Chapter 8

316 17 0
                                        

Aku pergi untuk mendapatkan mu tapi mengapa kehancuran yang menyambut ku ?

Hawa -

Entah sudah berapa lama Hawa berdiri di persimpangan jalan ini, meratapi nasib nya. Mata nya sudah sembab karna terus menerus menangis, hidung nya sudah memerah dan dada nya sudah sesak akibat terlalu lama menangis.

Seakan iman yang sudah ia bangun selama ini runtuh hanya karna seorang pria dan sahabat nya sendiri.

Penampilan Hawa sudah tidak karuan saat ini, baju yang basah kuyub dan wajah yang terlihat sayu tak berenergi, ia kemudian memilih untuk pulang.

Hawa tak habis pikir dengan diri nya sendiri bisa sampai seperti ini hanya karna seorang pria yang sudah jelas tidak akan menjadi milik nya.

Semenjak saat itu ia menjadi pribadi yang pemurung, tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun, Hawa menjadi seorang yang lebih suka menyendiri dan tidak mau lagi bergaul dengan banyak orang, impian nya saat ini hanya satu yaitu mengharapkan datang nya keajaiban yang bisa menjadikan Shaka milik nya.

Di kampus .

" Hawa " panggil seseorang, yang ternyata adalah Nasya.

" Ya " jawab Hawa singkat.

" Kamu kenapsih dari awal berangkat tadi kok diem terus, biasa nya kamu paling semangat" tanya Nasya.

" Gak papa " balas Hawa dengan ekspresi muka datar

" Ohh iya, nih " Nasya memberikan sebuah kertas yang mirip seperti kertas undangan pernikahan kepada Hawa.

" Apa ini ? " tanya Hawa sambil melihat kertas undangan itu yang ternyata adalah undangan pernikahan Shaka dan Aisyah.

Lemas sudah tubuh Hawa, tenaga yang tadi masih bisa menopang tubuh nya kini sudah tidak kuat, ia terjatuh. Perasaan baru kemarin Aisyah bilang kalau dia dilamar Shaka kenapa sekarang sudah mau menikah saja.

" Hawa kamu kenapa ? " tanya Nasya yang mulai cemas.

" Ini undangan nya beneran ? " bukan nya menjawab Hawa malah tanya balik.

" Iya, sabara ya wa " hanya itu yang bisa di sampaikan Nasya.

Entah apa yang terjadi pada Hawa, ia kini mulai menangis sejadi-jadi nya melihat undangan itu. Lebay memang jika orang lain yang melihat, untung nya Hawa sekarang sedang di kelas hanya berdua dengan Nasya, seperti nya Aisyah mengambil cuti kuliah untuk mempersiapkan pernikahan nya.

" Udah wa jangan nangis ah, malu kalau di liatin orang " ucap Nasya yang tidak digubris sama sekali oleh Hawa.

" Kenapa Aisyah gak bilang sama aku kalau dia mau menikah dalam waktu dekat ini " tanya Hawa akhir nya setelah beberapa saat.

" Kemarin aku sama Aisyah udah ke rumah kamu, tapi kata ibu kamu gak ada di rumah, kamu kemarin kemana emang nya wa ? " jelas Nasya.

Alay, lebay kata-kata itu pasti akan keluar jika orang lain yang tidak tahu masalah Hawa tapi tetap saja ingin ikut campur.

Entah memang sangking cinta nya Hawa kepada Shaka atau obsesi Hawa yang terlalu besar untuk mendapatkan Shaka, ia terlihat seperti orang gila sekarang.

Seperti yang sudah ia prediksi, iman yang selama ini Hawa bangun susah payah seketika hancur hanya karna seorang laki-laki, hawa yang ini berbeda dengan hawa yang sebelum nya, dulu ia begitu percaya akan kekuatan doa tapi mungkin doa-doa nya selama ini belum cukup untuk menandingi doa yang selalu dipanjatkan oleh Aisyah dan Shaka untuk satu sama lain.

Atau mungkin Allah punya rencana yang lebih baik dari ini untuk Hawa dan mungkin juga Shaka bukan yang terbaik untuk Hawa.

Hawa keluar kelas dengan keadan menangis dan sesekali juga tertawa sudah persis dengan orang yang bergangguan jiwa. Nasya dibuat bingung dengan keadaan sahabat nya yang satu ini, entah diri nya harus berbuat apa kepada Hawa.

Doa di Sepertiga Malam kuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang