Namaku Jung y/n. Aku adalah seorang mahasiswi di universitas terkenal di kota seoul. Aku memiliki sebuah rahasia.
Jadi, aku memiliki kehidupan yang sempurna. Keluargaku kaya, dan ayahku adalah orang yang sangat baik hati. Walaupun dia memiliki perusahaan yang banyak dia tidak pernah menyombongkan dirinya.
Semua orang berkata padaku, "hidup mu sempurna" "Kau terlahir sempurna". Aku sungguh sangat bosan dan membenci kata2 itu. Karna, nyatanya yang aku alami tidak sesempurna yang mereka lihat.
Aku memang memiliki keluarga yang bahagia, kehidupan yang sangat cukup, dan di hadiahi otak yang cerdas. Namun, kenapa kehidupan percintaanku bagaikan mimpi buruk yang tidak ada hentinya?
Bahkan membuat aku tidak ingin bangun dari tidurku setiap paginya, kegelisahaan dan rasa bersalah menyelimutiku. Namun begitu, cinta sungguh membuat orang bodoh sehingga aku tidak bisa mengakhirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia adalah Kun. Dosen sekaligus namjachingu ku. Kami sudah berpacaran selama 1 tahun.
Kalian pasti bertanya kenapa aku merasa tidak sempurna di kehidupan percintaanku?
Karna aku adalah wanita simpanannya.
Itu salah aku tahu yang aku lakukan adalah kesalahan dan tidak pantas dimaafkan. Namun, apalah daya perasaanku sungguh tidak bisa disalahkan.
Dia sudah menikah dengan istrinya selama 3 tahun karna sebuah perjodohan keluarga.
Namun, apa yang sangat membuatku merasa bersalah?
Itu karna, istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka. Begitu mendengar kabar itu darinya, aku sangat kehabisan kata2. Aku sedikit senang mengingat ia sangat mengharapkan sebuah anak.
Namun tetap saja rasa kesedihan menyelimutiku. Rasa bersalah menghantuiku seakan memaksaku untuk mengakhiri ini semua.
Diwaktu itu, aku sudah mengatakan kepadanya bahwa ini adalah hubungan yang salah, namun sekali lagi, aku luluh dihadapannya.
Di suatu sisi aku merasa sangat bersalah namun, disuatu sisi aku ingin menjadikannya seutuhnya jadi milikku.
Hubungan kami memang sangat rahasia. Ah untungnya, aku tidak tinggal serumah dengan orangtuaku dengan alasan jauh dari universitas. Ayahku akhirnya mengizinkan anaknya tinggal sendiri.
Drrrrtrt' *suara telpon
"Eoh, oppa. Waeyo?"
"Apakah kau sudah sarapan? Ingin makan bersama? Aku ingin ke apartmen mu"
"Kau berangkat sepagi ini? Apakah istrimu tidak melarang?"
"Aku mengatakan kalau aku harus menyiapkan materi pembelajaran jadinya harus berangkat lebih awal"
"Baiklah, aku tunggu"
Ya. Bulan demi bulan berlalu dan hubungan kami tetap sama, kun mengenalku dari jaman SMA, ia adalah kaka kelasku kita hanya beda 2 tahun namun ia menjadi dosen karna setelah lulus ia di rekrut sebuah universitas dan lulus hanya 1 tahun karna ia adalah seseorang yang sangat pintar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku memang sangat menyukainya sedari dulu, namun, ia baru me notice ku saat sudah beristri,tcih.
Kun dan aku memiliki banyak persamaan. Seperti, kami menghabiskan waktu kami berdua dengan memasak bersama hingga, melukis bersama.
Tentu dia sangat baik dan menghormatiku sebagai wanita yang membuat aku tidak ingin melepasnya. Jika saja seharusnya aku lebih dulu menyatakan perasaanku, mungkin yang akan memilikinya saat ini adalah aku.
Ini cukup sedih bagiku mengingat aku tidak akan pernah bisa menjadi lebih baginya. Walaupun kami pacaran, kami tidak melakukan hal2 yang diluar dugaan karna aku masih menghargai istrinya.
Maaf, mungkin ini terdengar bodoh aku tahu aku tetap salah karna sudah memacari suami orang yang sebentar lagi jadi seorang ayah.
Namun, jika boleh jujur, aku sungguh mencintainya walaupun aku tidak bisa memilikinya. Tapi itu tidak apa2.
Aku memang orang yang egois. Namun, aku tidak pernah berkeinginan untuk merebutnya. Seperti ini saja sudah sangat cukup untukku. Aku hanya ingin berbagi waktu ku oleh orang yang benar2 aku cintai.
"Bagaimana harimu oppa?"
"Kau tahu? Anak pertamaku adalah laki2. Aku sangat bahagia mendengar itu dari dokter, sepertinya dia bayi yang besar"
"Jinjja? Waah, kau pasti sangat tidak sabar melihatnya"
"Iya kau benar"
Pembicaraan yang membuatku sedikit bahagia itu bukan karna kehidupanmu tetapi karna aku bisa melihat senyummu dan tawamu membicarakan 'mereka'.
Aku tidak bohong kalau aku tidak sedih, namun aku hisa menerima itu, aku tidak apa2 jika ia merasakan bahagia.
Namun, aku rasa ini juga ada akhirnya. Sebuah cerita pasti memiliki ending bukan?
Entah itu ending yang bahagia atau sedih, namun pasti cerita itu akan berakhir.
Kau benar. Ceritaku berakhir saat mengetahui aku akan dijodohkan oleh anak dari teman ayahku. Aku tahu hubungan kami akan berakhir.
Dan dimalam itu, hari ulangtahun ku,
"Oppa, ada yang harus ku katakan"
"Apa itu?"
"Mari kita berpisah. Terimakasih sudah datang di kehidupanku dan membuat hari2 ku terasa bahagia. Maaf jika aku adalah hal yang negative bagi keluargamu."
"Oppa, kau harus berjanji padaku, kau harus bahagia, hiduplah bahagia, janjilah bahwa aku adalah yang terakhir. Jangan jadi penghianat untuk istrimu lagi ya? Dia orang yang baik"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memilikimu adalah sebuah kebahagiaan untukku, aku berterimakasih dengan takdir sekaligus membencinya di waktu yang sama, karena keberadaan cinta kita itu adalah sebuah bencana untuk orang lain.