Beruntung

244 23 54
                                    

"BUKAIN NAPA WOY! GUA GA PENGEN MATI NGENESIN KEK GINI"

"YANG DILUAR, YANG MASIH IDUP MASIH NAPAS KAKINYA NAPAK TOLONGIN KITA TOLONGGGG!!!"

"BAPAK - BAPAK IBU - IBU KAKAK - KAKAK ADEK - ADEK SEKALIAN YANG BERBAHAGIA TOLONG OI BUKAIN INI KITA MASIH DIDALEM!" teriak Devan yang menongolkan kepala di jendela sambil berjinjit diatas meja, Devan sudah hampir satu jam teriak teriak seperti itu membuat telinga Sandra sakit mendengarnya.

"E..Evan dobrak pintunya, kamu cowok jadi tenaga kamu pasti banyak. Aku udah capek" ucap Sandra yang duduk selonjoran di lantai, Devan yang melihatnyapun langsung loncat dari atas meja dan mengambil ancang - ancang untuk mendobrak pintu tapi tak kunjung ia lakukan.

"Ngedobrak pintu pake bahu kanan apa kiri yak? Posisinya gimana? Gini apa gini sih?" monolog Devan yang mencoba berbagai gaya untuk mendobrak pintu membuat Sandra menepuk jidat melihat kelakuan Devan.

"EVANN DOBRAK AJA LANGSUNG! AKU PEN PIPIS!!" teriak Sandra yang udah kebelet mengejutkan Devan membuatnya malah menabrak pintu dan terkapar mengenaskan.

"Jangan ngagetin gua Sandra, ini lagi usaha bantuin doa kek. Soalnya kalo lu yang doa ada kemungkinan bakalan kekabul" geram Devan dengan Sandra yang begitu polosnya langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

"Ya Allah kasih Evan kekuatan super biar dia bisa ngedobrak pintu, soalnya aku pen pipis" pinta Sandra yang begitu khusuk dengan doanya sampai - sampai ia menutup matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Devan yang mendengarnya ingin ngakak tapi takut dosa terpaksa ia pendam dengan senyam - senyum gajelas ke pintu.

"Satu.. Dua.. Tiga" gumam Devan yang mendobrak pintu tapi tidak ada hasil sedikitpun bahkan sampai kedua bahunya sakit ia tak berhenti, ia juga sudah mencoba menendang pintu dengan keras.

"Sialan! Pintu sialan!" kesal Devan yang masih memukul mukul pintu dengan lemah.

"Maaf" cicit Devan yang menempelkan jidatnya ke pintu dan berhenti untuk memukulinya, ia memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya.

"Evan ngomong apa?" tanya Sandra yang tidak mendengar ucapan Devan, Devan menghela nafas sejenak dan berjalan mendekati Sandra yang duduk selonjoran di lantai. Devan berbaring disamping Sandra

"Ehmm lu masih bisa tahan kan? Badan gua udah remuk ini, pen leha - leha bentar" ucap Devan yang menyilangkan kedua tangan kebelakang kepalanya dan menutup matanya sebentar.

"Hmm bisa kok, tadi kamu bilang apa?" tanya Sandra yang menoleh kearah Devan. Devan yang merasa ditatap akhirnya membuka matanya dan ikutan menoleh kearah Sandra, mereka berdua terus menatap satu sama lain hingga akhirnya Devan mengalihkan pandangan dan menutup matanya kembali.

"Gapapa lupain aja, ehmm emang lu gak takut gitu?" tanya Devan membuat Sandra mengerutkan keningnya

"Emang disini ada hantu?" ucap Sandra yang malah bertanya balik membuat ide jahil muncul di otaknya.

"Rumornya sih kek gitu San, katanya tuh ya kalau sekolah ini dulunya bekas penjajahan gitu jadi ga heran lagi kadang ada yang denger suara - suara aneh gitu. Kadang juga nih ya meja sama kursi itu kedorong sendiri, peralatan pada jatoh padahal gaada angin gaada hujan" ujar Devan yang duduk bersila menghadap Sandra dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.

Sandra yang mulai ketakutan melihat sekelilingnya memeluk dirinya sendiri, dan berbalik kembali kearah Devan tapi ia tak menemukannya.
"EVAN?!! KAMU DIMANA?" panik Sandra yang memeluk kedua lututnya.

Sedangkan Devan yang tadi berpindah ke belakang Sandra dan mengikuti kearah manapun Sandra menoleh agar tidak dapat dilihat olehnya tengah menahan tawanya melihat Sandra yang begitu panik mencarinya, Devan dengan perlahan memegang kedua pundak Sandra membuat Sandra menegang kaku dan berhenti berteriak.

Asalkan Kau BahagiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang