Mission 7

5.1K 454 78
                                        


Cieeee, pada nungguin yaaak. Wakakakakakakakakaka...
Howalaaaaa Olmaipreeeen. Pada kangen ga sama akyuuuuh? *sebar2 bulu ketek* (Digeplak sendal berjamaah). Daaaannn akhirnya arkin dateng lagi sama adel. Masih panasssss hubungan mereka. Macem kompor gas yang baru si reyen. Wakakakakakakakak....

Sebelum mulai, teteeep mau ngingetin kalo acariba ada ig baru @acariba_novel. Inget pake tanda @ terus acariba pake tanda _ baru novel. Hayuyuuuuk, segera di palaawww... Mikir mau bikin GA hadiah pulsa, tapi enaknya apa yaak? Sumbang ide yak olmaipren. Di kolom komentar siniiihh... wekekekekekekeek

Jangan lupa juga,like komen sama share yaaak. Aiyopyuuuu... aiyopyuuu olmaipreeennn

MISSION 7

Udara malam ini terasa sangat panas. Seharusnya aku tidak mematikan AC sebelum tidur tadi. Siapa yang bakal mengira kalau malam ini akan sepanas ini. Bisa kurasakan leherku basah karena bulir-bulir keringat.

"Kamu seksi, Del..."

Suara itu membuatku tercekat seketika dan langsung terbangun. Sosok Arkin yang bertelanjang dada langsung menghadirkan rasa panik. "Kamu ngapain di sini? Jangan kurang ajar, Arkin! Cepetan keluar!"

"Kamu tadi kan sudah bilang terserah," jawab Arkin terus meringsek mendekatiku di atas ranjang. "Bahkan aku sudah siapkan tali sama sapu untuk kita berdua."

Tali sama sapu?

Astaga, aku baru sadar kalau kedua tangaku sudah terikat erat di tiang tempat tidurku. Sementara itu, Arkin sudah mulai membuka perlahan celana yang kupakai. Aku berusaha menendang dan ternyata, kakiku juga sudah terikat. Sejak kapan aku terikat seperti ini?

Arkin kembali meneruskan membuka baju tidurku kemudian mencumbu erat tubuhku. Suaraku tiba-tiba menghilang. Bahkan berteriak seakan tidak mampu. Sementara itu Arkin masih terus menyentuh tubuhku.

"Jangan macam-macam Arkin! Aku bisa teriak manggil Bibi!" ancamku.

Sebuah senyum sinis menyebalkan kembali muncul di bibir Arkin. "Kamu lupa kalau Bibi sudah pulang?" setelah mendengar hal itu, hilang sudah semua harapanku. Membuatku menyesali diriku sendiri karena sudah mengenal pria ini. Ini keterlaluan. Selama hidupku, keperawananku adalah hal yang kujaga hanya untuk suamiku. Arkin memang suamiku, tapi pernikahan ini bukan pernikahan sesungguhnya. "Sekarang saatnya sapu, Sayang!"

Sekali lagi aku tercekat mendengar kata-katanya. Mau apa dia dengan sapu itu? Apa dia akan memukulku? Memangnya dia masochist? Siapapun, tolong aku!

"Sapu ini..." Arkan mengangkat sapu yang tiba-tiba saja sudah ada di tangannya, membuatku berteriak, tapi yang keluar hanya suara parau saja. "Cepetan sapu-sapu rumah!"

Dan setelah itu aku baru tersadar dari tidurku. Kamarku masih gelap, tapi samar-samar cahaya mentari masuk dari celah jendela. Cuma mimpi, tapi mampu membuatku ketakutan setengah mati. Ketika menemukan tangan dan kakiku yang bisa bergerak bebas, rasa lega langsung merayap di hati. Saat semua ketakutan itu mulai menghilang, aku mulai melemaskan tubuh dengan merayap turun dari ranjang.

Keuntungan memiliki kamar di lantai dua membuatku bisa memiliki balkon. Apalagi rumah Arkin memiliki halaman yang luas dengan pemandangan yang menyegarkan. Begitu keluar dari dalam kamar udara segar langsung memburu masuk dari arah balkon. Aku langsung membuka matras yoga yang sudah kusediakan di sana dan melakukan Pranayama.

Inti dari Pranayama dalam yoga adalah kosentrasi dalam bernapas. Memejamkan mata, duduk tegak bersila dengan tenang dan fokus untuk bernapas. Tapi bagaimana bisa aku fokus saat balkon sebelah begitu ribut. Tentu saja pelakunya bukan lain setan bernama Arkin. Set, maksudku, Arkin sepertinya sengaja membuat keributan itu untuk memancing emosiku yang sedang berusaha kuredam dengan yoga.

Seperti aku bilang, balkon kamarku memiliki pemandangan yang begitu indah. Hanya ketika tetangga sebelah kamarku, Arkin si penebar keonaran, sedang tidak berada di kamarnya. Kalau tidak, inilah yang terjadi. Seakan-akan hidupnya tidak tenang kalau belum membuatku naik darah. Dia hanya mempersiapkan barang-barangnya, tapi kenapa harus membanting dan menciptakan suara-suara ribut. Dan apa-apaan senyum sok manis di wajahnya saat menatapku? Apa dia senang melihat wajahku yang mengerut karena kesal?

"Kamu sudah bangun?"

"Kamuh syuwdah bangun?" ejekku dalam hati. Tentu saja aku sudah bangun, karena itu dia membuat keributan seperti itu kan? Bisa-bisanya dia melakukan itu semua. "Memangnya harus ya kamu ribut seperti itu?"

"Aku hari ini dinas luar, kamu inget kan? Setelah semua persiapan ini selesai, aku langsung berangkat." Baguslah, segera berangkat secepatnya. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua emosi yang meletup-letup ini. "Jadi, mumpung kamu ada di sini, aku sekalian pamit."

Sejenak hatiku berdesir saat dia mengabarkan untuk pergi dinas. Apa itu tanda-tanda kalau pria menjengkelkan ini ternyata memiliki sisi baik yang hanya untukku dalam dirinya? Setidaknya berpamitan, mengabarkan sesuatu hal, bisa digolongkan sebagai perbuatan menghormati pasangan. Apakah dia mulai bisa menghargai kehadiranku?

"Aku harap kamu nggak menghancurkan apapun di rumah ini atau malah masuk ke dalam kamarku karena merasa rindu. Jangan berlaku bodoh karena merasa kangen."

Lupakan semua pikiran tentang menghargai. Setan di hadapanku ini sepertinya sudah bisa kugolongkan dalam kelompok setan cabul. Apa dia pikir aku seorang penguntit yang akan mengobrak-abrik kamarnya kemudian menciumi baju dalamnya? Meskipun dia memiliki dada bidang dan bokong terindah yang pernah aku lihat, tidak akan pernah terpikirkan hal itu.

"Dalam mimpimu!" sentakku dan kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal yang sudah memuncak. Kampret Arkin itu benar-benar tidak bisa diberi kesempatan.

****

Seharusnya hari ini aku bahagia. Hari ini adalah hari yang cukup langka. Hari ini adalah hari dimana aku sendirian di apartemen ini. Hari yang menjadi awal, dimana selama dua hari ke depan, aku tidak akan menatap wajah Fir'aun moderen, Arkin. Jangan sampai mimpi mesum dan juga kejadian tadi pagi merusak semua rencana bahagiaku hari ini.

Bona pernah bilang bahwa masa-masa paling kritis yang selalu berulang dalam hidupnya ada dua. Pertama saat artis yang dia pegang tidak lagi terlalu laku, yang kedua, saat kepulangan asisten rumah tangganya. Sayangnya, bagiku kedua hal itu adalah surga saat ini. Pertama kalau seandainya aku sudah tidak laku, agensi akan lebih mudah melepaskanku dan aku akan bisa hidup normal kembali. Kedua, kepulangan asisten rumah tangga, dalam hal ini Bibi, bisa membuatku bernafas lega sementara. Katakanlah menjadi diriku sendiri. Benar-benar menjadi diriku yang tanpa make up dan memakai baju kebesaranku, kaos dan juga celana jersey. Ditambah lagi, kepergian Arkin keluar kota selama beberapa hari.

Segera setelah mobil Arkin meninggalkan parkiran, aku langsung menghambur ke tumpukan baju kebanggaanku di lemari. Memeluknya beberapa saat, menghirup aromanya dalam dan membayangkan kenyamanan saat mengenakannya. Rasa haru sempat menguasai, untung saja aku bisa menahan titik-titik air mata bahagia yang nyaris keluar dari mata. Ini surga.

Sendiri, mencepol rambut di atas kepala, mengenakan celana jersey dan kaos ukuran XL, sembari menonton televisi. Ini Surga! Dan surga itu semakin menyenangkan saat Bona menelponku untuk membatalkan jadwalku seharian ini. Terbayang sudah betapa indahnya kehidupanku hari ini. Sepertinya masih ada satu pin besar es krim vanilla di kulkas. Sangat cocok disandingkan dengan sofa empuk dan juga film layar lebar di saluran TV kabel di ruang tengah.

Sayangnya surga itu harus terganggu dengan suara bel di pintu masuk. Alih-alih bersabar dan memencetnya dengan jeda panjang, seseorang di balik pintu seakan begitu terburu. Dia terus-terusan memencet bel pintu tanpa henti. Dari interkom aku bisa melihat seorang pria setengah baya berpakaian rapi menunggu di depan pintu.

Wajahnya mengingatkanku pada seseorang, tapi entah siapa. Kumisnya yang tipis menghiasi wajahnya yang terlihat lelah. Pakaiannya terlihat rapi dan juga mahal, melihat logo pria berkuda terbordir di bagian kiri kaosnya.

"Siapa ya?" tanyaku sesopan mungkin. Berharap dia hanyalah seorang kurir atau malah salah alamat.

"Arkin?" tanyanya kebingungan.

Pria ini mengenal Arkin. Apa mungkin dia relasinya?

"Betul ini rumah Taksa Arkin, anda siapa?"

Sempat terdiam sesaat, pria itu kemudian dengan ragu-ragu menjawab. "Arkin ada? Saya ayahnya."

****

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 31, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Wedding WarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang