Sembilan

6.7K 1.1K 97
                                        

Lamaaaaaaa.....

Yang baca pada pelittttt... Banyakan silent readers nya...

---

-
-



Aldi pamit pada Areva dan Darrel setelah mengobrol sebentar. Lalu keduanya gantian pamit pada para karyawan.

"Cepet banget mbak pulangnya. Ada mbak suasana cafe jadi lebih gimana gitu... Lamaan donk mbak..." Pinta Yuna salah seorang waiters sambil menggenggam tangan Areva seolah tak rela berpisah.

Darrel melihat betapa hangatnya Areva bahkan para karyawannya yang notabene baru kenal saja sudah merasa nyaman dengan gadis itu.

"Dia nggak pergi lama kok Yun. Besok-besok pasti main ke sini lagi, kan bentar lagi jadi bu boss. Lagian masa bu boss mau kamu tahan disini ntar Pak boss gimana?" Kata Dimas yang senang dipanggil Akang.

"Eh iya ya kang... Kirain mbak Areva milik bersama..." Kata Yuna bercanda.

Darrel tersenyum kecil. "Milik saya seorang Yuna..." Kata Darrel lalu meraih tangan Areva yang digenggam Yuna.

"Kita mau cari gedung buat pernikahan. Kalian kerja yang semangat. Buat modal nikahan Pak Bos. Okeh?!" Kata Darrel membuat para karyawannya tertawa.

---

"Pantesan aja anak-anak TK pada jatuh cinta sama kamu. Orang dewasa aja nyaman apalagi anak kecil." Ucap Darrel mengendarai mobilnya tanpa menoleh ke Areva.

Kalau kamu gimana Rel? Nyaman nggak sama aku? Tanya Areva di dalam hati. Areva tidak berani bertanya. Areva lebih memilih pemandangan di luar jendela sebelum keceplosan bertanya hal memalukan pada Darrel.

Darrel dan Areva sudah melihat beberapa gedung dan akhirnya sepakat di satu gedung yang menyediakan tempat resepsi indoor juga outdoor.

"Kalau cuma nikah buat nyenengin Mamih, harusnya gak sampai seperti ini Rel. Namanya buang-buang uang." Kata Areva.

Darrel diam saja membuat Areva tak tahu apa isi kepala dan hati pria itu. Darrel itu sulit ditebak. Kadang dia bersikap narsis, lalu nyebelin tapi juga kadang sangat dewasa dan berwibawa. Sialnya Areva malah suka semua sisi Darrel. Termasuk saat pria itu menyebalkan.

"Besok aku harus ke persidangan cerai Aldi dan Salma. Gimana pun Aldi pasti butuh support." Kata Darrel di perjalanan pulang mereka. Sebenarnya tidak benar-benar pulang sih karena mereka masih akan ke butik yang direkomendasikan Sabrina.

"Aku harus ke Bekasi besok."

"Aku antar kamu kalau gitu."

"Nggak usah kamu kan harus nemenin Aldi." Kata Areva.

"Kamu calon istriku Va, kamu tanggung jawabku. Aku bisa kok membagi waktu antara sahabat dan wanitaku." Kata Darrel santai sambil menyetir sesekali menoleh pada Areva.

Hello... Nih si Darrel nggak sadar ya efek kalimatnya barusan? Anak gadis orang njerit-njerit dalam hati. Antara kegirangan sama galau di PHP-in. Darrel ini ya, nyebelin banget. Kalimatnya itu loh, seolah dia emang serius ke Areva tapi sebentar ia bilang hanya demi Mamih. 

Areva merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Gombalan Darrel seolah menusuk ulu hatinya. Dia bingung harus berbunga-bunga atau muntah karena kalimat Darrel barusan. Yang pasti wajahnya sudah kayak kepiting rebus sekarang.

"Kita makan malam bentar ya Va. Udah jam enam sore. Seharian sama kamu benar-benar nggak terasa ya. Kirain masih sebentar padahal udah berjam-jam." Kata Darrel lagi.

Aish... Efek kalimat tadi aja belum habis udah ditambah lagi kadar baper nya. Haruskah Areva cium tuh bibir Darrel agar tidak berucap gombal seenak udelnya?

Mantunya Mamih (Ready Ebook)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang