'Hmm...oke, jadi pertama gw harus beli baju dulu. Semoga di sini ada yang jual baju yang cocok buat Steel Sword Master kayak gw.' ujar Jason dalam hati. Dia sedang menulis daftar barang-barang yang harus dibeli untuk keperluannya selama ada di dalam game ini.
Setelah selesai menulis daftar, ia meminta izin kepada Pak Makoto untuk keluar sebentar. Pak Makoto mengizinkannya.
"Hati-hati di jalan ya! Jangan sampai nyasar! Gunakan GPS-mu dengan baik dan benar!" kata Pak Makoto. "Jika ada masalah, hubungi saja salah satu dari kami melalui gadgetmu. Nomor-nomor kami sudah tertera di sana."
"Siap laksanakan!" kata Jason, mengambil sikap hormat seperti sedang upacara bendera. Ia pun berangkat. Selama perjalanan, ia terus menerus mencermati GPS-nya.
Akhirnya, dia sampai di sebuah toko baju bernama Kanya's Boutique."Permisi, Bu. Apa Ibu menjual baju yang cocok untuk Steel Sword Master?" tanya Jason kepada penjual baju.
"Oh, ada di bagian Sword Master, Dik. Adik tinggal lewatin lorong sebelah kanan, lurus terus sampe ketemu tulisan 'Sword Master'. Nah, di situlah baju-bajunya." jawab si penjual baju sambil menunjuk bagian yang ia maksud.
"Terima kasih Bu." kata Jason. Ia pun segera melewati lorong yang dimaksud oleh si penjual baju.
'Horeee ketemu!' Jason berseru dalam hati, ketika menemukan baju-baju Sword Master. Dengan semangat 45, ia memilih-milih baju. Setelah beberapa lama, akhirnya ia berniat membeli satu set jubah mirip kimono berwarna kuning dan jaket berwarna merah.
'Ini dia! Kuning dan merah! Dua-duanya warna kesukaan gw nih!' kata Jason dalam hati. Ia mencoba baju dan jaket tersebut di ruang ganti, lalu ia membayarnya.
"Harganya 12 Koru ya, Dik." kata penjual baju. Jason pun membayar baju itu dengan uang pas. Saat ia baru masuk dalam game The World of Fantasy, ia sudah menerima uang sebesar 500 Koru langsung dari game ini.
"Terima kasih sudah datang, Dik!" si penjual baju melambaikan tangan, ketika Jason keluar dari butik itu. "Iya, sama-sama, Bu." ujar Jason kepada penjual baju. Setelah membeli baju, ia pun pergi membeli berbagai hiasan untuk kamarnya di Crystal College, antara lain miniatur bangunan, figurin (patung ukuran kecil), foto-foto pemandangan di The World of Fantasy serta berbagai macam poster bergambar anime.
Setelah membeli semua barang yang diperlukan, Jason bergegas pulang ke Crystal College, tentu saja dengan bimbingan GPS-nya. Kayra melihatnya dari kejauhan.
'Waduh, itu si Jason bawa barang banyak banget.' batin Kayra. 'Aku bantuin ah nanti!' pikirnya.
"Hai, Kayra..." sapa Jason ngos-ngosan. Sepertinya ia membeli terlalu banyak barang. Uangnya yang tadinya berjumlah 500 Koru, sekarang berkurang menjadi 350 Koru.
"Hai. Kelihatannya kamu kecapean deh, Jas." ucap Kayra. "Sini, biar aku bantuin!"
"Gapapa, terima kasih." ujar Jason. "Aku bisa bawa sendiri. Seharusnya cowok yang membawa banyak barang, bukan cewek."
"Tenang saja, aku kuat kok. Lagian kamu kelihatannya cape banget, sampe ngos-ngosan gitu. Toko-toko kan, letaknya cukup jauh dari sini." jawab Kayra.
Jason menyetujuinya. Akhirnya Kayra membawa semua barang itu ke dalam sekolah. Mikhail sudah menunggu di dalam.
"Halo, Kayra. Tugas berkebunmu sudah selesai, kan?" tanya Mikhail kepada Kayra. Kayra mengangguk.
"Fiuh, akhirnya." kata Kayra lega, setelah ia menaruh semua barang belanjaan Jason di meja ruang tamu.
"Wow, itu habis berkebun atau belanja? Kok barangnya banyak banget." tanya Mikhail saat ia melihat barang-barang belanjaan Jason yang banyaaak sekali.
"Si Jason tadi habis belanja. Entah buat apa barang sebanyak ini." jawab Kayra.

KAMU SEDANG MEMBACA
The World of Fantasy
FantasyBagaimana jadinya jika seorang gamer online yang sudah bermain berbagai macam game, tiba-tiba masuk ke dalam game yang bahkan tidak ia ketahui sama sekali? Berhasilkah ia menyelesaikan misi-misi dalam game tersebut dan mengalahkan sang penjahat? Ata...