Assalamu'alaikum, pembaca sekalian!
Semoga hari ini pun pembaca sekalian berada dalam keadaan sehat dan selalu diberi kesehatan. Jangan lupa untuk selalu menerapkan protocol kesehatan, selalu mengenakan masker apabila keluar dari rumah dan selalu mencuci tangan apabila kembali dari bepergian. Semoga dengan usaha kecil tersebut kit adapt terhindar dari penyakit dan selalu berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bab ini adalah bab terakhir yang akan saya lakukan, terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti diskusi ini sejak bab pertama hingga bab terakhir. Semoga pembahasan ini memberikan manfaat kepada pembaca sekalian.
Meskipun ini adalah bab terakhir saya tidak menutup kesempatan apabila pembaca ingin menanyakan sesuatu perihal kefarmasian. Silakan untuk bertanya melalui email yang tersedia, insyaAllah saya akan membantu mencarikan jawaban dari pertanyaan pembaca sekalian.
pembahasan kali ini saya akan membawakan topik mengenai prospek kerja dari lulusan farmasi dan apoteker.
Untuk profesi pertama yang akan saya ceritakan adalah pekerjaan sebagai Apoteker di Rumah sakit maupun Apotek. Wah, profesi satu ini mungkin profesi yang paling dikenal oleh pembaca, ya. Profesi ini juga umumnya menjadi profesi yang diincar oleh mahasiswa-mahasiswa farmasi di Indonesia. Pekerjaan ini yang bisa memiliki posisi terdekat dengan pasien. Hal ini karena Apoteker di Rumah sakit maupun Apotek adalah yang bertugas mengecek dan menyampaikan perihal obat kepada pasien.
Namun, selain pekerjaan menjadi Apoteker di Rumah sakit dan Apotek, apoteker bisa bekerja di tempat-tempat lain. Seperti contohnya Apoteker dapat bekerja di Industri. Baik swasta maupun milik pemerintah.
Biasanya Apoteker yang bekerja di Industri adalah mereka yang tertarik dalam masalah formulasi dan teknik-teknik pembuatan sediaan. Ada berbagai bidang yang mungkin dijabat oleh seorang Apoteker di dalam industri. Bisa jadi Apoteker akan diletakkan di posisi Research and Development—yaitu posisi yang bertanggung jawab dalam melakukan penelitian dan perkembangan formula obat.
Atau Apoteker juga bisa bekerja di Industi dan menggeluti posisi Produksi, kontrol mutu, pemastian mutu atau posisi-posisi lainnya. Mengingat ketentuan CPOB 2018 juga mewajibkan jabatan Manager Produksi, Manager Kontrol Mutu dan Manager Pemastian mutu adalah seorang Apoteker.
Namun, biasanya Apoteker yang bekerja di Industri tidak mengetahui secara luas masalah-masalah spesifik pengobatan seperti yang diketahui oleh Apoteker yang bekerja di Rumah sakit maupun Apotek. Hal ini mungkin dikarenakan area kerja yang berbeda. Apoteker yang bekerja di Industri sehari-hari tidak bersinggungan dengan Pasien sehingga dia tidak mengetahui bagaimana perkembangan masalah pengobatan yang terjadi.
Kesehariannya Apoteker yang bekerja di Industri tidak menangani masalah efek samping obat, tidak menangani malasah pelayanan informasi obat, juga tidak melayani kebutuhan pasien seperti yang dilakukan Apoteker yang bekerja di Rumah Sakit maupun Apotek. Mereka lebih fokus dalam perancangan bentuk sediaan obat yang bisa memudahkan pengkonsumsian, atau bagaimana obat tersebut dibuat sehingga memenuhi standar mutu, dan lain-lain.
Sehingga bisa dilihat meski sebutannya sama-sama Apoteker tetapi keduanya memiliki kompetensi yang berbeda. Walaupun begitu tetap saja semua Apoteker minimal mengetahui pengetahuan dasar mengenai obat-obatan karena semua pembahasan telah diberikan selama perkuliahan di strata satu Farmasi.
Namun, agar pembaca sekalian dapat memperoleh informasi yang memuaskan, mungkin pertanyaan bisa diajukan kepada Apoteker dengan kompetensi yang sesuai. Artinya, informasi seperti cara penggunaan obat yang tepat atau pemilihan obat yang tepat bisa ditanyakan kepada Apoteker yang bekerja di Apotek atau Rumah Sakit.
Pekerjaan selanjutnya yang bisa digeluti oleh pelajar kefarmasian adalah bekerja sebagai peneliti. Bisa jadi di laboratorium-laboratorium rumah sakit, klinik, atau industri juga, atau lembaga-lembaga pemerintahan seperti LIPI. Farmasis yang menggeluti pekerjaan ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu-ilmu farmasi. Seperti contohnya mengembangkan potensi tanaman obat yang banyak sekali terdapat di Indonesia.
Karena pengetahuannya di bidang obat-obatan tradisional atau obat-obatan herbal, herbalis juga menjadi bidang yang cocok untuk digeluti pelajar-pelajar farmasi. Memiliki kebun herbal dan menjual produk herbal yang berkualitas dan tidak abal-abal tentunya akan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan bentuk pemanfaatan potensi kekayaan alam Indonesia.
Kemudian pekerjaan selanjutnya adalah sebagai Tenaga Pengajar. Bisa sebagai Dosen Kefarmasian atau sebagai Guru SMK di SMK Kefarmasian. Hampir semua bidang memberi kesempatan bekerja sebagai tenaga pendidik karena penyaluran ilmu akan selalu dibutuhkan.
Semakin tinggi minat terhadap farmasi, maka dibutuhkan semakin banyak tenaga pendidik untuk mengajarkan ilmu-ilmu kefarmasian. Di sini seorang Apoteker atau Ahli dalam Ilmu Farmasi dituntut untuk menciptakan lulusan farmasi yang berkualitas sekaligus mengembangkan ilmu yang dimilikinya.
Pekerjaan selanjutnya yang bisa digeluti oleh pelajar kefarmasian adalah bekerja di lembaga pemerintahan, seperti contohnya bekerja di BPOM. Biasanya tugas seorang Apoteker di BPOM adalah penyusunan regulasi terkait peraturan penggunaan obat-obatan, melakukan pengawasan terhadap peredaran obat, makanan dan kosmetik yang beredar di masyarakat.
KAMU SEDANG MEMBACA
FARMASI BERDISKUSI
Non-FictionSatu lagi produk dari Program Kerja Kuro_Orenjiiro (Anindita A.W.) dalam rangkaian KKN UNS COVID-19. Masih seputar kefarmasian, nih! Sebelumnya, telah dilaksanakan diskusi melalui whatsapp perihal ilmu-ilmu kefarmasian yang dibagi menjadi 6 kali per...
