BAGIAN 2

756 23 0
                                        

Hidup di dalam sebuah istana yang megah dan serba ada, memang tidak selamanya membuat orang bisa bahagia. Hal ini dirasakan betul oleh Dewani. Meskipun segala kebutuhannya bisa tercukupi, tapi rasanya seperti hidup dalam penjara. Dan kehidupan yang dijalaninya di dalam Istana Batu Ampar, lebih menyakitkan daripada hidup di dalam penjara. Baginya, penjara lebih baik daripada berada dalam sangkar emas.
Sudah lebih dari dua purnama Dewani terpaksa menjalani kehidupan seperti itu. Dan selama itu pula, segala godaan sangat berat harus dihadapinya. Godaan itu bukan hanya datang dari si Cambuk Setan saja, tapi juga dari si Iblis Pedang Perak dan beberapa jago Istana Batu Ampar yang menjadi kaki tangan Lanjani, ratu di Kerajaan Batu Ampar.
"Aku akan berbuat nekat jika orang-orangmu masih juga menggangguku, Lanjani," desis Dewani mengancam, saat punya kesempatan bertemu wanita cantik penguasa Kerajaan Batu Ampar.
"Mereka hanya tertarik pada kecantikanmu saja, Dewani," Lanjani menanggapi begitu ringan, seakan-akan tidak mempedulikan pengaduan gadis ini.
"Kau seperti tidak peduli terhadap diriku, Lanjani...," desis Dewani menatap penuh curiga.
"Kalau aku tidak peduli, tentu kau tidak bisa bebas sekarang ini, Dewani," masih terdengar ringan nada suara Lanjani.
"Siapa bilang aku bebas...? Kau sudah merampas kebebasanku! Kau sudah membatasi ruang gerakku. Hhh...! Aku merasa lebih baik kalau aku ditempatkan dalam penjara, Lanjani," dengus Dewani begitu ketus suaranya.
"Tidak ada yang merampas kebebasanmu, Dewani. Dan aku juga tidak membatasi ruang gerakmu. Kau boleh berbuat apa saja di istana ini. Tapi, kau memang tidak diberi izin untuk keluar istana. Aku tidak mau kau mencuri kesempatan untuk lari lagi, seperti yang kau lakukan bersama si gembel Rapanca!" kali ini nada suara Lanjani terdengar tajam sekali.
"Kau pikir, aku akan terus menerima dan berdiam diri begitu saja, Lanjani..? Hhh...!" sinis sekali suara Dewani.
"Dengar, Dewani. Ini yang terakhir kali kau kuberi pengampunan. Jika kau ulangi lagi kebodohan yang sama, aku akan lepas tangan. Dan jangan harap aku bisa melindungimu lagi," desis Lanjani setengah mengancam.
"Gertakanmu tidak akan menggoyahkan hatiku, Lanjani," desis Dewani dingin.
"Kali ini kau tidak akan punya kesempatan, Dewani. Dan kuminta kau tidak lagi-lagi mencoba lari dari kerajaan ini. Tidak ada gunanya berbuat bodoh seperti itu."
Dewani hanya tersenyum sinis saja. Sementara, Lanjani bangkit berdiri dari duduknya di bangku taman kaputren yang letaknya di bagian belakang Istana Batu Ampar ini. Sebentar matanya menatap tajam pada Dewani yang masih tetap duduk diam sambil membalas tatapan penguasa Kerajaan Batu Ampar. Sesaat mereka saling menatap tajam sekali. Kemudian, Lanjani memutar tubuhnya berbalik. Lalu, dia melangkah cepat meninggalkan gadis itu.
Sementara Dewani masih tetap duduk di bangku taman kaputren itu. Matanya masih tetap menatap tajam pada Lanjani yang semakin jauh meninggalkannya. Kemudian, penguasa Kerajaan Batu Ampar itu menghilang di balik pintu taman kaputren ini. Dewani menarik napas dalam-dalam. Pandangannya kini beredar ke sekeliling, merayapi sekitar taman kaputren yang begitu indah dihiasi bunga-bunga bermekaran menyebarkan aroma harum menusuk hidung.
"Edan...! Sampai-sampai kaputren dijaga ketat begini. Hhh..., Lanjani benar-benar sudah keterlaluan. Istana ini dijadikan seperti benteng yang akan diserang musuh saja," desis Dewani dalam hati.
Memang, di sekitar taman kaputren ini terlihat beberapa orang berseragam prajurit pengawal yang berjaga-jaga bersenjata lengkap.
"Hhh.... Kalau saja aku bisa keluar dari sini...," desah Dewani lagi dalam hati.
Wajah gadis itu jadi berubah mendung. Sinar matanya begitu kosong, merayapi tanaman bunga yang bermekaran begitu indah. Tapi di mata Dewani, keindahan itu tidak bisa lagi dinikmati. Semua bunga yang ada dalam taman kaputren ini seakan hanya bunga bangkai yang berbau busuk. Tak ada lagi keindahan. Tak ada lagi keharuman dan semerbak wangi bunga-bunga. Yang ada hanya kemesuman bagai berada dalam neraka.
"Apa pun akibatnya, aku harus bisa keluar dari sini..," desis Dewani bertekad.

***

Malam sudah begitu larut, tapi Dewani belum juga bisa memejamkan matanya. Entah, sudah berapa kali dia berjalan memutari kamarnya. Dan sudah beberapa kali pula matanya merayapi keluar, dari jendela kamar yang dibuka lebar. Keningnya terlihat berkerut begitu dalam, mencari cara untuk bisa keluar dari istana ini. Tapi sampai saat ini, belum juga bisa ditemukan cara yang terbaik.
"Huh! Siang malam istana ini selalu dijaga ketat. Bagaimana aku bisa keluar...?" dengus Dewani kesal dalam hati.
Tatapan matanya begitu tajam, merayapi para prajurit yang tidak berapa jauh dari jendela kamarnya. Ada sekitar enam orang prajurit yang menyandang senjata lengkap, bagai hendak menghadapi peperangan. Belum lagi sekelompok prajurit yang selalu meronda mengelilingi sekitar istana ini secara bergantian. Dewani benar-benar tidak lagi memiliki kesempatan. Tapi begitu menatap ke arah tembok benteng sebelah Timur, mendadak saja matanya jadi terbeliak lebar.
"Heh...?!" Hampir Dewani tidak percaya dengan penglihatannya. Di atas tembok yang cukup gelap dan agak terlindung oleh pohon beringin, terlihat seseorang bertubuh ramping. Bajunya berwarna kuning gading yang begitu ketat. Belum juga Dewani bisa melihat jelas, tiba-tiba saja sosok tubuh berbaju kuning itu sudah melesat cepat.
Begitu cepatnya gerakan sosok tubuh berbaju kuning itu, sehingga Dewani tidak bisa lagi melihat jelas. Tahu-tahu, terdengar suara-suara mengeluh pendek yang saling susul. Kembali bola mata gadis itu terbeliak, begitu melihat enam orang prajurit yang berjaga tidak jauh dari jendela kamarnya sudah tergeletak di tanah. Dan sebelum Dewani bisa menyadari apa yang baru saja dilihatnya, tiba-tiba saja sosok tubuh berbaju kuning itu sudah melesat ke arahnya. Kecepatannya begitu cepat luar biasa.
"Heh...?!" Dewani jadi tersentak kaget begitu tiba-tiba merasakan hembusan angin yang begitu keras. Gadis itu semakin terbeliak lebar begitu menyadari kalau di dalam kamarnya, tahu-tahu sudah ada seseorang berbaju kuning gading. Bajunya juga begitu ketat sehingga membentuk tubuhnya yang ramping. Sukar bagi Dewani untuk bisa mengenali, karena orang ini mengenakan sebuah caping lebar. Sehingga, seluruh wajahnya hampir tertutupi. Hanya bagian dagu dan sedikit bibirnya saja yang terlihat samar-samar.
"Siapa kau...?" tanya Dewani, agak bergetar suaranya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sebaiknya bersiap-siaplah keluar dari sini. Sementara aku akan menarik perhatian para penjaga, kau keluar melewati benteng sebelah timur," ujar sosok tubuh berbaju kuning gading itu datar. Dari nada suaranya, jelas kalau dia seorang wanita. "Kau bisa melompati tembok itu, bukan...?"
Dewani berpaling sebentar, menatap tembok benteng yang tingginya lebih dari dua batang tombak. Sedikitnya, dia memang pernah mempelajari ilmu olah kanuragan, dan ilmu meringankan tubuh. Tapi, gadis itu tidak yakin bisa melompati tembok benteng yang begitu tinggi. Jangankan mencoba, memikirkannya pun tidak pernah terlintas dalam benaknya. Dewani kembali menatap wanita aneh berbaju kuning gading itu.
"Aku tidak yakin bisa melakukannya. Aku belum pernah melompat setinggi itu," keluh Dewani, agak lirih nada suaranya.
"Kalau begitu, aku akan melemparkanmu ke sana," ujar wanita berbaju kuning gading itu.
"Heh...?!" Dewani jadi terkejut setengah mati.
"Kau tidak perlu khawatir, Dewani. Ada temanku yang akan menyambutmu di luar sana," jelas wanita aneh itu lagi.
Dan sebelum Dewani bisa berkata apa-apa lagi, tiba-tiba saja wanita aneh berbaju kuning gading itu sudah melompat cepat sambil menyambar tubuh Dewani. Gadis itu sampai terpekik kaget, tapi tidak bisa lagi melakukan sesuatu. Bahkan juga belum sempat disadarinya, begitu wanita berbaju kuning gading yang tidak ketahuan siapa sebenarnya, tiba-tiba sudah berada di dekat tembok benteng sebelah timur. Pada saat itu, serombongan prajurit yang sedang meronda lewat di sana.
"Hei..!" bentak salah seorang prajurit itu ketika melihat mereka.
"Hup...!" Tanpa bicara sedikit pun, wanita aneh berbaju serba kuning yang begitu ketat itu melemparkan Dewani ke atas. Tubuh gadis itu melayang deras ke udara, seperti segumpal kapas yang tertiup angin. Gadis itu sampai menjerit ngeri begitu tubuhnya melayang ke udara, hingga melewati tembok benteng yang cukup tinggi.
Tepat di saat tubuh Dewani meluruk deras keluar benteng, sekitar dua puluh prajurit yang memergoki sudah berlarian ke arah wanita berbaju kuning gading itu. Tapi sebelum para prajurit penjaga mendekat, tiba-tiba saja wanita aneh berbaju kuning itu melepaskan selembar selendang berwarna kuning keemasan yang membelit pinggangnya.
"Hiyaaa...!"
Wukkk!
Cepat sekali wanita berbaju kuning gading itu mengebutkan senjatanya ke depan. Selendang kuning keemasan yang panjangnya lebih dari tiga batang tombak itu meluncur deras, menghajar tiga orang prajurit sekaligus yang berada paling depan. Ketiga prajurit itu menjerit melengking tinggi. Tubuh mereka langsung terpental ke belakang, menabrak beberapa prajurit yang berlari-lari cepat di belakang.
Dan sebelum prajurit-prajurit yang lain bisa bertindak, wanita aneh berbaju kuning gading itu sudah melompat ke depan sambil mengebutkan cepat selendangnya. Selendang kuning keemasan itu meluncur deras. Bahkan meliuk-liuk bagai seekor ular naga mengamuk, menghajar para prajurit itu.
Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi terdengar seketika saling susul. Tampak beberapa prajurit kembali berpentalan, dan langsung ambruk tak mampu bangun lagi. Darah langsung mengucur dari tubuh-tubuh yang tersambar ujung selendang kuning keemasan itu.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Wanita berbaju kuning itu terus berlompatan sambil mengebutkan cepat selendangnya. Hingga, tak ada seorang prajurit pun yang mampu bertahan lagi. Beberapa orang prajurit yang memiliki kepandaian cukup, masih sempat berlompatan menghindar. Tapi mereka juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi, karena serangan-serangan yang dilancarkan wanita aneh berbaju kuning gading itu demikian gencar dan cepat luar biasa. Hingga dalam waktu yang tidak berapa lama saja, dua puluh orang prajurit sudah bergelimpangan bersimbah darah tak bernyawa lagi.
"Phuih...!" Wanita aneh yang memakai caping besar hingga menutupi hampir seluruh wajahnya itu mendengus berat, saat melihat puluhan prajurit berlarian menuju ke arahnya.
Jeritan-jeritan dua puluh prajurit itu rupanya terdengar ke seluruh bagian istana ini. Sehingga, para prajurit yang bertugas jaga malam langsung berdatangan ke bagian timur Istana Batu Ampar ini.
"Mustahil aku bisa menghadapi mereka semua...," desis wanita aneh itu menggumam perlahan.
Menyadari kalau tidak akan mungkin bisa menghadapi puluhan prajurit bersenjata lengkap, maka cepat sekali wanita aneh itu melentingkan tubuhnya ke udara. Lalu, manis sekali dia hinggap di atas tembok benteng yang tingginya lebih dari dua batang tombak. Dan tiba-tiba saja, tangan kanannya berkelebat cepat ke depan.
"Yeaaah...!" Saat itu juga, dari telapak tangannya meluncur beberapa buah benda bulat sebesar mata kucing berwarna kuning keemasan. Benda-benda bulat itu meluncur deras dan langsung menghantam tanah, tepat di depan para prajurit yang sedang berlarian ke arahnya.
Glarrr...!
Ledakan-ledakan keras menggelegar seketika itu juga terdengar dahsyat begitu benda-benda bulat berwarna kuning keemasan menghantam tanah.
Beberapa prajurit yang berada di depan menjerit melengking tinggi, bahkan berpentalan ke belakang. Sedangkan prajurit-prajurit lain jadi terlongong melihat sekitar sepuluh prajurit seketika tewas. Tubuh mereka melepuh seperti terbakar, terkena ledakan dahsyat dari benda-benda kecil berwarna kuning keemasan yang dilepaskan wanita aneh bercaping dan berbaju kuning gading.
"Hup...!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, wanita berbaju kuning gading itu cepat melompat turun dari atas tembok benteng ini. Gerakannya begitu ringan, sehingga tak ada suara sedikit pun yang terdengar saat kedua kakinya mendarat di luar tembok benteng. Kakinya mendarat tepat di depan Dewani yang kini sudah ditemani seorang laki-laki berjubah putih bersih. Sebatang tongkat tak beraturan bentuknya tampak tergenggam di tangan kanan. Dia juga mengenakan caping bambu berukuran lebar, seperti yang dikenakan wanita aneh berbaju kuning gading.
"Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini," ajak wanita aneh berbaju kuning gading.
Tanpa membuang-buang waktu lagi mereka bergegas berlompatan naik ke atas punggung kuda. Memang ada tiga ekor kuda yang sudah menunggu di luar benteng sebelah timur ini. Tak berapa lama kemudian, tiga ekor kuda sudah berpacu cepat meninggalkan benteng Istana Batu Ampar sebelah Timur.

63. Pendekar Rajawali Sakti : Prahara Darah BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang