Waktu itu mereka masih kelas Vl SD. Masih bocil yang suka manjat-manjat pohon. Rumah Axel dan Nanda itu satu komplek. Jadi gak heran kalo awalnya mereka itu temen Deket sebelumnya. Sampe suatu kejadian di sore hari itu tiba.
Sore itu Nanda sedang dalam edisi ngambek sama kembaran nya. Karna Nando tidak mau menemani Nanda yang disuruh bunda ke warung depan komplek untuk membeli gula.
Jadilah dengan jalan yang diseret Nanda menyusuri jalan komplek yang pinggirnya di penuhi pohon-pohon milik tetangga. Kebetulan waktu itu sedang musim mangga. Musim yang Nanda suka. Soalnya dia suka membantu pa'de Budi kalo lagi panen dan dia akan di beri mangga Arum manis terenak di kompleksnya.
Awalnya memang biasa saja. Tidak ada yang aneh. Sampai dia tiba di depan rumah Dian yang juga punya pohon mangga juga. Mangga manalagi, pula. Buahnya lebat dan ranum-ranum hampir matang. Pokoknya bikin Nanda ngiler. Jadi Nanda berhenti di bawah pohon itu mengamati pohon rindang penuh buah itu cukup lama. Tidak ada yang aneh. Sampai tiba-tiba dahan yang paling lebat buahnya Dan kebetulan tepat diatas nya itu bergoyang-goyang rusuh seperti ada yang menggoyangkan.
Nanda takut. Bagaimana jika itu Tante Kunti yang tadi siang diceritakan oleh Axel? Tapi kan ini masih sore masa iya? Nanda sudah akan lari saat itu. Tapi terhenti saat dengar suara seseorang yang mengaduh kesakitan dan mendesis-desis. Dahan itu makin bergoyang tidak beraturan. Nanda masih mendongak keatas penasaran.
Hingga sebuah teriakan membuatnya kaget dan melotot. Di sana, di atas dahan itu Axel sudah bergelantungan akan jatuh. Dahan itu memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup sakit bila jatuh dari sana. Axel hanya bergantung dengan satu tangan satu tangannya lagi menggaruk-garuk kedalam kaos hijaunya. Nanda ingin menolong Axel tapi bingung harus bagaimana.
Akhirnya Nanda mencoba meraih kaki Axel yang juga tidak mau diam karna sepertinya semut rangrang penghuni pohon mangga Dian mengamuk dan masuk ke baju dan celana Axel.
"Nanda celana ku jangan ditarik dong...!!" Teriak Axel dengan masih bergelantung.
"Gak usah banyak omong... Nanda bisa nangkep Axel kok... Ayo turun!"
Jadilah karna sudah tidak tahan terus bergelantungan dengan semut yang terus mengigitnya, Axel tanpa aba-aba menjatuhkan diri. Membuat Nanda yang dibawahnya gelagapan ingin menangkap tubuh Axel.
"Aaaaaa...."
Brugh
Tapi sepertinya kata-kata Axel benar. Tubuh Nanda terlalu kecil untuk menangkap tubuh bongsornya. Jadilah sekarang tumbuh kecil Nanda tergencet badan bongsor Axel. Dengan posisi Nanda terlentang dibawah Axel. Parahnya lagi bukan hanya badannya yang tertimpa tubuh Axel. Bibirnya pun tertimpa bibir Axel.
Nanda melotot kaget. Lalu mengeliat minta dilepaskan.
Tapi Axel malah hanya berkedip-kedip. Merasa aneh dengan bibirnya yang menempel dibibir Nanda. Abai dengan tubuh bongsornya yang menimpa Nanda. Axel malah mengecup-ngecup bibir Nanda hampir melumat kalo di lihat. Pikirnya bibir Nanda itu seperti permen yupi yang sering di makan Dian. Kenyal dan manis.
Axel terus mengecap bibir Nanda. Abai dengan Nanda yang hampir menangis karna Axel. Dan abai dengan Dian si pemilik pohon mangga yang keluar setelah mendengar keributan di depan rumahnya.
Mata Dian melotot dengan mulut yang terbuka lebar. Lalu dengan cepat menutup matanya dengan tangan dan berteriak kencang...
"MAMA... AXEL SAMA NANDA BOBOAN DIJALAN...!!!"
Teriakan itu sukses membuat Axel dan Nanda kaget, tapi tidak mengubah posisinya. Sedangkan yang dipanggil tergompoh keluar bersama suaminya. Tak kalah kaget dengan anaknya tadi.
"Ma, tadi Axel makan bibir Nanda!" Ucap Dian sambil menunjuk kearah dua anak yang masih diposisinya dengan mata yang membulat lebar.
Papa nya Dian segera menghampiri Axel dan Nanda, lalu menjewer kuping Axel hingga anak itu bangun dari posisinya. Sedangkan Nanda langsung bangkit dengan mata yang berkaca-kaca.
"A-aduh... Pa'de kuping Axel jangan ditarik sakit ini..."
"Kamu ngapain anak orang Axel?, Terus ngapain manjat-manjat pohon mangga pa'de udah tau banyak semut rangrang nya, kok malah dipanjat sih?!" Omel papa Dian.
"Aduh pa'de... Axel tuh tadi di suruh Nanda buat ngambilin buah mangga... Tapi terus jatuh gak sengaja nimpa Nanda..." Axel tuh emang dasar udah bandel dari kecil ya gitu bisa aja ngelempar kesalahan ke orang lain.
"Huee... Kok Axel jadi nyalahin Nanda?! Kan Axel tadi yang manjat-manjat pohon... Nanda hiks cuma bantu pas Axel mau jatoh... Axel bohong pa'de!" Nanda berakhir nangis.
Axel melotot kearah Nanda. Tidak terima dibilang begitu walau nyatanya benar.
"A-ADUH PA'DE... IYA AXEL NGAKU IYA..." Jerit Axel saat tarikan di kupingnya semakin keras.
"Duh, Axel padahal kalo mau tinggal bilang... Pa'de ini kakaknya mama-mu loh... Ayo sini biar pa'de aduin ke mama mu... Biar kapok kamu!"
Mama Dian mengelus kepala Nanda yang masih sesegukan. Sedangkan Nanda memeletkan lidahnya waktu Axel menoleh ke arahnya.
"Nanda pulang di anter Dian nya?" Ucap mama Dian lembut.
Nanda mendongak lalu mengangguk. Setelahnya, Nanda dengan kantong plastik isi mangga pulang di antar Dian. Lupa dengan perintah bundanya untuk membeli gula. Di perjalanan mereka hanya diam di selingi dengan suara segukan Nanda.
Dian sesekali mencuri pandang pada Nanda. Kadang pula menatap bibir Nanda lama. Mungkin heran kenapa tadi Axel memakan bibir merah itu.
Lalu saat jarak rumah Nanda tinggal satu rumah lagi Dian bertanya,
"Nanda tadi Axel makan bibir kamu ya? Kok gitu? Emang boleh? Kalo boleh aku mau juga dong." Ucap Dian sambil mengedipkan matanya.
Sedangkan Nanda langsung menghentikan langkahnya. Teringat tadi Axel memakan bibirnya. Mukanya memerah. Lalu dengan cepat menutupi bibirnya. Dan berlari masuk ke halaman rumahnya. Terus berlari hingga ke kamar kembarannya.
Menubruk tubuh Nando lalu menangis sesegukan hingga tertidur.
Sejak saat itu setiap bertemu dengan Axel dan Dian dimana pun dan kapanpun itu, Nanda selalu menampilkan wajah garangnya kepada mereka terutama Axel.
Axel yang jengkel pun juga tak mau kalah membalas perlakuan Nanda yang menurutnya menyebalkan.
Dan untuk masalah makan-memakan bibir itu hanya Nanda, Axel,dan Dian yang tau. Selebihnya tidak ada.
Jadi begitulah awal Axel dan Nanda yang tidak pernah akur dimana pun dan kapan pun.
-tbc-
Maaf buat kegajeannya hehe... Dan segini dulu ya🙃
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.