“happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday happy birthday happy birthday to you....”
nyanyian yang selalu Kia dengarkan setiap tahun. Walaupun Kia terlahir dari keluarga yang sederhana, tetapi Risma, ibu Kia selalu mengadakan acara ulangtahun sebagai bentuk ucap syukur atas bertambahnya usia anak semata wayangnya itu.
Kia merupakan anak tunggal dikeluarganya, ayah Kia juga sudah tiada dua tahun yang lalu karena kecelakaan hebat yang mereka alami. Maka pantaslah jika Risma sangat menyanyangi anaknya itu.
“Selamat ya sayang, anak gadis mama udah 18 tahun sekarang” kata Risma sembari memberi pelukan kepada Kia.
“Hee.. iya ma. Sebenarnya mama ga perlu ngadain acara ulangtahun kayak gini si” balas Kia.
Jujur Kia memang tak ingin ulang tahun nya kali ini dirayakan. Kia sudah bosan dengan acara tahunan ini.
Apalagi uang yang dikeluarkan ibunya pasti juga tidak sedikit.
Kia tak tega melihat ibunya banting tulang hanya untuk memberikan kehidupan yang enak untuk dirinya.
Ditambah lagi Kia yang baru lulus tes kedokteran. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan ibunya itu. Kia tak mampu jika harus mengaharapkan beasiswa.
Kia bukan anak yang pendiam dan pintar seperti teman-temannya yang lulus di tes kedokteran, Kia justru anak yang cerewet dan tidak begitu pintar.
Ya, semester kemarin saja Kia masuk di peringkat 21 dari 34 siswa.
Tetapi tekad Kia yang bulat untuk tetap mengikuti tes kedokteran ini yang membuat dirinya yakin dan keberuntunganpun memihak padanya.
“Ih kamu apaan si, mama kan udah bilang, mama bakal ngerayain ulangtahun kamu tiap tahun, mama mau kamu kayak teman-teman kamu, selalu ngerasain ulangtahun yang dirayain”.
Walaupun harus banting tulang, Risma senang karena bisa membahagiakan anaknya itu, ia tak ingin anaknya merasa berbeda karena tak bisa merasakan kebahagiaan seperti teman-temannya.
Cukuplah anaknya tidak memiliki kasih sayang seorang ayah, Risma hanya ingin anaknya bahagia.
“Kia....”
Teriak seorang gadis dari kejauhan sembari memeluk Kia. Kia tak asing akan suara itu, itu adalah Clara, sahabatnya.
“Ih.. apaan si, orang udah tiup lilin juga, dia baru dateng” Kia memutar bola matanya malas.
“Hehe.. maap maap, Rangga tuh lama jemputnya. Lu kan tau sendiri dia kayak gimana”
Clara melepaskan pelukannya dan menatap Rangga yang sedang mengambil sirup diatas meja.
“hm.. iyadeh iya.. tau kok yang baru jadian” goda Kia.
“hahaha... makanya Kia, lu juga cari pacar dong. Gilaksi udah dua tahun juga, masih setia aja lu sama kejomloan hahahhaa....” ejek clara.
Ya, sudah dua tahun Kia masih tidak memiliki pacar. Tak seperti Clara yang sudah bergonta ganti pasangan, Kia justru masih setia dengan kesendiriannya.
“Yee.. kalo ngejek aje lu ye, nomor satu!”. Kia memutar bolamatanya malas.
“Lagian lu sih, padahal cantik, putih, keren, asik, apalagi yang kurang coba, tapi masih aja sendiri hahhaha...” lagi-lagi Clara menggoda sahabatnya.
“ya gue mau juga kali punya pacar, Cuma..” Kia menggantungkan ucapannya.
“Cuma..?” tanya Clara.
“Cuma belum ada yang pas aja” sambung Kia.
“Yee lu mah kebanyakan milih” jawab Clara.
“Ya punya pacar harus dipilih-pilih dulu dong, emang elu, kambing didandanin juga lu mau kan” goda Kia.
"Anjir lu kia hahahaha” mereka pun tertawa.
Tapi didalam tawa itu terbesit kesedihan dihati Kia.
Jujur, ia memang sudah bosan dengan kesendiriannya. Ia juga ingin ada seorang pria yang dapat menemaninya dalam susah maupun senang, pria yang selalu ada untuknya.
Walaupun memiliki wajah yang cantik, tapi itu tak membuat Kia menemukan pria yang pas untuknya.
Kia memang sangat pemilih untuk urusan itu. Dulu, mendiang ayahnya pernah berkata
"hati-hati dengan hati, salah letak bisa retak".
Kata-kata itulah yang selalu Kia ingat sampai sekarang, Kia berharap suatu saat dapat menemukan pria yang tepat di waktu yang tepat pula.
love you readers..
semoga banyak yang suka ya sama ceritanya, maaf masi berantakan, masih amatir hihi~
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Rasa
RomanceAzkia Helga Thalitha. Seorang gadis yang biasa disapa Kia, tak banyak keinginannya di ulang tahun ke-18 ini, ia hanya menginginkan sosok pria yang bisa menemaninya dalam susah dan senang, sosok pria yang mampu membuat hari-harinya lebih berwarna, so...
