4

47 26 1
                                        

Setelah kejadian memalukan di kantin tadi, aku hanya diam tidak bicara pada Alya, bukan karena marah hanya saja seperti ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Mungkin seperti rasa kesal?

"Pulang bareng yu" ajak Alya kepadaku.
"Lo marah ya gara-gara kejadian tadi, ihhh jangan marah dong, gue kan becanda doang masa lo baper sih, lagian Kak Aksa juga gak bakal baper kok"
Tiba-tiba saja hatiku semakin memanas, Tuhan apa maksud perasaan ini, bukan kah aku hanya kesal karena malu? Tapi kenapa aku berharap lebih untuk diperhatikan oleh Kak Aksa?

"Aku mau mampir ke toko buku dulu, jadi kamu pulang duluan aja ya". Iya begitulah, setelah beberapa bulan menabung, sebagian uangnya memang sering aku gunakan untuk membeli buku, aku memang sangat menyukai buku-buku novel, puisi, dan self-improvment tapi aku kurang menyukai buku dalam genre lain.
"Mau beli buku apa?"
"Seingat aku Tere Liye udah rilis Novel baru dalam seri fiksi petualangannya"
"Tere Liye itu siapa?"
"Ya penulis bukulah" jawab ku agak meredam kesal
"Fiksi petualangannya yang mana sih emang, gue gak tau tapi kayak gak asing aja gitu"
"Novel seri Bumi-Bulan-Matahari dan yang lainnya" jawabku menjelaskan dengan semangat. Entahlah jika mengenai buku yang sesuai dengan kesukaan ku, aku selalu bersemangat untuk menjelaskannya pada siapa pun.
"Yaudahlah ayoo kita ke toko buku bareng aja"
"Lohh kamu mau beli buku juga?"
"Engga sih gue cuma mau liat-liat aja" jawabnya sambil tertawa

Sampai digerbang depan sekolah Alya melambaikan tangannya kepada Supir yang menjemputnya. Alya dan aku duduk di kursi belakang.

"Non Alya, Mas Aksanya belum pulang ya?" Tanya supir Alya
"Udah ko Pa Rahmat, tunggu aja ya"
Aku hanya diam, mengingat aku akan satu tempat lagi dengan lelaki itu. Tangan ku tiba-tiba menjadi dingin. Kenapa lagi sih ini, kesal ku dalam hati.

"Loh ya, bareng sama Ersya ya?" Tanya Aksa to the point saat telah masuk kedalam mobil.
"Iya nih kak tapi..." ucapan Alya terpotong oleh Aksa
"Tapi kakak mau ke toko buku dulu"
Mendengar itu pun aku seketika menegang, rupanya aku mempunyai satu tujuan yang sama dengan kak Aksa.
"Sama kok kak, ini Ersya juga mau ke toko buku dulu, katanya mau beli novelnya liye liye itu"
"Tere Liye Alyaa" jawab ku dan kak Aksa bersamaan.
"Nahh itu maksudnya" kata Alya tanpa memerhatikan aku dan kak Aksa yang sedang saling berpandangan. Apakah dia juga menyukai penulis itu gemuruh jantungku

"Nahhh sya, makanya gue seakan gak aneh sama penulis buku itu, soalnya kak Aksa juga suka sama penulis buku itu" mendengar Alya berbicara seperti itu, Kak Aksa langsung memalingkan pandangannya ke arah lain, sebelum Alya sadar kami saling berpandangan.
"Oh gtu ya" jawab ku singkat

Perjalanan ke toko buku sungguh hening, Alya hanya fokus dengan handphonenya. Dan aku hanya diam memandangi perjalanan ke toko buku.

Tak lama kami telah sampai di toko buku setelah itu kami turun bersama, namun tak lama Alya pamit pada Aksa untuk pergi ke suatu tempat, aku tidak mendengarkan percakapan mereka karena aku pamit langsung masuk ke toko buku itu.

"Hai"
"Loh Kak Aksa, Alya kemana?"
"Biasalah dia mah lagi mau ketemuan sama orang"
"Orang?"
"Gebetannya mungkin sya"
"Oh gitu ya"
"Btw, lo lagi cari buku apa?"
"Lagi mau beli buku Tere Liye yang baru rilis nih"
"Beberapa bulan terakhirkan Tere Liye emang udah rilis buku ya"
"Seri petualangan kak"
"Ohh yang itu"
"Iya kak"

Tak lama Kak Aksa telah mengambil sebuah buku berjudul "Pulang-Pergi" dan aku mengambil sebuah buku "Nebula"
"Padahal cerita petualangannya udah selsai, masih setia aja baca bukunya"
"Hehe aku masih suka aja kak, selalu menarik kok"
"Iya sih sya"
"Kakak lebih suka novel fiksi yang berantem-berantem ya?"
"Karena buku ini? Engga kok, gue udah ngikutin serial itu juga"
"Ohh gitu"
Kemudian aku berhenti pada sebuah jajaran buku karya Lala Bohang, ahh sungguh membingungkan, benar juga serial petualangan ini sebenarnya telah selsai tapi masih banyak hal yang ingin aku tau dari fantasi-fantasi Tere Liye ini, tapi aku juga ingin membeli buku Lala Bohang ini.
Tiba-tiba saja Kak Aksa mengambil sebuah buku Lala Bohang yang berjudul " The Book of Invisible Question" dan aku pun mendadak terdiam karena dia menyerahkannya kepadaku.
"Lo boleh baca duluan, nanti kalo udah selsai lo kasih ke gue"
Aku hanya diam, bagaimana bisa, dia selalu mempunyai cara-cara untuk membuat ku merasa sesak nafas seperti ini?

Holla :))
Gimana menurut kalian? Bantu aku cek typo dan kasih Patrick Star nya yaaa❤️❤️❤️

All About YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang