"Tidak percaya diri bukan berarti menghina ciptaan Tuhan, melainkan itu caraku merespon perkataan kalian." - Dari Daisy yang berbagi kisah untuk perempuan kuat diluar sana.
.
Copyright tiamaqrifah
Cover image from pinterest
🌼🌼🌼
Perhatian!
Cerita...
Oh ya, di part ini ada beberapa dialog dengan bahasa Jawa ya guys.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
|| Penyelesaian ||
"Sh*t! Kemana dua jal*ng itu tadi pergi?!"
Puluhan keringat telah keluar membasahi tubuh Jendra. Seragamnya sudah acak-acakan tak karuan. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia justru semakin genjar mencari kala masih didapatinya mobil Clara di parkiran.
Gudang, kelas, tempat parkir, dan kantin sudah dijamahnya. Hasilnya nihil, tidak ada Clara maupun Meta di sana. Tak kehabisan akal, Jendra berlari di perpustakaan lantai atas, Tempat yang jarang bahkan tak mungkin rasanya untuk mereka berdua.
Brak ...
Semuanya terperanjat ketika Jendra membuka pintu perpustakaan tanpa tata krama. Tak terkecuali dua gadis di pojok ruangan. Tanpa basa basi lagi, Jendra mendatangi kedua gadis itu. Lagi-lagi Jendra menimbulkan kegaduhan dengan menggebrak meja.
"Bangun ...," ucapnya datar. Tak kunjung mendapat jawaban membuat Jendra mengeram kesal. "Gue bilang bangun ya bangun!"
Tak ingin membuang waktu, Jendra akhirnya menyeret paksa kedua gadis itu. Langkah kakinya cepat menuju ruang kepala sekolah. Tindakannya mengundang ketakutan pada Clara dan Meta.
"Hei Jendra, kok belum pulang?" tanya kepala sekolah. Ia sudah menenteng tas hendak pulang dan kebetulan berpapasan di depan ruangan.
"Tindakan bullying rupanya masih terlestari di sekolah ini ya, Pak?" Kepala sekolah membiarkan Jendra meneruskan ucapannya. "Dua siswi bapak ini, hampir membuat anak seseorang kehilangan nyawa di gudang sekolah."
Raut terkejut mendominasi ekspresi kepala sekolah. Clara dan Meta semakin gemetaran di belakang Jendra. Kepala sekolah memberi isyarat supaya mereka bertiga masuk ke dalam. Ia juga memanggil guru bk yang masih ada di sekolah. Setelah diinterogasi, ternyata Clara dan Meta hanya menjawab sekenanya. Oleh sebab itu, mereka berdua kini ditangani intensif oleh Bu Tik sang guru BK.
"Jendra, bisakah bapak minta bukti atas ucapanmu barusan?"
"Cctv. Gudang sekolah berada di belakang laboratorium komputer. Tepat di setiap pojok laboratorium terpasang cctv." Segera, Pak kepala sekolah mengutak-atik komputernya. Terbelalak, terlihat Clara dan Meta menyeret Daisy yang saat itu dalam keadaan setengah sadar.
Samar-samar kudengar suara Mas Akas. Kepalaku pening luar biasa. ketika aku membuka mata, silau lampu langsung menyakiti bola mataku. Bau obat-obatan, tanpa kutanya pasti ini di rumah sakit. Tangan kananku basah dalam genggaman seseorang.