"Dek?!"
Rezfan menepuk bahu Adiknya yang sedang melamun didepan meja belajarnya.
"Iisshh, Abang ngagetin Adek tahu nggak?"
Azizah merajuk terhadap Kakaknya.
"Lagian siapa suruh melamun kayak gitu? Abang dari tadi ketuk pintu, namun tak ada sahutan. Makanya Abang berinisiatif masuk saja, eh ternyata Adik Abang lagi melamun disini. Kenapa Dek?"
Seraya mengelus kepala Adiknya yang tidak terbalut hijab.
"Bang? Apa salah kalau Adek mengharapkan dia kembali? Apa salah kalau Adek masih menaruh hati terhadapnya?"
"Tidak ada yang salah, namun Adek harus ingat. Adek harus mengharapkan cinta-Nya, jangan mengharapkan makhluk ciptaan-Nya yang belum tentu mengharapkan Adek. Kamu bukan gadis kecil lagi Dek, kamu harus bisa menentukan mana yang baik dan mana yang terbaik."
"Tapi Bang..."
"Sudahlah, ditunggu makan malam dibawah."
Rezfan berbalik, tidak mau mendengarkan penjelasan Adiknya.
"Maafkan Abang Dek, Abang tidak mau kamu terus meratapi orang itu."
Batinnya, seraya mengepalkan tangannya.
Flasback on.
Ditaman sore itu 3 orang insan sedang bersenda gurau. Namun, 2 orang saling bercengkrama menukar cerita. Sedangkan yang satunya memilih diam didekat kolam ikan.
"Fan? Bolehkan gue mengagumi Adek lo?"
Tanya Hasyim
"Atas dasar apa lo mengaguminya?"
"Gue ingin segera menghalalkannya, namun tunggu gue 5 tahun lagi. Selepas kelulusan SMA nanti, gue harus ikut Ortu ke London. Perusahaan Bokap sedang bermasalah disana, makanya sekalian gue harus ikut karena Nyokap khawatir ninggalin gue di Indonesia sendiri."
"Lo kagak boleh janjiin apa-apa sama Adek gue, lo juga nggak usah bilang kalau lo mau serius sama Adek gue, lo bilang serius nanti saja. Jangan berkomitmen apa-apa. Gue takut lo kagak balik lagi ke Indonesia, terus Adek gue meratapi lo lagi."
"Santai saja lagi, gue pasti secepatnya bakalan jemput bidadari gue selepas beres kuliah nanti."
"Oke, gue tunggu lo."
"Boleh gue samperin Adek lo disana? Gue mau pamit. Nanti malam penerbangannya"
"Silahkan, awas kalau lo macam-macam. Gue awasi lo dari sini"
"Santai saja lagi calon Kakak Ipar, Haha"
"Jijik gue"
Hasyim pun pergi menghampiri Azizah, selepas mengucapkan kepergiannya ke London, Hasyim memberikan amplop yang berisikan surat untuk Azizah, tanpa sepengetahuan Rezfan.
"Baiklah Kak Hasyim, selamat tinggal"
Azizah berucap
"Selamat tinggal, Azizah... Tunggu Kakak yaa?"
"Zizah nggak bisa janji apa-apa Kak."
"Baiklah"
Hasyim kemudian benar-benar pergi selepas kembali menemui Rezfan untuk yang terakhir kalinya.
Sesudah pertemuannya dengan Hasyim, Rezfan dan Azizah pergi pulang ke rumah. Azizah langsung pergi menuju kamarnya, karena tidak sabar ingin membaca surat dari orang yang diam-diam dia do'akan dalam setiap sujudnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintai Kehilangan
Teen FictionSiti Azizah Kanza Az-Zahra Al-Ayubi, wanita yang ramah, cerdas, serta piawai harus kembali menelan pil pahit karena keputusan orang yang telah mengambil hatinya. "Mengapa kau datang dalam hidup jika hanya untuk mengukir jalan kehidupan? Aku mencoba...