Sebagai mahasiswa perantau, pilihanku hanya menyewa tempat huni atau menumpang hunian saudara. Namun tidak ada saudara yang bisa kutumpangi, jadi aku memutuskan untuk ngekost. Sebuah pilihan yang mau tidak mau harus aku ambil, karena perguruan tinggi tempatku berkuliah, tidak memungkinkan untukku pulang-pergi. Dan ini kali pertamanya aku jauh dari orang tua.
Aku dapat kamar kost yang relatif dekat dengan kampusku. Lokasinya di pinggir jalan besar, jadi akses ke kampus pun mudah. Namun dulu, konon katanya daerah kostanku ini adalah hutan, yang rumornya adalah tempat pembuangan mayat. Mungkin itu sebabnya warga sini rutin membakar sajen dan menyan setiap malam Jum'at. Aku kurang paham dengan hal seperti itu. Tapi yang kutahu, itu semacam ritual untuk menghormati arwah yang menetap di sini.
Sebagai catatan, aku bukan indigo, bukan juga pemberani.
Aku sudah mulai tidak nyaman dengan hawa kostan ku ini, ini baru bulan ke duaku di sini. Meski bagaimanapun aku menata ulang dan membesihkan kamarku ini, aku tetap tidak nyaman. Seringkali aku malah menumpang di kostan temanku, perempuan, dan satu frekuensi obrolan denganku. Satu bulan adalah waktu yang cukup untukku, mendapatkan beberapa teman di tempat baruku ini. Ingin rasanya pindah kost, tapi orang tuaku sudah melunasi biaya sewa kamar kostku untuk setahun ke depan. Aku cuma berharap temanku tidak masalah jika aku terus-terusan ke tempat mereka. Bahkan jika menginap setiap hari.
Hari ini perkuliahan selesai jam 2 siang. Rasanya lelah sekali, belum lagi hari sedang panas-panasnya. Aku ingin istirahat, sekedar tidur siang. Aku bertaruh temanku tak akan protes jika aku menumpang untuk tidur siang. Namun, aku merasa tak enak karena setiap malam aku tidur ditempatnya. Sewaktu-waktu dia pasti ingin sendiri, tanpa adanya interupsi dari manapun.
Terpaksa aku memberanikan diri untuk pulang ke kostanku. Kostan khusus perempuan, dua lantai dengan total tiga belas kamar. Dan tiga kamar mandi. Aku naik ke lantai dua, ke kamarku yang berada paling ujung. Aku bahkan tidak suka dengan hawa lorongnya. Sepi, menakutkan, padahal ini masih siang. Kita bisa mendengar suara langkah kaki pada lantai kayu dari setiap kamar jika ada orang yang lewat di lorong, bahkan dengan langkah yang pelan. Aku masuk ke kamarku, menyimpan tas dan membuang diriku ke kasur. Aku mencoba memejamkan mataku dengan kondisi yang tidak tenang, gelisah. Dalam kondisi mata terpejam, namun belum benar-benar hilang kesadaran. Aku merasa seperti sedang diperhatikan, rasanya sangat tidak nyaman. Lalu aku membuka mata, berniat mengecek kondisi sekitar.
Benar saja, aku sedang diperhatikan. Tepat di atas kepalaku, sekarang ada wajah perempuan. Hanya berjarak satu jengkal dari wajahku. Rambutnya panjang, jatuh menutupi sisi kiri dan kanan wajahku. Aku tidak bisa melihat apa-apa selain wajah itu. Perempuan itu tersenyum padaku, terlihat gigi-giginya yang tajam. Namun senyumnya terlalu lebar, lebar sekali. Aku terpaku, tubuhku ini rasanya seperti mati rasa. Satu-satunya yang masih bisa kukendalikan adalah mataku. Sontak aku menutup mataku, dan membaca doa yang aku tahu, dengan harapan bisa mengusir makhluk ini. Perlahan aku mulai tenang dan membuka mataku, makhluk itu sudah pergi. Tidak berpikir lama, aku langsung keluar dari kamar ini.
Kamar mengerikan ini.
Beberapa bulan kemudian. Aku tidak lagi takut, karena tiga teman dekatku pindah ke sini, secara bertahap. Mengisi tiga kamar lain yang ada di lantai dua ini. Namun sama halnya denganku, teman-temanku sering mendapat gangguan. Mulai dari gangguan suara-suara aneh, hawa yang tidak enak, hingga penampakan yang menyerupai orang yang kita kenal. Aku? Salah satu yang mereka tirukan. Sempat aku ceritakan semua pengalamanku ini pada almarhum Kakekku. Beliau bilang bahwa semua gangguan itu, tidak lain dan tidak bukan karena mereka ingin berkenalan denganku.
Sayangnya aku tak mau.
Narasumber: _reginasara
KAMU SEDANG MEMBACA
GHOSTBUMPS
HorrorKumpulan kisah pengalaman supranatural dari berbagai narasumber yang dinarasikan kembali dari sudut pandang orang pertama. Dikurasi oleh asperarga.
