WARN : THIS BOOK CONTAINS MATURE CONTENT THAT IS NOT SUITABLE FOR SOME AUDIENCES. PLEASE BE A WISE READER.
©BB922020
_____________________________________
"Sehun belum juga pulang ke rumah. Ini sudah hari ke empat."
Chanyeol menghela napas kasar seraya memberikan kantung belanjaan kepada pelayan rumah. Pria itu melonggarkan dasi kemudian beralih menatap sang adik yang duduk di sofa sambil mengusap perut dengan wajah sedih.
Tak terasa kehamilan Luhan kini sudah menginjak bulan ke lima sehingga perutnya mulai terlihat membesar. Akhir-akhir ini lelaki itu juga sering merasa pegal di sekujur tubuh terutama di bagian pinggang dan kaki, menandakan bahwa bobot tubuhnya bertambah semakin berat.
"Aku akan mengurusnya." Kata Chanyeol.
Luhan mengangguk kecil tanpa semangat.
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke sekitar. Keadaan rumah tampak tenang dan nyaman dengan seorang pelayan yang selalu menemani serta memenuhi kebutuhan Luhan. Seharusnya Chanyeol tak perlu merasa khawatir. Ya, jika seandainya saja Luhan tidak terlihat murung dan jauh dari harapan Chanyeol terhadap pernikahan lelaki itu.
Hal ini terus mengganggu dan membuat Chanyeol berpikir bahwa tindakannya menyetujui keinginan Luhan menikahi Sehun adalah kesalahan. Sangat menghancurkan hatinya harus mendapati Luhan bersedih sepanjang hari di apartment yang sunyi. Hanya sendirian.
"Luhan, katakan padaku.. apa kau bahagia?"
Pertanyaan mendadak itu membuat tubuh Luhan menegang. Andai tatapan matanya mampu mengatakan dengan baik seberapa banyak luka yang ia pendam, mungkin Luhan tak perlu sesulit ini membuka mulutnya. Hanya saja Luhan memang tak mau membagi rasa sakit dengan Chanyeol dan membuat pria itu membahas kembali keputusan yang ia buat. Luhan tak ingin Chanyeol bersikap terlalu khawatir padanya.
"Ya.. Aku bahagia, Hyung."
Tetapi seharusnya Luhan sedikit mengulas senyuman sehingga Chanyeol tak akan menyadari kebohongan dibalik kata-kata itu.
"Kuharap kau tidak berbohong, Lu." Gumam Chanyeol.
Luhan menggigit bibir bawah dan menatap perut buncitnya. Semua ini sangatlah menyesakan bagai tenggelam di tengah lautan yang meraup seluruh oksigennya.
Luhan selalu berakhir memasang topeng, berusaha keras memaksakan diri untuk terlihat bahagia di hadapan orang-orang. Sebenarnya ia merasa sangat jauh dari kata bahagia. Sampai saat ini ia belum bisa menemukan di mana letak hati yang Sehun sembunyikan. Ia tak memiliki petunjuk dimana ia bisa menemukan harta karun itu.
"Kau tak perlu khawatir. Aku akan memastikan Sehun pulang ke rumah mulai sekarang."
Luhan hanya balas menatap sendu atas ucapan sang kakak disertai gumaman 'terima kasih' yang halus.
Lihatlah betapa menyedihkannya menjadi seorang Luhan. Bahkan dengan status suami istri yang ia sandang tak menjamin hidupnya berjalan indah. Luhan hanya bisa bergantung pada Chanyeol yang akan selalu melakukan apapun untuknya.
"Keluarlah sesekali dari rumah. Jangan terus mengurung dirimu di sini, Lu." Ucap Chanyeol menasehati.
ㅡ《•••》ㅡ
KAMU SEDANG MEMBACA
L'AMORE
FanfictionCHANBAEK FANFICTION [!!!] WARNING 🔞 MATURE CONTENT. Rated: M (YAOI/M-PREG) Genre: Romance/Drama Summary: Baekhyun tak terima jika kekasihnya harus menikah dengan orang lain, sementara Chanyeol berniat melindungi pernikahan adiknya dari segala macam...
