Keenan hanya diam dan pergi meninggalkan kerumunan maba yang memenuhi lapangan dikampus.
Ia ingin pergi ke lab untuk menyelesaikan penelitiannya, ia sedang mencoba untuk meneliti penyakit meningitis yang menyerang selaput otak pada manusia. Walaupun masih semester 5, tapi kemampuan berpikir Keenan tak perlu diragukan lagi. Ia bahkan pernah menemukan vaksin baru untuk penderita yang terinfeksi virus corona.
Keenan POV
Aku berjalanan menusuri koridor kampus untuk sampai ke lab, tetapi ada yang aneh dengan wajah cewek tadi, rasa tak asing dimataku.
"Ah udahlah, mungkin cuma perasaan gue aja" kataku pada diri sendiri.
"Hah? Apa kak?" suara seorang gadis terdengar dibelakangku.
Akupun berhenti melangkahkan kaki dan membalikkan badan.
"Lah, lo ngapain ngikutin gua?" tanyaku pada gadis itu. Gadis yang dari tadi berada di pikiranku.
"Kan tadi saya disuruh ngikutin kakak, karna ga bawa paper mob kak?" katanya bingung.
Sial, aku lupa, ternyata dia masih mengikutiku.
"hmm.. lo butuh hukuman ya" kataku dengan menaikkan sebelah bibir.
"Sekarang, lo berdiri di depan lab dan angkat kaki satu!"
aku sengaja menyuruhnya berdiri agar tak ada yang menggangguku menyelesaikan penelitian.
***
Kia POV
"What? berdiri pake kaki satu? kenapa jadi gini si elah! baru aja seneng dihari pertama jadi mahasiswa, kenapa jadi dihukum gini si". Batinku
Cowok itu menatapku dengan tatapan dinginnya. Tatapan yang tak asing dimataku. Rasanya aku pernah melihat tatapan ini sebelumnya.
"Ngapain lo masi disini!?" suara itu membuyarkan pikiranku.
"hah? iya kak!". Akupun bergegas untuk berdiri dengan kaki satu di depan lab.
***
Matahari semakin terik, Kia semakin kehilangan tenaga untuk berdiri. ditambah lagi Kia tak sempat sarapan tadi pagi.
Cucuran keringat mulai membasahi tubuh Kia. Ia yakin ia tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.
Bruukkk!!!!
Kia jatuh dan tak sadarkan diri.
Seorang cowok datang dan meletakkan lengan kekarnya di punggung dan kaki Kia. Ia menggendong Kia ala Bridal Style dan membawanya ke UKK.
***
Kia POV
Aku membuka mata dengan pandangan yang masih sedikit kabur, mencoba melihat keadaan sekitar.
"sepertinya ini UKK". Batinku.
"Syukurlah kamu udah sadar". Suara berat itu membuatku menolehkan wajah kearahnya.
hah? itukan kakak yang ganteng dan baik tadi! kenapa dia ada disini?
"kakak panitia ospek kan?" tanyaku.
Dia tersenyum. Senyuman yang mampu membuat siapapun melayang seketika.
"iya. kenalin, namaku Kenzo!" dia menyodorkan tangannya kepadaku.
"Em, iyakak. Aku Kia" aku membalas dan menjabat tangannya.
"Makasi ya kak, udah bawa aku kesini" kataku dengan senyum lebar hingga menampakkan gingsulku.
Hatiku sangat berbunga, aku merasa kak Kenzo adalah sosok pria yang ku idam-idamkan.
"eh, bukan aku yang bawa kamu kesini tapi-"
Ucapan kak Kenzo terputus saat seseorang membuka pintu.
"cowok dingin itu lagi? ngapain dia disini" batinku saat melihat cowok yang membuatku pingsan karna hukuman anehnya.
"Nah, Keenan yang udah bawa kamu kesini" sambung kak Kenzo
"Hah? kenapa harus dia sih! kenapa ga kak Kenzo aja! dasar cowok dingin ga penting!" batinku kesal.
"Tunggu-tunggu, aku makin yakin kalo aku pernah ngeliat ni cowok. tapi dimana ya?" batinku.
"Hah?!"
kataku yang membuat kak Kenzo dan cowok dingin itu bingung.
"kamu kenapa?" tanya kak Kenzo penasaran.
"mampus kenapa jadi keceplosan gini si kagetnya guee.." batinku.
aku ingat siapa cowok dingin itu. aku pernah tak sengaja menabrak dan menumpahkan segelas beer dibajunya. waktu itu aku memang menjadi waitress karna aku ingin membantu ibu membayar cicilan rumah. Tapi tak ada yang tau akan hal itu. bahkan ibu dan Clara sekalipun.
"ehh, ga kak ga papa kok hehe.."
Semoga cowok dingin itu ga ingat kalo waitress itu aku.
"Lo udah sadarkan, sekarang bukan tanggung jawab gue lagi". kata cowok dingin itu sambil berlalu.
sumpah, apapun kata yang keluar dari mulut cowok dingin itu, ga enak didengar. berbanding terbalik sama kak Kenzo.
"Semoga aja gue ga ketemu lagi sama tu cowok". Batinku
Love you readers...
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Rasa
Roman d'amourAzkia Helga Thalitha. Seorang gadis yang biasa disapa Kia, tak banyak keinginannya di ulang tahun ke-18 ini, ia hanya menginginkan sosok pria yang bisa menemaninya dalam susah dan senang, sosok pria yang mampu membuat hari-harinya lebih berwarna, so...
