Bab. Hanna
"Bagaimana menurutmu tentang waktu untuk pernikahan kita yang digeser lebih cepat?" tanya Mas Adipati, mata kecil nan tajamnya fokus tertuju pada jalanan di depan.
"Lebih cepat lebih baik, Mas," jawabku. Mata ini tak lepas mengamati wajah tampan dengan rahang tegas ditumbuhi bulu-bulu halus, mempertegas kejantanannya.
"Syukurlah jika kau tak keberatan. Niat baik seharusnya memang disegerakan," ungkap Mas Adi, mengerling sebentar.
Aku setuju dengan ucapannya, apa lagi yang mesti ditunggu, dua belah pihak sudah sepakat, tak ada lagi kendala. Tinggal selangkah menuju halal.
Sepulang makan siang di resto bersama kedua orang tua kami termasuk calon putra tiriku, pria si pemilik hati ini kukuh ingin mengantarku pulang. Katanya kapan lagi ada kesempatan berdua seperti ini.
Kebetulan sekali aku memang tak membawa kendaraan, di samping malas menyetir sendiri, tadi pagi berangkat ke kantor nebeng mobil Radit.
Usai kumpul bareng keluarga, aku enggan kembali ke kantor, kuhubungi Radit lewat gawai aku izin pulang, selagi tak banyak kerjaan. Dia mengizinkan.
Kutatap pria yang duduk di belakang kemudi. Dilihat dari samping dia terlihat lebih tampan, seksi. Hidung mancung, alis melengkung tebal, bulu mata lentik memayungi bola mata hitam pekatnya. Bibir ini melengkung ke atas tanpa sadar.
Beruntung aku mendapatkan calon suami dengan seribu pesona seperti Adipati Bratawijaya. Selain memiliki segalanya, dia pria yang perhatian dan sangat menjaga perasaan ini. Segala sesuatu pendapat harus sesuai pertimbanganku.
"Hmm." Dia bergumam.
Mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan yang cukup lenggang. Alisku berkerut, buat apa Mas Adi menghentikan kendaraannya di tempat asing ini.
"Kok berhenti, Mas?"
"Bagaimana aku bisa fokus nyetir, jika matamu terus mengawasi wajahku. Setampan itu kah calonmu ini sampai kau tak mau memalingkan pandangan?"
Astaga, narsis sekali dia. Kukira dia nggak sadar diperhatikan. Haist, entah berwarna apa permukaan wajah ini. Malu.
"Lanjut jalan mobilnya napa, Mas!" pintaku menetralisir rasa malu, seraya membuang muka ke sisi lain, melempar pandangan keluar kaca mobil, sambil menyembunyikan rona di wajah tentunya.
Dia tertawa. Duuh, ketahuan tingkah konyolku, semoga dia pun tak membaca apa yang sedang kupikirkan tentangnya. Bisa nyungseb aku ke dalam jok saking gak punya muka.
Mobil kembali melaju, pria itu masih menyisakan kekehan. Kupukul manja bahunya.
***
Meeting berakhir dengan hasil kerjasama yang memuaskan antar perusahaan Himawan dengan Bratawijaya Group tentang proyek perumahan elite di Bukit Permata Kemang.
Aku keluar terlebih dahulu dari ruang meeting membiarkan bos dari perusahaan masing-masing saling bercengkrama menambah keakraban setelah dipusingkan seputar rapat selama hampir memakan waktu empat jam.
Aku memilih keluar dari ruangan karena ada notif pesan masuk ke ponselku empat jam lalu, dan sekarang jarum jam menunjuk ke angka lima sore. Sudah selama itu pesan terbiarkan, tapi penasaran ingin tahu isinya terus membayang.
Rayyan, tiada yang lain. Menghela napas sesaat sebelum mengirim chat balasan.
[Ada apa?]
[Dua bulan lagi aku UAS]
Aku tersenyum, apakah dia sudah menerima kehadiranku sebagai calon ibu, makanya dia mengabarkan hal demikian, mungkin doa seorang ibu yang dia butuhkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kemelut Cinta
Storie d'amoreWanita yang bernama Hanna, dicintai dua pria sedarah. Ayah dan anak.
