatif untuk menepuk bahu gadis tersebut yang sedang tertidur pulas.
" Permisi". Dengan pelan, Rega menepuk bahu gadis itu.
Sang gadis menggeliat, perlahan dia mengangkat kepalanya agar bisa melihat Rega. Orang yang sudah membangunkan tidurnya.
Belum semua kesadarannya terkumpul, sang gadis sudah terkejut karna sosok cowok yang ada di hadapannya saat ini." L-lo ng-ngapain disini? ".
Nisha, dialah sosok gadis yang tertidur di depan Indomaret.Rega mengerutkan dahinya " Harusnya gue yang nanyak! Lo ngapain tidur disini jam segini? ".
Nisha terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Setelah lama diam, perlahan dia tersenyum " Ini jam berapa Ga? ". Alih-alih menjawab pertanyaan Rega, Nisha justru kembali bertanya.
Rega melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian ia arahkan ke depan wajah Nisha.
Tertulis 01.15 AmNisha menghela nafasnya lega. Lalu ia masuk ke dalam Indomaret meninggalkan Rega yang masih terdiam menatapnya. Di dalam, tampak Nisha yang sedang berbicara kepada si penjaga kasir. Sampai akhirnya Nisha keluar dari Indomaret dengan wajah biasa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sorridere
Fiksi RemajaKarna kopi akan terasa manis jika diberi gula, begitu juga hubungan akan terasa indah jika ada cinta. Karna dengan senyuman, akan merubah segalanya menjadi sejarah. "Jadi gimana menurut lo? ". Rega mengulang pertanyaannya tadi. Berharap kali ini De...