Hola! I'm back... meskipun gaada yang nunggu kan?
Yaudahlah ya. Akhirnya setelah drama UTS selesai Githa dan Vano kembali!!!
Eh, tapi kayaknya ada yang makin deket tuh. Kok bisa?
Baca sendiri okay, gausah berlama-lama..
Happy Reading!!!
Note: Please don't be a silent readers. Btw, this is the longest part I've ever made. So, I hope u guys enjoy it. Don't forget to vote and comment...
***
"Hati itu terlalu rumit untuk dimengerti, sementara logika terus memukul telak realita. Kenapa harus bertahan jika sudah tahu sakit?"
***
Pagi yang cerah di akhir pekan mulai tampak ditandai dengan matahari yang mulai menyelusup di antara celah tirai kamar seseorang. Membuat si empunya kamar yang masih bergelung di kasur menggeliat menutupi sinar yang dianggapnya mengganggu.
"BANG VANO, MAIN YUK!"
"BANG VANO, ADA YANG BARU NIH!"
"BANG VANO, NUMERO UNO!"
Lelaki yang awalnya terusik dengan sinar matahari itu kini mengerang frustasi. Vano menutupi kepalanya dengan bantal dan mencoba kembali ke alam mimpi. Namun suara gedoran dan teriakan cempreng sang adik membuatnya kesal.
"Berisik lo bantet! Ada apaan sih?!" geram Vano sambil mengacak rambutnya frustasi.
Dengan mata yang masih setengah tertutup, Vano melihat adiknya yang tengah nyengir kuda di depan pintu kamarnya. Vano menatap Kea adiknya dengan tatapan datar andalannya. Sementara Kea masih dengan cengirannya, memilih masuk ke dalam kamar kakak satu-satunya itu.
Vano memutar bola matanya jengah, "Ngapain sih lo dek? Udah minggat sana gue mau tidur lagi."
"Gaboleh! Ini udah mau jam sepuluh tau bang!"
"Ya trus? Lo amnesia hari ini hari apa? Biasanya juga gue keluar pas makan siang," ucap Vano sewot menoyor kepala adiknya yang tengah duduk di sofa kamarnya.
Bukannya kesal, Kea malah senyum-senyum seperti tengah menginginkan sesuatu dari Vano. Vano menaikkan salah satu alisnya bingung, "Kenapa lo senyum-senyum begitu, kesambet?". Kea mendengus sebal.
Kudu sabar emang ngadepin tembok es! Gerutu Kea dalam hati.
Dengan sedikit harapan Vano mau menolongnya. Kea dengan hati-hati mengutarakan tujuannya membangunkan Vano, "Gini loh bang, temen gue ada yang mau main ke rumah."
Dengan sedikit jeda. Vano kembali menaikkan salah satu alisnya, "Ya trus?"
"Ekhem! Maksud gue, mau ya bang jemput Githa. Lo kan tau sendiri kalo ini komplek gede tuh, jemput di pintu timur aja mau ya bang? Kasian Githa nanti kalo jalan kaki jauh," Kea berdehem sambil menjelaskan maksudnya pada Vano.
Vano menoleh cepat setelah mendengar ucapan Kea, "Githa?"
"Iya Githa, lo tau dia kan bang? Gue lagi males keluar, jadi gue pikir mending kerjain tugas di rumah. Dia juga baru jalan kok katanya naik ojek online, jadi lo bisa mandi dulu."
Vano mengangguk setuju, "Oke, gue mandi dulu sebentar."
"Serius?" Tanya Kea memastikan, takut-takut saja kakaknya balas dendam bercanda hanya karena dibangunkan dari tidur kebonya.
"Iya, brisik lo bantet. Udah sono keluar gue mau mandi!"
Tumben banget, biasanya kalo weekend gini mau dibujuk pake kaset PS4 kesukaan dia juga gak bakal mau. Heran Kea

YOU ARE READING
Si Vis Amari Ama
Teen FictionBenang yang mengikatmu lebih dari takdir ini, bagaimana akhir dari simpulnya? Akankah ada akhir bahagia, untuk dirimu yang pernah ditinggalkan dan takut ditinggalkan? Kisah ini terlalu rumit untuk hanya sekedar kisah cinta...