Assalamu'alaikum, pembaca sekalian!
Semoga hari ini pembaca semua berada dalam keadaan sehat dan selalu diberi kesehatan. Jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, mengenakan masker saat keluar dan selalu mencuci tangan setelah kembali dari bepergian. Semoga dengan usaha kecil tersebut kita terhindar dari penyakit dan selalu berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Untuk hari ini saya izin melanjutkan diskusi dengan topik Farmasi Klinik dan Komunitas. Wah, mungkin ini adalah bidang farmasi yang paling dikenal bapak ibu sekalian, ya!
Di bidang farmasi klinik dan komunitas ini, mahasiswa farmasi dipersiapkan untuk mampu berkomunikasi dan membantu pasien secara langsung. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan di apotek maupun rumah sakit.
Karena hal tersebut, mahasiswa farmasi diajarkan permasalahan terkait penyakit dan obat-obatnya. Permasalahan yang dibahas cukup beragam dan akan saya coba uraikan sebagian.
Pelajaran dasar yang diajarkan bisa berupa obat yang tepat untuk suatu penyakit. Misal diabetes ditangani dengan pemberian insulin. Namun, pembelajaran kami tidak berhenti sampai disitu. Kami juga harus memahami kenapa insulin ini dapat digunakan untuk menangani diabetes, bagaimana cara insulin menangani diabetes.
Kemudian kami juga harus tahu apakah ada obat lain yang bisa menggantikan insulin. Apakah insulin ini boleh dikonsumsi oleh semua jenis pasien ataukan ada pasien-pasien dengan kondisi tertentu yang tidak diperbolehkan menggunakan insulin. Apakah insulin boleh digunakan bersamaan dengan obat-obat lain, atau insulin ini ternyata akan memberikan efek negative bila dikonsumsi bersamaan dengan obat lain.
Kapan insulin ini harus digunakan agar efek yang diberikan maksimal. Apakah ada pengaruhnya apabila insulin ini tidak digunakan sesuai jam penggunaannya. Apakah insulin ini memiliki efek samping atau efek-efek khusus yang bisa muncul pada individu-individu tertentu. Padahal hanya masalah penyakit dan obatnya, tetapi cukup banyak ya? Hahaha.
Hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya sangat penting diketahui oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit atau apotek. Karena terkadang pasien mendapat banyak sekali obat dalam satu resep. Apoteker wajib memastikan apakah resep tersebut benar-benar dibutuhkan dan aman untuk pasien atau mungkin terjadi kekeliruan seperti kekeliruan penulisan atau kekeliruan lain.
Apoteker yang bekerja di apotek dan rumah sakit juga harus memahami mengenai efek samping obat agar bisa menjelaskan efek samping tersebut kepada pasien. Jika memang suatu obat ternyata memiliki efek samping yang umum terjadi, hal ini wajib disampaikan apoteker kepada pasien. Misalnya seperti yang pernah saya bahas adalah mengenai efek samping rifampisin.
Rifampisin adalah obat tuberkulosis yang dapat mengubah warna urin menjadi kemerahan. Apoteker wajib menyampaikan kalau perihal tersebut wajar terjadi dan pasien tidak perlu merasa khawatir. Hal ini perlu dilakukan agar pasien tidak merasa takut dalam mengonsumsi obatnya. Apalagi obat tuberkulosis harus diminum sesuai aturan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga apoteker wajib memberikan informasi-informasi krusial yang dibutuhkan pasien selama masa pengobatan tersebut.
Efek samping lain yang mungkin terjadi dan perlu disampaikan adalah seperti mengantuk atau terjadinya kenaikan frekuensi buang air kecil. Biasanya pula apoteker akan memberikan solusi agar efek samping yang terjadi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
Kemudian, hal lain lagi yang kami pelajari adalah mengenai pengaruh makanan dan minuman terhadap efek obat. Karena terkadang ada makanan atau minuman yang dapat mengganggu efek obat. Gangguan ini bisa berupa hilangnya efek obat tersebut, bisa berupa menurunnya efek obat, atau bisa pula berakibat menaikkan efek obat tersebut.
Yang manapun, bisa berpotensi menimbulkan bahaya, ya, pembaca sekalian!
Oleh karena itu, apoteker yang bekerja di apotek atau rumah sakit harus mengetahui apakah obat-obat yang diterima pasien punya masalah dengan makanan atau minuman tertentu dan bila ada hal tersebut perlu disampaikan kepada pasien. Hal yang disampaikan bisa berupa jenis-jenis makanan dan minuman yang perlu dihindari beserta alasannya.
Biasanya pembaca sekalian mengonsumsi obat dengan apa? Saya sarankan menggunakan air putih (air mineral) saja, ya, atau bisa menanyakan terlebih dahulu kepada apotekernya dengan apa obat-obat yang pembaca terima bisa atau boleh diminum.
Pembaca sekalian tidak perlu ragu untuk menanyakan perihal-perihal terkait obat kepada Apoteker yang berada di apotek dan rumah sakit, apapun hal itu. Entah cara minum, kapan diminum, dengan apa diminumnya, atau hal-hal lain seperti efek samping. Karena Apoteker adalah ahli-nya ahli dalam masalah obat-obatan!
Sedikit saya tambahkan, bahwa pasien berhak tahu atas obat-obatan yang dikonsumsinya. Meskipun resep diterima pasien langsung dari seorang dokter, hal tersebut tidak menggugurkan hak seorang pasien bertanya atas kondisi dan obat-obatan yang perlu dia konsumsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
FARMASI BERDISKUSI
Non-FictionSatu lagi produk dari Program Kerja Kuro_Orenjiiro (Anindita A.W.) dalam rangkaian KKN UNS COVID-19. Masih seputar kefarmasian, nih! Sebelumnya, telah dilaksanakan diskusi melalui whatsapp perihal ilmu-ilmu kefarmasian yang dibagi menjadi 6 kali per...
