"Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya. Namun, kebahagiaan akan menghampiri mereka yang terus bersyukur atas nikmat-Nya."
"Kepiye kabar cah wedoke bapak iki?"
Suara berat dengan aksen Jawanya itu mengalihkan atensi kedua insan yang masih terbilang salah tingkah. Wajahnya masih tetap awet muda walau usianya hampir menginjak 38 tahun. Tubuh kekar yang berbalut kemeja biru laut dengan celana jeans hitam sontak membuat wajah rupawannya semakin terasa.
"Papa!" Aura memekik histeris, merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut dekapan hangat oleh sang papa. "Papa, Rara kangen."
Pak Reza mengurai pelukannya, kemudian menyentil hidung Aura dengan gemas. "Papa tahu, makanya papa pulang langsung ke rumah sakit buat jenguk Rara." Rara, panggilan kesayangan dari papanya itu selalu Aura rindukan, tetapi jarang ia dengar.
Selama ini, Pak Reza lebih dominan berada di Semarang, tempat kelahirannya. Perusahaan pertama yang didirikannya pun berada di Semarang membuat Pak Reza sering bolak-balik Semarang-Jakarta. Mengapa tidak tinggal saja di Semarang? Pertanyaan itu sempat terlintas di pikirannya, tetapi mertuanya sangat bersikeras agar cucunya tinggal di Jakarta saja agar tidak ndeso, katanya.
Sayangnya, belum genap Aura berusia enam tahun, mertuanya meninggal karena penyakit jantung. Saat itu Aura kecil yang tengah bermain bola di taman terserempet motor, terjatuh mengenai trotoar jalan.
"Pa, masalah di garment udah selesai?" Pak Reza sedikit terlonjak, memfokuskan pandangannya kembali pada anak gadisnya.
"Sudah, kok. Waktu itu ada pekerja yang lalai meletakan kain yang berbeda dalam satu tempat jadinya warnanya sedikit luntur." Pak Reza tersenyum, mengacak surai Aura lembut. "Tetapi, sekarang mereka lebih berhati-hati."
"Mas, di ruangan ini ada orang lain, loh. Kalian sibuk sendiri." Bu Mala menyeletuk dan pernyataannya sontak membuat Pak Reza kaget. Eh? Ada orang lain? Pak Reza buru-buru mengalihkan pandangannya pada Bara, sedangkan Bara yang sudah berdiri sejak tadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tersenyum kikuk.
Pak Reza menatap Bara menyelidik. Ia lebih mendekat, menatap cowok itu lamat-lamat. Tampan. Satu kata yang pertama terlintas di pikirannya. Rambut ditata ala idol Korea lengkap dengan poni yang menambah kesan manis. Sepasang mata elangnya yang tajam dan alis yang tebal membuat kesan tegas bagi siapa pun yang melihatnya.
Bara memiliki hidung yang mancung dan juga bibir merah gelap yang sungguh menggemaskan. Didukung oleh tubuh tinggi tegap, bahu yang lebar, serta kaki jenjang, pesonanya sungguh tidak terbantahkan.
"Kamu itu yang namanya Delon?" Senyum Bara langsung memudar. Pikirannya langsung berkelana. Sedekat apa Delon dan Aura hingga papanya saja mengira bahwa dirinya cowok menyebalkan itu?
"Bukan, Pa. Dia itu Kak Bara, cowok yang menyelamatkan Aura saat diculik."
"A-ah, maaf. Saya kira kamu Delon yang dekat dengan anak saya." Pak Reza berujar, tangannya menepuk bahu Bara beberapa kali disertai kekehan kecil yang terlontar. Bara berusaha mengulas senyum, namun terkesan mengerikan karena robek di sudut bibirnya ikut tertarik.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Gema azan Magrib berkumandang dengan lantang, menyita perhatian para pengunjung rumah sakit. Bu Mala tersenyum, ia mendekat pada Bara dan mengacak surai legam itu dengan gemas. Sejak pertama kali menatap Bara saat mengantarkan Aura pulang dulu, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Bara sebaik ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH YOU | END
Teen Fiction[NEW VERSION || COMPLETED] [SCHOOL | FRIENDZONE] Rate: (13+) Kepada kamu. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh terlalu dalam. Menyisakan ruang sesak yang perlahan menggerogoti jiwa dan raga. Bagaimana aku sebodoh itu? Mencintaimu yang justru sika...
