Cerita 6 - Bioskop

29 1 0
                                        

Putih abu-abu, seragam khas yang akan mulai kupakai selama 3 tahun ke depan. Sekarang aku adalah seorang siswi SMA. Bertemu lingkungan baru, teman baru, dan kisah baru.

Singkat cerita, aku sudah memiliki beberapa teman baru. Sabtu ini, aku diajak oleh salah seorang temanku, dia mengajakku menonton sebuah film layar lebar, di bioskop tentunya. Aku mengiyakan, atas dasar pertemanan. Sampailah kami di Bioskop ini, satu-satunya bioskop yang ada di daerah tempat tinggalku. Bisa dibilang, bioskop pertama di sini. Melihatnya dari luar, sepertinya bangunan ini tidak terlalu diperhatikan. Namun, adanya bioskop saja sudah cukup untuk hiburan masyarakat di sini.

Temanku membeli tiket, aku menunggu. Loket tempat pembelian tiketnya sama persis seperti loket di stasiun. Belum lagi, di sini terbilang gelap, seperti kurang pencahayaan. Benar-benar seadanya, aku bertaruh bioskop di masa depan akan jauh lebih baik dari yang ini. Lalu temanku kembali membawa 2 tiket. Aku tidak tahu sebelumnya film apa yang akan kami tonton. Namun, film yang dia pilih adalah film horor Indonesia.

Ya, tentu saja film horor.

Kami masuk ke dalam studio saat film sudah dimulai beberapa menit, jadi lampu ruangan bioskop sudah mati. Tempat duduk yang temanku pilih ada di bagian sebelah kiri, barisan atas namun bukan paling atas. Saat berjalan ke atas, aku melihat bagian sebelah kanan kosong, hampir tidak ada yang duduk kecuali beberapa orang di barisan paling atas. Di bagian kiri pun hanya beberapa orang. Kuhitung mungkin di dalam ruangan ini hanya berisi tidak lebih dari 10 orang, termasuk kami berdua.

"Sepi sekali bioskop ini." Pikirku dalam hati.

Kami duduk di tempat yang telah kami pesan. Kami mulai menonton film. Di pertengahan film, aku mulai bosan dengan alur cerita film ini, apalagi dijejali dengan adegan-adegan seksi yang tak perlu. Jadi sesekali aku melihat ke bangku-bangku kosong yang ada di depanku, tidak ada orang. Lanjut menengok ke bagian kanan depan. Anehnya, sekarang aku melihat seorang wanita duduk di sana, sendirian. Aku mengucek mataku dan melihatnya lagi untuk memastikan. Memang ada, dia menggunakan pakaian biasa. Samar karena gelap, tapi aku bisa dengan jelas melihat pita di bagian punggungnya.

"Apa dia tadi menunduk ya? Jadi aku tidak melihatnya saat naik. Atau dia baru datang? Tapi aku tidak melihatnya masuk." Beberapa pertanyaan muncul dalam kepalaku.

Sekarang, fokusku teralihkan. Aku jadi semakin sering melihat ke arah wanita itu duduk. Tapi, ada yang aneh dari cara duduknya. Dia duduk sangat tegak, tidak membungkuk, tidak bersandar. Posturnya hampir seperti patung, tidak ada gerakan sama sekali. Dan berkali-kali aku perhatikan, sedari tadi juga aku memastikan sambil bertanya-tanya.

"Kemana kepalanya?"

Aku ketakutan sendirian. Ruangan bioskop ini cukup dingin tapi aku mulai berkeringat. Pandanganku selalu saja ingin memeriksa ke arah wanita itu, untuk memastikan apakah yang aku lihat itu hanya halusinasi atau bukan. Namun, semakin aku memperhatikan, rasanya semakin menyeramkan. Lebih menyeramkan daripada melihatnya dengan kepala dan menengok ke arahku.

"Kenapa, Vi?" Tanya temanku yang mungkin menyadari ada yang aneh dengan tingkah lakuku.

"Ah, gak apa-apa ko." Jawabku gugup. "Lanjut nonton aja."

Waktu dan film ini terasa sangat lama untukku. Dan wanita tanpa kepala itu masih di sana, sama sekali tidak bergerak. Sampai akhirnya film ini berakhir, aku masih tetap memperhatikannya. Namun sekarang jantungku rasanya seperti mau lepas. Saat film berakhir dan lampu ruangan bioskop ini dinyalakan, sosok itu mengilang. Tepat di depan mataku, seketika menghilang saat adanya cahaya. Tidak banyak berpikir aku keluar dari barisan tempat dudukku, aku lari ke bawah tanpa melihat ke kanan. Temanku mengejarku, dia nampak keanehan. Lagi-lagi dia bertanya namun aku enggan menjawabnya. Sekali lagi aku mengecek ke arah tempat duduk wanita itu dari bawah sebelum keluar.

Dia memang tidak ada.

Narasumber: kiyovi

GHOSTBUMPSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang