"Halo, nama saya Ong Seongwoo, yang lebih dikenal sebagai White Korean, dan saya di sini untuk memenuhi semua kebutuhan musik Anda," pria itu berbicara dengan tidak antusias ketika ia melepaskan sepasang sarung tangan kulit hitam dan meletakkan kotak biola dari punggungnya.
Suaranya membawa jejak aksen Korea yang paling sederhana, dan aku mendapati diriku tergantung pada setiap suku kata yang meluncur dari lidahnya.
Dia sangat cantik dengan kulit putih dan mata biru yang tajam, dan dilihat dari jaket kulit dan rambut putihnya yang berangin, dia mengendarai motor ke sini.
Rasanya aku ingin pingsan.
Sadar belum berucap sepatahpun, aku menjawab dengan gelagapan.
"Um- H-hai. Aku Daniel. Kang Daniel."
"Ya, aku tahu," katanya dengan nada tidak terkesan ketika dia melirik malas ke ruang musikku.
Ya, benar. Aku memang terkenal.
Merasa sedikit canggung, aku juga melarikan pandanganku ke sekeliling. Ruang musik adalah salah satu tempat yang paling kusukai.
Dindingnya dicat merah menyala berapi-api dan karpetnya hitam pekat. Gitar, baik yang listrik maupun akustik, berjejer di dinding bersama dengan poster dan memorabilia rock favoritku. Di sepanjang lantai terdapat amplifier gitar vintage, sebagian besar tabung ampli dari tahun 60-an dan 70-an karena mereka memiliki suara terbaik. Di tengah ruangan terdapat sofa mewah berbahan kulit. Sofa itu menghadap dinding yang seluruhnya terbuat dari kaca, yang membiarkan cahaya masuk dengan baik dan memberikan pemandangan indah ke Los Angeles. Ada juga piano yang dengan tegak terletak nyaman di satu sudut.
Bagiku, itulah definisi kesempurnaan, tetapi ketika pria Ong itu menyapu ruangan favoritku dengan tatapan penuh perhitungan, aku jadi sedikit sadar diri.
"Apa kira-kira masalahnya, Tuan Kang?" Dia membiarkan pandangan matanya beralih kembali ke arahku dengan satu alis terangkat.
"Panggil Daniel saja," aku berharap aku tidak terdengar terlalu putus asa.
"Aku- uh, aku perlu, eh ... menulis lagu dalam satu setengah minggu berikutnya dan sepertinya aku kesulitan ... menemukan kata-katanya."
"Sepertinya masalahnya ada di lebih dari satu area," dia menyeringai sebelum membuat dirinya di rumah di sofa dan meletakkan kotak biolanya di atas meja di depannya.
Aku merasakan diriku sedikit memerah dan dengan diam-diam berterima kasih kepada para dewa saat ia telah membelakangiku.
Sang pria Ong itu mengeluarkan biolanya dari casingnya kemudian Ia selipkan di bawah dagunya. Memetik setiap senar dengan jarinya, ia membuat beberapa penyesuaian pada pasak penyetelan sebelum menarik busurnya ke senar.
Selayang melodi ringan nan lembut bergema di udara, dan jari-jarinya menari-nari di leher begitu cepat dan dengan penuh percaya diri--aku nyaris tidak bisa mengikutinya dengan mataku. Aku bahkan tak dapat mengingat kapan aku mulai mendengar melodi yang lebih menghantui, terngiang-ngiang di telinga dan pikiranku.
Tiba-tiba, dia berhenti bermain dan melihat ke arahku.
"Jadi, Daniel. Apa selera musikmu?"
"Rock. Blues. Blues Rock," kataku cepat, "Bukan jenis yang bisa kamu mainkan dengan biola, tapi-"
Ong Seongwoo mengangkat alis ke arahku dan menurunkan instrumennya. "Hanya karena biola adalah instrumen klasik berarti aku hanya bisa memainkan musik klasik?"
"Aku- Bukan itu yang kumaksud."
Ong Seongwoo berdiri dan berjalan mendekati salah satu amplifierku. Menancapkan biola dan menyalakannya, aku merasakan rahangku perlahan-lahan mengendur dengan takjub ketika dia mulai membawakan semacam permainan gitar solo dengan distorsi berat. Itu sama sekali tidak terdengar seperti biola, dan ketika aku mendengarkan, dia mencampurkannya ke dalam riff pembuka "Sweet Child of Mine."
Semoga kau gay. Semoga kau gay.
Mengubah nada pada amplifierku ke sesuatu yang tak terlalu berat, dia mulai mengetukkan kakinya seirama walking blues.
Kurasa aku sedang jatuh cinta...
Dia tiba-tiba memulai musik blues solo, dan meskipun dia tidak lagi memainkan riff asli, aku masih bisa mendengarnya dalam pikiranku, bergema di bawah melodi barunya.
Wajahku pasti mengatakan itu semua, karena begitu dia melihatnya, dia menyelesaikan solonya dan menurunkan instrumen.
"Yah. Sekarang setelah menelaah masalahmu, aku ingin tahu apa yang menginspirasimu, Kang Daniel."
"Menginspirasiku?" Tanyaku, mengedipkan kekagumanku dan mengangkat mataku kembali ke tatapan birunya yang tajam.
"Ya," dia menoleh lagi. "Apa yang membuatmu tergerak? Apa yang menempatkan musik dalam jiwamu? Apa yang memberimu inspirasi? Aku ingin tahu dari mana asalnya kata-kata ketika kamu menulis lagu. Aku ingin tahu mengapa kata-kata itu tak datang lagi. Aku ingin tahu bagaimana memulainya lagi. Jadi, apa yang menginspirasimu, Kang Daniel?"
"Aku-" Aku berhenti dan membiarkan pikiranku memproses kata-katanya.
Apa yang mengilhamiku? Satu-satunya hal yang dapat kupikirkan pada saat itu adalah rahangnya yang halus, tapi aku yakin dia akan mengabaikan jawaban itu.
"Aku tidak benar-benar tahu lagi."
"Mm," gumamnya sambil mengemas biolanya lagi. Sambil meletakkannya di atas bahunya dan mengeluarkan sarung tangannya lagi, dia berkata, "Ikut aku. Kita harus menemukan inspirasi baru untukmu."
Merasa jantungku berdetak sedikit lebih keras di dadaku, aku menganggukkan kepalaku dan mengikutinya keluar pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[TERJEMAHAN+REMAKE] GRAVITY
FanfictionKang Daniel mendapatkan ketenaran pertamanya, tetapi dia tidak yakin dia menyukainya. Industri musik mengendalikan segalanya. Musiknya. Kepribadiannya. Citranya. Teman kencannya. Dia muak dengan semua itu. Dengan bayang-bayang tenggat waktu untuk hi...
![[TERJEMAHAN+REMAKE] GRAVITY](https://img.wattpad.com/cover/222571549-64-k935622.jpg)