Seperti biasanya, Rain dan sahabatnya mengisi waktu istirahat mereka untuk sarapan dikantin. Sedari tadi Rain tidak tenang saat makan, matanya terus saja mencari gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.
"Lo kenapa sih? Dari tadi kayak cacing kepanasan mulu?" Tanya Alka yang heran dengan sikap Rain yang tidak tenang bahkan saat sudah selesai makan.
"Gue nyari dia." Jawab Rain, matanya tak lepas dari pintu masuk kantin berharap gadis itu muncul.
"Nyari siapa?" Giliran Gibran yang bertanya.
"Kathira." Jawab Rain.
Ya, Rain memang sudah menceritakan kepada Gibran dan Alka bagaimana ia bisa kenal dengan Thira.
"Caelah, palingan dia kagak ngantin. Soalnya gue denger-denger nih ye, Thira itu orangnya jarang kekantin. Bahkan gak pernah kekantin, mungkin kemarin itu pertama kali dia kekantin." Ucap Alka memberitahu.
"Kenapa?" Tanya Rain bingung.
"Ye mana gue tau." Jawab Alka. Rain dan Gibran hanya manggut-manggut.
"Tumben lo nyariin dia." Ucap Gibran. Rain hanya mengendikkan bahu.
"Lo tau kelas dia?" Tanya Rain pada Gibran dan Alka. Namun, mereka berdua hanya menjawab dengan gelengan.
***
Saat jam pulang, Rain sengaja menunggu diparkiran. Ia hanya ingin melihat wajah gadis itu karna sedari pagi tadi ia tak melihat batang hidung gadis itu.
"Mungkin dia ga datang." Ucap Alka. Lihatlah gaya anak itu, menyandar pada motor ninjanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada siswi-siswi cantik yang lewat, mungkin anak ekstrakulikuler.
"Iya, mungkin dia ga datang. Udah setengah jam kita nungguin." Ucap Gibran setelah melirik arloji yang melingkari tangan kirinya.
"Apa dia sakit?" Tanya Rain.
"Maybe." Jawab Gibran dan Alka bersamaan.
Rain menghela napas lelah. Ia tak tahu keberadaan gadis itu. Jika memang gadis itu sakit, ia ingin menjenguknya. Sayangnya, ia tak tahu alamat rumah gadis itu.
***
"Pah..bukain pahh.." Entah sudah pukul berapa, Thira masih dikurung didalam gudang ini. Thira selalu meminta untuk dibukakan pintu. Tapi, bagai mayat hidup, keluarganya bahkan tak menghiraukannya.
Cklek
Pintu terbuka, Thira segera bangkit dengan sekuat tenaganya.
"Pah Thira mohon jangan kurung Thira disini lagi pah. Thira mohon." Ucap Thira seraya menyatukan kedua telapak tangannya memohon.
"Saya masih berbaik hati pada kamu. Keluar kamu!" Ucapan dingin dari Kevin mampu membuat Thira merinding. Thira keluar dari gudang tersebut.
"Makasih pah." Ucap Thira. Kevin berlalu meninggakan Thira tanpa membalas ucapan gadis itu.
Thira tersenyum getir. Jangankan untuk menjawab ucapan terimakasihnya, bahkan papanya saja tidak meliriknya.
"Sebenci itu papa sama Thira? Thira bakalan pergi kok pa, kalau papa yang nyuruh Thira pergi." Gumam gadis itu.
Thira melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia segera membersihkan tubuhnya yang sudah kotor. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur kecil yang ia beli setelah mendapatkan gaji. Lihatlah, bahkan orangtuanya tak memberikannya kasur yang nyaman.
Thira mengambil ponselnya yang ada ditasnya. Ia mulai membuka aplikasi whatsapp, ia mengernyitkan kening melihat ada satu pesan dari nomor yang tidak dikenal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kathira [On Going]
Novela Juvenil----- Kupendam segala rasa sesak, hancur dan putus asa ini. Membuatku ingin mengakhiri segalanya. Kugenggam segala rasa sabar, teguh dan semangat ini. Membuatku ingin membakar semua rasa itu agar berubah menjadi bongkahan rasa dendam yang amat dalam...