5′

270 7 0
                                    

"Tambah lagi sayang, makan yang banyak ya." ucap mommy lembut.

Flashback off.

"Hey, kok ngelamun?" ucap Mark sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sevara karena daritadi Sevara melamun.

"Hng? Kita dimana?" dia melihat sekeliling.

Pantai.

Seingatnya tadi Mark mau langsung pulang. Pikirnya.

"Makanya jangan ngelamun." sambil ngusak pelan rambut Sevara."Turun yuk."

Sevara nurut dan ikut turun.

"Ngapain ajak aku kesini? Bukannya tadi katanya langsung pulang aja?" tanyanya heran.

"Ya mau aja, kita juga udah lama ga ke pantai."

Mereka duduk di pasir menikmati hembusan angin dan menatap gelombang air laut.

"Lagian, i miss this moment. When we go to the beach together and spent our time for waiting the sunset. You lean on my shoulder, and i hug you from the back." Mark menatap Sevara yang berada di sampingnya, menatapnya dalam.

"Yeah.. Me too." ucap Sevara sambil tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya ke arah depan.

Mark masih menatap gadis yang berada di sampingnya ini, menatap sisi samping wajah dari gadis yang sedang bersamanya ini.

Hening, hanya terdengar suara ombak dan angin yang menerpa wajah mereka.

"You know what? I always remember the memories in canada with you. Yang kamu pertama kali nyamperin aku di taman, terus ngajak aku ke rumah dan ketemu sama mom and dad." ucap Sevara memecah keheningan setelah beberapa menit sambil menyunggingkan senyum tipis.

"Aku ga nyangka aku bakalan punya teman. Sewaktu aku kecil aku selalu terasingkan. Kadang aku bertanya-tanya sama yang di atas, kenapa aku berbeda dengan saudaraku? Kak Johnny kulitnya ga hitem kayak dulu waktu aku kecil, ga gendut juga, malah kebalikannya. Cuman aku, cuman di keluargaku aku sendiri yang beda."

"Tapi sekarang kamu udah cantik babe, ga kayak dulu lagi. Kamu udah ngelewatin masa-masa sulit itu kan."

"Yaiya emang udah ga kayak dulu lagi, tapi sekarang aku masih ngerasa gimana gitu kalau di puji orang, aku ngerasa ga pantes aja buat di puji."

"Hey, listen to me. You did well until now babe. Kamu udah bekerja keras ngubah penampilan kamu kayak yang orang mau kan? Harusnya kamu bangga di puji. You deserve that. Ya walau aku suka kesel sama kamu kenapa harus ngikutin standar orang."

"Kamu ga ngerti Mark. Orang ga suka penampilan yang berbeda dari mereka, walaupun ga semua."

"Contohnya orang kayak aku kan?" ucap Mark percaya diri.

Sevara tertawa pelan, "iya, anak kecil yang narik aku seenaknya ke rumahnya."

Sevara bersandar di bahu Mark. Dan seperti biasanya, Mark merangkul pundak Sevara.

"You know, babe? You are the special person that i ever met. You strong, You really great at being able to fight it all. If i were you, i dont think i can do the same way like you."

"No, because of you i also can survive all this time. thanks a lot, Mark. Udah jadi sahabatku sampe sekarang."

Sevara memeluk Mark dari samping, bersandar di bahu lelaki itu dan Mark juga tetap merangkulnya, mengeratkan rangkulan itu agar Sevara semakin dekat dengannya dan mendaratkan kecupan di pucuk kepala Sevara.

"Mark, aku belum keramas.."

Setelah itu hening.

"Kok gak bilang?!" pekik Mark setelah beberapa detik tersadar akan ucapan Sevara.

insecure.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang