3 : Park JiMin

14 3 0
                                    

Seorang lelaki dengan baju tanpa lengan sedang menari dengan semangat hingga tubuhnya penuh dengan keringat.

Tampak raut wajah lelaki itu dengan serius memperhatikan pantulan gerakan dirinya di cermin. Di ruangan itu tidak ada siapapun, hanya lelaki itu dengan suara decitan sepatu miliknya dan lagu yang diputar dari TV.

Pintu terbuka dan memperlihatkan kepala seorang laki-laki lain.

"Ya! Ya! Ya! Park Jimin! Sudah cukup! Jam latihan sudah selesai! Kembali ke dorm sekarang!" Teriak laki-laki yang baru saja masuk ke ruangan itu.

Park Jimin, lelaki yang daritadi menari dengan serius itu tidak mempedulikan ocehan tadi dan tetap menari.

"Park Jimin!" Teriak laki-laki itu lagi.

"AKH!!" Jimin terjatuh sambil memegang pergelangan kakinya.

"Ya! Kau tidak apa-apa?" Laki-laki itu berlari kearah Jimin dan memeriksa kakinya. "Kau keseleo! Sudah kubilang berhenti, ya berhenti!" Lanjut lelaki itu.

"Sudahlah, hyung. Berhenti mengoceh, kakiku tambah sakit." Sarkas Jimin.

"Jangan menjawab! Sebentar, aku telepon Sejin hyung," balas laki-laki tadi.

"Yeoboseo? Seokjinssi?"

"Eoh, hyung. Maaf mengganggu, tapi bisakah kau ke perusahaan sekarang?"

"Eoh? Ada apa? Apakah kau buru-buru?"

"Iya, Jiminie terluka saat sedang latihan."

"Arraseo, tunggu sebentar, aku langsung berangkat."

Tutt

Telepon berakhir dan Seokjin melihat kearah Jimin yang sedang melamun.

"Kau bodoh ya? Kenapa kau latihan berlebihan seperti ini?" Seokjin menunjuk-nunjuk muka Jimin dengan kesal. "Apa kau tidak tahu? Kalau kau terjatuh seperti tadi, kau bisa kehilangan kakimu, kau tidak bisa menari sepanjang hidupmu lagi, kau tidak bisa berjalan, kau tidak bisa bebas melakukan apapun yang kau mau, dan yang pastinya ARMY akan kecewa kepadamu! Kau tahu itu kan?!" Lanjut Seokjin dengan cepat sampai mukanya memerah.

"Aku tahu, tapi aku juga tidak mau mengecewakan ARMY karna tarianku yang buruk." Jimin menunduk dalam sambil memainkan jarinya.

"Tidak ada ARMY yang kecewa dengan tarianmu yang buruk! Mereka pasti mendukungmu! Hei, kalau tarianmu buruk, lalu aku apa? Sampah?" Kali ini ucapan Seokjin terdengar tajam, ia benar-benar marah sekarang.

Ponsel Seokjin bergetar, lalu ia membaca pesan yang masuk.

"Ayo pulang, Sejin hyung sudah menunggu," ucap Seokjin sambil menjulurkan tangannya membantu Jimin berdiri.

"Gomawo, mianhae, hyung." Jimin menatap kakinya yang membiru dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan pernah mengulanginya lagi," Seokjin merangkul Jimin dan mendampinginya berjalan keluar. "Apapun yang berlebihan itu tidak baik, jika kau seperti tadi, kau hanya melukai dirimu dan mengecewakan orang-orang disekitarmu."

***
TBC
.
Our; dream
Tue, Apr 7
©katasaesagt
.
Thanks for Reading!

OUR; DREAM [PJM]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang