Baru saja ku menulis tentangnya, tak kusangka ada rasa yang menyesakkan dada ketika aku melihat hal itu, ada tetes yang benar-benar dibenci ketika tetes itu jatuh, semudah itukkah dia pergi? Semudah itukkah dia mengubur semua kenangan ini? Semudah itukah dia melupakan kisah ini? Aku yang salah langkah, sejak 2 tahun silam, kini ku mulai lagi langkah salah itu, tapi berbeda kali ini jauh lebih menyakitkan,jauh lebih menyesakkan, aku yang sudah terlalu jauh denganya, aku yang sudah terlalu rapuh ketika tidak bersamanya.
Wajarkah aku mengatakan bahwa dia manusia yang kejam, manusia yang membunuh dengan perlahan, bukan secara fisik, tapi secara batin.
Tidak berpikirkah dia? Tidak ada rasa bersalahkah dia? Mematahkan hati seorang wanita yang dengan bodohnya mau dipatahkan oleh hati yang sama berulang kali. Seorang wanita yang mau menerima kembali setelah hatinya sudah hampir mati, tapi setelah hati itu sembuh dia mau menerima kepulangan hati yang sudah mematahkanya dulu dan kini dia patah lagi, hatinya sudah tak lagi hampir mati. Tapi sudah mati.
Aku muak, aku benci ketika orang bilang " dia itu orang baik". Bukan aku membabi buta mata dan pikiranku untuk melupakan kebaikanya, tapi sungguh kekejamnya melewati batas kesakitan. Mungkin kelak aku akan terbiasa, mungkin benar aku hanya belum terbiasa tanpanya, belum terbiasa tanpa pesan singkat maupun suara dering telpon darinya.
Untuk aku, kuatlah kamu, jangan menolak banyak hati karena mempertahankan satu hati yang sudah tak mau menetap lagi.
Weleri, 16 Maret 2020
Ingatkan aku untuk tak lagi pulang bersamanya lagi, meski aku tak tahu kelak hatiku masih saja untuknya ataupun tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Apa Apa
Teen FictionHanya sebuah tulisan cengeng, yang ditulis hanya untuk meluapkan setiap hal yang sulit diungkapkan dalam hidup. Melegakan itu yang kurasa setiap aku mengutarakan apa yang ada.
