happy reading!
[♡]
Minhee terbangun akibat suara alarm yang sudah berbunyi sejak tiga menit lalu. Tunggu, hah? Alarm? Sejak kapan ia memasang alarm? Seingatnya dia tidak pernah memasang alarm.
Dengan keadaan setengah sadar akibat nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul, dia meraih ponselnya di atas nakas dan mematikan alarm yang sedari tadi mengganggu indera pendengarannya.
Dia mengambil posisi duduk diatas kasur, lalu mengusap-usap mukanya. Matanya menjelajahi seluruh ruangan yang bernuansa monokrom, kasur king-size berwarna abu-abu tua dengan dua nakas si sisi kanan dan kirinya. Ada rak besar berwarna putih di sudut kamar berisi banyak buku dan semacamnya. Juga jendela besar yang menghadap ke arah matahari terbit.
Ini bukan kamar gue, pikir minhee.
Padahal dia ingat sekali kalau semalam dia tertidur di kamar miliknya yang bernuansa putih, lalu kenapa ia tiba-tiba bisa terbangun disini.
Kamar ini sedikit lebih luas dari pada kamar miliknya. Di kamar ini hanya ada dirinya, entah di mana keberadaan pemiliknya. Yang ia tahu—lebih tepatnya, tebak—kalau pemiliknya berada di sekolah yang sama dengannya. Karena dari tempatnya berada, dia bisa melihat beberapa buku yang familiar tergeletak di atas rak buku.
Minhee memutuskan untuk mengecek ponsel yang di yakininya bukan miliknya meski bentuknya serupa—mulai dari tipenya, warnanya, bahkan ponselnya sama-sama tidak dilapisi apapun selain screen-guard pada layarnya.
Benar saja, sedetik setelah Minhee memencet tombol power layarnya langsung memunculkan lockscreen yang wallpapernya berupa foto dua orang laki-laki yang sedang berpose ala-ala kaum muda jaman sekarang. Laki-laki berambut coklat yang merangkul laki-laki berambut hitam. Ditambah tangan mereka yang menunjukan peace-sign. Dan foto itu sepertinya diambil di rooftop sebuah bangunan karena dibelakangnya terlihat bangunan bangunan kecil juga pagar pembatas.
Yang membuat Minhee terkejut adalah salah satu orang dalam foto itu dapat ia kenali. Laki-laki berambut hitam itu cha junho, teman sekelas sekaligus sahabatnya di sekolah. Lalu siapa laki-laki berambut coklat ini? Dan apa hubungan Junho dengan orang itu?
Awalnya Minhee mengira bahwa ini merupakan ponsel Junho, tetapi seingatnya Junho menggunakan casing bening yang di selipannya ditaruh foto Junho berdua dengan eunsang, bucin memang. Dan juga saat ia memasukan password milik Junho ponsel itu masih terkunci.
Tapi anehnya saat ia mencoba menggunakan Face ID ponselnya malah terbuka.
Mata Minhee membulat, tangannya dengan cepat membuka aplikasi kamera. Dan yang ia lihat bukan mukanya, melainkan sosok berambut coklat yang berada pada locksreen.
Dia menyibak selimutnya, lalu bergerak turun dari kasur. Ia melempar ponsel itu asal ke atas kasur dan berjalan mengelilingi ruangan mencari sebuah cermin.
Minhee membuka salah satu dari dua pintu dihadapannya yang mengarah pada ruangan yang ia duga sebagai walk-in-closet yang terhubung pada kamar mandi.
Untungnya di dalam walk in closet itu terdapat sebuah cermin full-body. Ia mengecek penampilannya, sayangnya yang muncul di cermin masih sosok laki-laki berambut coklat tadi.
Minhee mulai panik, dia mengerjapkan matanya berkali-kali berharap ini semua hanya halusinasinya. Ia bahkan sampai mengucek kedua matanya.
Minhee menatap dirinya, ia menggunakan baju yang sama dengan orang yang berada di cermin. Lalu ia mencoba menarik sehelai rambutnya memastikan itu berwarna coklat muda atau berwarna pirang seperti rambut aslinya. Hasilnya tidak seperti yang ia harapkan, rambutnya berwarna coklat.
“Masa iya jiwa gue ketuker kayak yang ada di au, au.” Tanyanya bingung, lalu ia menggelengkan kepalanya. “ngga ah, ngaco. Masa ada beneran kayak begituan.”
“tapi kalo nggak bener terus gue kenapa,”
Tiba-tiba dering ponsel mengagetkan dirinya. Dia segera kembali ke kasur mengambil ponsel yang berbunyi itu. Tenyata terdapat panggilan masuk dari nomor ponsel yang ia kenali, itu nomor ponsel miliknya.
“Halo,” sapa seseorang dari seberang sana. Minhee sempat bergidik saat yang terdengar adalah suaranya, namun ia tahu kalau itu bukan dirinya, karena jelas jelas ia berada disini.
“ya? Lo siapa? Kita beneran ketuker raganya?” tanya Minhee tanpa berbasa-basi.
“sabar dong nanyanya, gue juga bingung. Pertama gue yunseong. Kedua gue nggak tau, semalem perasaan gue masih tidur dikamar gue terus tiba-tiba dibangunin sama seongmin terus gue sadar kalo ini tempat asing dan tampilan gue berubah, dan ngapain pula gue dibangunin seongmin.” Minhee dapat mendengar kepanikan dari suaranya.
“okay, sorry. Gue panik—"
“gue juga panik,” Selanya.
“okay, kita sama-sama panik. Gue Minhee btw, Seongmin itu adek gue. Kok lo kenal Seongmin? Terus lo juga kenal Junho?” Minhee menautkan kedua alisnya.
Minhee dapat mendengar helaan nafas, sebelum yang diseberang menjelaskan semuanya. “Seongmin adek kelas gue. Kami beberapa kali ketemu di kelas masak. Dan Junho kembaran gue.”
Ah, kelas masak. Salah satu kelas yang tidak ia ambil di semester ini, alasannya? Agar tidak bertemu Junho dan Eunsang yang kemungkinan besar akan flirting disepanjang kelas. Jadi ia lebih memilih masuk kelas merajut semester ini. Dan apa tadi katanya? Kembaran Junho?
“Wait, elo Hwang Yunseong si anak olim?” tanya Minhee memastikan.
“iya, lo kenal gue?”
“Nggak sih, tau nama doang.” Ucap Minhee acuh. Lalu ia kembali bertanya yang diakhiri dengan umpatan, “Terus kita gimana? Satu jam setengah lagi sekolah, njir.”
“Nggak tau, apa kita perlu nggasih tau orang lain? Tapi emang mereka bakal percaya?”
“Kayaknya nggak usah, biar mereka tau sendiri aja.” Minhee ikut menghela nafas sejenak, semua keadaan ini sangat tiba-tiba dan cukup memusingkan, ia bisa frustasi rasanya.
“Lebih baik kayaknya kita ketemuan dulu deh,”
“Okay, tapi pertama kita harus nyusun rencana awal dulu…”
[♡]

KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Your World | Hwangmini
Fiksi PenggemarHwang Yunseong dan Kang Minhee tidak pernah bertegur sapa, sampai keduanya tertukar. warn: bxb, harsh words.