2-TEMAN BARU

20 4 0
                                    

Aku hafal betul seluk beluk Pondok Pesantren Daarud Dzikri. Ada kurang lebih seribu santri yang tinggal di empat asrama. Asrama Umar Al-Faruq untuk santri tingkat madrasah aliyah putra, Abu Bakar Asshidiq untuk santri madrasah tsanawiyah putra, asrama Ummu Khadijah untuk santri putri tingkat madrasah aliyah, dan asrama Fathimah Azzahra untuk santri putri tingkat madrasah tsanawiyah. Sedangkan santri ma’had aly menempati satu atau dua kamar di masing-masing asrama. Aku memilih untuk tinggal di Asrama Ummu Khadijah, asrama yang aku tinggali selama tiga tahun terakhir din masa madrasah aliyah.
“Assalamualaikum,” Langkahku terhenti di depan pintu. Seingatku, hanya ada empat mahasantri yang bermukim di Asrama Ummu Khadijah. semuanya sudah aku kenali. Kak Diana, Kak Aulia, Kak Dhea, dan Kak Rahma. Tapi perempuan yang sekarang duduk di kamar ma’had aly itu tidak kukenali.
“Waalaikumsalam,” Aku mengira, seisi Daarud Dzikri pun akan tetap sama. Tidak pernah terlintas dipikiranku bahwa aku akan mendapati orang lain untuk menjadi angoota baru santri ma’had aly. “Masuk saja kak, tidak apa-apa,” Perempuan itu mempersilakanku masuk. Sepertimya dia mengerti bahwa aku ragu-ragu untuk memasuki kamar.
“Santri baru kak?”
“Iya. Aku Lyra. Kamu?”
“Aku Jingga, salam kenal Lyra,” Aku diam. Tidak tahu akan membicarakan apalagi. Lebih memilih untuk memasukkan barang pribadiku ke dalam almari.
“Berapa tahun kamu ada di Daarud Dzikri?” Lyra membuka pertanyaan lagi. Nada bicaranya acuh, seakan dia bertanya hanya untuk basa-basi. Tatapan matanya tetap terfokus pada gawai.
“Ini tahun ketujuh. Kenapa?”
“Bisa ya? Aku pernah di sini sebulan, terus udahan. Gak betah. Peraturannya ketat, sekolahku juga jauh, jadi aku pindah ke asrama yang dekat dengan sekolah”
“Hah? Serius? Kapan kamu di sini? Aku gak pernah lihat kamu?”
“Aku ke sini waktu awal pembelajaran kelas XII. Tinggal di asrama Fathimah Azzahra biar dekat sama Ustadz Ali”
“Kamu keponakannya Ustadz Ali?” aku bertanya memastikan. Dulu aku pernah mendengar kabar burung mengenai kedatangan santri baru keponakan Ustadz Ali, salah satu ustadz senior di Daarud Dzikri. Semua santri pasti mengenali beliau.
“Sebenarnya bukan, tapi ayahku adalah teman dekat Ustadz Ali, jadi yaa anggap saja kami keluarga”
Percakapan kami terhenti karena Kak Dhea, wali asrama Ummu Khadijah memasuki kamar. Dia tampak terkejut dengan kehadiranku. Aku memang belum melapor akan kedatanganku ke pesantren hari ini.
“Loh Jingga, sejak kapan datang?”
“Emm…sekitar jam empat sore tadi kak, maaf belum lapor” Aku menjawab dengan merasa bersalah, karena aku benar-benar tidak mengonfirmasikan kedatanganku.
“'Iya tak apa. Sudah kenal dengan Lyra?”
“Sudah,”
“Oke, kalian nanti satu kamar ya. Bersama Kak Diana juga, Kak Diana akan ke sini minggu depan”
“Iya kak,” Aku dan Lyra menjawab bersamaan. Setelahnya, kami saling pandang. Baiklah, sepertinya tahun ketujuh di Daarud Dzikri akan berjalan lebih baik dengan seorang teman baru.

Tahun Ke-7Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang