sepenggal kenangan “Adistya Hutomo”
Namaku Adistya Hutomo, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya seorang adik perempuan bernama Ally Hutomo, dan seorang adik laki-laki bernama Ryan Hutomo. Ibu ku seorang wirausahawati dibidang fashion dan ayahku seorang pejabat pemerintah, dan pastinya mereka sangat sibuk, tapi keluargaku adalah keluarga yang cukup harmonis dan bahagia. Adik perempuanku seorang penulis cilik, dan adik laki-lakiku seperti anak laki-laki kecil kebanyakan, dia suka memelihara binatang-binatang tidak jelas –menurutku lebih tepatnya- dan cerdas dibidang merangkai mainan laki-laki karena selain itu aku tidak tau apa lagi kecerdasannya, hehe
Keluarga kecilku memang sangat variatif, Orangtuaku sangat sibuk, aku dan adik-adikku juga sangat sibuk dibidang kami masing-masing. Ya memang terkadang kami sering cekcok, tapi tidak akan lama kami akan kembali berma’afan dan akrab seperti tidak ada masalah sebelumnya.
Aku sangat menyayangi kedua orangtuaku, karena meskipun mereka sangat sibuk. Mereka tidak pernah berhenti memperhatikan dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Apapun yang membuat anak-anaknya senang, pasti mereka usahakan dan penuhi untuk kami. Dan sudah pasti, aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku, akan aku lakukan apa saja demi mendapatkan kepercayaan dan ridho dari mereka, sekalipun jika aku harus mengorbankan hidupku.
Pada saat aku kelas 1 sma aku dimasukkan dan disekolahkan oleh orangtuaku ke sekolah berasrama, dan kehidupan baruku pun dimulai .
***
Tak terasa sudah 3bulan aku tinggal di SMA berasrama itu, suasana disana sangat tenang dan menyenangkan sehingga membuatku mudah untuk beradapatasi. Aku merasa sangat nyaman berada disana, teman-temanku sangat ramah dan tidak sombong. Kami saling membaur satu sama lain, baik ketika sedang dikelas maupun ketika dikamar asrama.
Diasrama itulah, aku belajar tentang kesederhanaan, kemandirian dan juga tentang kedewasaan dalam menyikapi segala sesuatu, oya, seminggu sekali tepatnya disetiap hari minggu, Keluargaku selalu datang untuk melihat keadaan ku. Dan kata teman-teman terdekatku, -karena prestasiku yang cukup memuaskan- aku cukup dikenal oleh hampir seluruh siswa-siswi serta guru-guru yang berada disekolah berasrama ini, tentu saja aku tidak terlalu percaya dengan opini mereka. Sampai hari itu . . .
“Adis!!” teriak Manda –teman baikku diasrama ini-
Aku menoleh ke belakang dan berhenti sejenak. Aku tertawa melihatnya berlari-lari kecil kearahku,
“Parah lu ninggalin gue,!” celotehnya kesal sambil menjitak kepalaku pelan,
“Hahaha, lagi dikamar mandi lama banget, gue kira lu ketiduran kaya’ biasanya.” kilahku sambil bercanda.
“Hehe lucu,” katanya masih kesal .
Aku tidak banyak berkomentar lagi, lagipula aku sudah bosan menggodanya. Kutarik tangannya cepat, karena upacara akan segera dimulai. Dia masih bersungut-sungut marah, tapi aku tidak peduli. Kami langsung berada dibarisan paling pinggir lapangan. 5 langkah dari barisan kami, adalah barisan siswa laki-laki -tapi jangan kalian kira aku senang atau aku sengaja mejeng di barisan paling pinggir-, justru aku merasa risih. Jika bukan karena aku telat, aku tidak sudi untuk berada di barisan ini.
upacara pun dimulai, -kalian pasti tau bahwa upacara adalah rutinitas yang sangat membosankan- satu jam pun berlalu, upacara telah selesai.
“Adis,” seseorang memanggilku,
aku menoleh kebelakang. oh ternyata Miss Aurora, aku menghampirinya.
“kenapa Miss?” tanyaku sopan,
“kamu nanti jam istirahat ke ruangan saya yah, saya mau ngomongin soal lomba debat bahasa inggris di SMA 33 rabu nanti.” perintahnya.
“baik Miss.” jawabku tenang. dan setelah itu aku bergegas ke kelas.

YOU ARE READING
Hujan Kenangan
Teen FictionCerita ini menceritakan tentang cinta, harapan, dan kenangan-kenangan para pencintanya . . .