Thira berusaha memfokuskan dirinya pada Pak Burhan yang sedang mengajar tanpa memperdulikan tatapan makhluk yang ada disampingnya. Siapa lagi kalau bukan Parka.
Thira menghembuskan napasnya lelah. Sekeras apapun dirinya untuk fokus belajar, tetap saja pelajaran itu tak akan masuk diotaknya. Ia juga ingin pintar seperti anak-anak lain. Ia juga ingin mendapatkan ranking 10 besar seperti anak-anak lain. Dan ia juga ingin mendapatkan juara 1 seperti adiknya, Alfa.Jika kalian tanya ranking berapa Thira dikelas, jawabannya adalah tidak tahu. Karna setiap penerimaan raport Thira yang walinya Bibi Sri, tak ada tertulis ranking yang didapatkan. Ranking yang ditulis hanya ranking 10 besar. Terkadang Thira selalu berpikir 'Pasti aku ranking bawah.' setiap melihat rankingnya yang tak ditulis.
Setiap menerima raport, Thira selalu sabar melihat teman-temannya yang mendapatkan 10 besar dan ia iri dengan pelukan yang diberikan orangtua mareka pada teman-temannya. Terkadang ia selalu membayangkan jika ia yang ada diposisi mereka. Mendapatkan ranking, pelukan, dan ciuman. Tapi ia sadar, bahwa itu hanya khayalannya saja.
"Kenapa?" Thira menolehkan kepalanya kearah Parka yang bertanya, lalu menggeleng.
"Gue bosen." Ucap Parka sambil menyandarkan kepalanya pada meja, menghadap Thira.
"Lo kok diem sih? Kita bicara kek, apa kek." Thira menoleh mendengar ucapan Parka. Lalu menggeleng lagi, menjawab ucapan Parka.
"Ck! Ngomong dong! Masa cuma geleng!" Geram Parka.
"Enggak." Ucap Thira.
Parka menghembuskan napasnya. Tak habis pikir ada manusia sedingin ini, cewek pula.
"Sampai disini pembelajaran kita. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Pak Burhan lalu meninggalkan kelas saat siswa sudah menjawab salamnya.
Thira segera menaikkan kembali headphonenya, lalu menenggelamkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya diatas meja.
"Weh! Kantin ayo! Kenapa sih ga mau kekantin? Dari pada disini, dengerin headphone terus. Gak bosen apa?" Cerocos Parka.
"Weh!" Ucap Parka lagi sambil menepuk bahu Thira yang langsung ditepis oleh gadis itu.
Thira mengangkat kepalanya menghadap Parka. Lalu menaikkan sedikit headphonenya,
"Kamu ngomong sama aku?" Tanya Thira.Parka meremas tangannya sendiri didepan wajah Thira, gemas.
"Iya! Gue ngomong sama lo!" Ucap Parka tegas lalu mengelus dada, sabar.
"A-aku gak kekantin. Kamu aja." Ucap Thira sambil kembali memasang headphonenya dan tidur.
"Waduh! Parah ni anak." Gumam Parka menggelengkan kepalanya. Seketika, terbesit ide jahil diotaknya.
Parka mengambil headphone Thira lalu mengangkatnya keatas.
"Balikin!"
"Balikin!" Ucap Parka meniru bicara Thira sambil menggoyangkan pinggulnya meniru gaya bencong tepi jalan yang kecopetan.
"Balikin Parka!" Ucap Thira sambil meloncat menggapai headphonenya.
"Balikin Parka!" Tiru Parka lagi.
"Enggak akan gue balikin sebelum lo ikut ke kantin sama gue!" Sambungnya.
"Gak mau!" Tolak Thira.
"Yaudah barang kesayangan lo ini ga bakal gue balikin." Ancam Parka sambil menggoda Thira dengan menggoyang-goyangkan headphone gadis itu diatas.
"Aku punya salah apa sih sama kamu?" Tanya Thira sambil menunduk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kathira [On Going]
أدب المراهقين----- Kupendam segala rasa sesak, hancur dan putus asa ini. Membuatku ingin mengakhiri segalanya. Kugenggam segala rasa sabar, teguh dan semangat ini. Membuatku ingin membakar semua rasa itu agar berubah menjadi bongkahan rasa dendam yang amat dalam...