[Bagian 5] - Siksa

75 17 67
                                    

Apa kabar guys?
Sejauh ini, kalian suka nggak sama ceritanya?

PENTING!
[ Segala tindakan dan kata umpatan kasar hanya untuk mendramatisir. TIDAK UNTUK DITIRU. HARAP PEMBACA BIJAK MENYIKAPINYA. Terima kasih ]

 Terima kasih ]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

|| Siksa ||

Tubuhku menggigil meski dua selimut tebal sudah sempurna melingkupi. Tirai kamar sudah tersibak membuat sinar surya berlomba-lomba masuk ke kamarku. Berkali-kali aku berdecak kesal mengingat hal yang membuatku demam hari ini. Kemarin, setelah tidak sengaja bertemu Jendra, tiba-tiba hujan deras mengguyur hingga petang yang akhirnya aku terobos. Sedari tadi kepalaku berdenyut nyeri, hidungku tersumbat, dan mataku seolah dilem. Sayangnya pengingat di ponselku berbunyi. Hari ini ulangan harian, batal sudah rencanaku untuk tidur seharian.

"Yakin mau berangkat, Dek?" tanya Mas Akas ketika melihatku sudah rapi berseragam.

"Iya, Mas. Aku nggak mau susulan, nanti soalnya nyeleneh," ucapku sedikit memaksa supaya Mas Akas mengijinkanku berangkat.

Samar-samar terdengar deru motor melambat. Kurasa ada tamu yang datang. Aku langsung melangkah menuju pintu depan dan memeriksa siapa ya datang. Terlihat seorang laki-laki membelakangiku. Dia tengah membuka helmnya.

"Ya, cari sia—" Orang itu berbalik membuat aku menggantungkan kalimatku tanpa ada niat untuk melanjutkannya.

"Daisy, ada?" tanya orang itu jahil sembari menaik-turunkan alisnya.

"Pertanyaan bodoh!" umpatku dalam hati.

Aku memukul jidatnya pelan membuat sang empunya mengaduh kesakitan. Sejenak ia memelototiku tajam yang kemudian pecah menjadi tawa. Laki-laki itu adalah Ori. Ori yang dengan sigap memegangi tanganku saat akan terjatuh dan Ori yang rela mengantarkanku kemana-mana. Aku sangat bersyukur memilikinya sebagai sahabat.

Tanpa menghiraukan ocehannya, aku kembali masuk ke rumah. Di meja makan sudah tersaji beberapa masakan bibik—panggilan untuk asisten rumah tangga di rumahku. Baunya harum, sayang ... perutku langsung mulas dan tidak berselera makan. Alhasil, aku hanya duduk untuk meminum segelas jus segar di pagi hari.

"Ayok berangkat!" ucapku menarik lengan Ori yang pantatnya hampir menyentuh kursi tetapi urung terjadi. Dia berdecak kesal sembari memasang raut wajah manyun. 

"Sarapan dulu lah," katanya mengeluh.

"Udah buruan kenapa sih?!"

Dari DaisyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang