⛔ ON HOLD ✨
❗cerita halu tingkat tinggi❗
Dia adalah sang penguasa.
Pimpinan gangster yang paling ditakuti.
Tak tertandingi.
Tidak mengenal ampunan.
Bahkan sanggup berkelahi tanpa terluka.
Semua kalangan takluk kepadanya.
Karena dia juga penerus peru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Claretta Wendy Malik adalah seorang anak perempuan berumur 17 tahun yang baru saja lulus dari bangku SMA. Kini dia sedang berada di kamarnya membereskan barang-barang untuk pindahan dari Surabaya ke Jakarta.
Wendy adalah anak paling tua dari dua bersaudara, adik laki-laki nya bernama Anugerah Daffa Malik berbeda usia dua tahun dengannya. Ayahnya bekerja di perusahaan kontraktor yang berada di Papua menyebabkan mereka diurus oleh bude nya, sedangkan ibunya sudah meninggal dunia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wendy adalah salah satu anak yang cerdas, selalu menjadi peringkat teratas dan mewakili berbagai perlombaan untuk sekolahnya. Dia juga bahkan berhasil lolos uji seleksi SBMPTN jurusan Manajemen di Universitas Negeri Surabaya. Namun walaupun telah lolos uji seleksi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit tersebut, Wendy harus melepaskan nya.
Alasannya adalah karena dia juga diterima oleh Universitas Dirgantara Indonesia. Walaupun universitas swasta, Universitas Dirgantara Indonesia merupakan universitas dengan peringkat nomor satu di pelosok negeri. Karena universitas itu menyediakan fasilitas kampus, dosen terbaik dengan kurikulum tingkat internasional. Sehingga kualitasnya jauh lebih baik daripada perguruan tinggi lainnya.
Universitas Dirgantara Indonesia sendiri di kelola oleh Dirgantara Group, perusahaan nomor satu di Indonesia yang bergerak di berbagai bidang. Itulah mengapa banyak lulusan universitas itu juga tidak perlu pusing memikirkan jenjang karir setelah lulus kuliah disana. Karena mereka bisa mendapatkan jalur khusus penempatan bekerja di salah satu perusahaan milik Dirgantara Group.
Untuk masuk kedalam universitas itu juga bukan hal yang mudah karena tes jalur masuknya bahkan jauh lebih susah dari uji seleksi SBMPTN ataupun uji seleksi perguruan tinggi lainnya. Semua mahasiswa universitas tersebut dibagi menjadi tiga kategori, antara sangat kaya (banyak para calon penerus perusahaan yang disekolahkan di universitas tersebut dengan biaya yang sangat tinggi), sangat cerdas (sehingga bisa mendapatkan beasiswa full) atau cerdas dan cukup kaya.
Dan Wendy berada pada kategori ketiga, otaknya cukup cerdas sehingga bisa lolos ujian seleksi masuk universitas tersebut dan ayahnya mampu membiayai biaya kuliahnya. Itulah mengapa Wendy langsung berani melepas UNS nya dan merantau ke Jakarta.
“Winning doesn’t always meanbeing first. Winning means you’re doing better than you’ve done before.” - Bonnie Blaire.
Wendy menatap buku diary nya yang telah menjadi sahabat hidupnya. Berbagai quotes ditulisnya sebagai penyemangat hidup.
"Jangan sampe ada yang ketinggalan ya wen, lumayan jauh loh Jakarta Surabaya.." Ucap Bude Ayu, kakak perempuan ayahnya.
"Sudah semua kok bude, tenang aja wendy kan perfeksionis hehe.." Balas Wendy.
"Yasudah baguslah kalau begitu, maaf bude tidak bisa mengantar kamu ya Wen.. Daffa sudah mulai sekolah juga, gak bisa Bude tinggal," Ucap Bude Ayu.
"Yaampun iya gak usah bude, repotin banget.. Wendy bisa kok beres-beres sendiri.. Lagian bude juga sudah tau kan tempat tinggal Wendy di sana." Balas Wendy.
"Iya sayang, hati-hati loh kamu pokoknya.. Kunci pintu terus." Ucap Bude Ayu sambil tersenyum ramah.
Wendy pun menatap rumah yang sebentar lagi akan ditinggalkan olehnya. Terlalu banyak kenangan manis di Surabaya baginya, namun dia juga tidak sabar untuk merantau ke Jakarta.
✨✨✨
Malam hari ini Wendy berbelanja di supermarket yang tidak jauh dari rumahnya. Sebenarnya dia hanya ingin menikmati saat-saat masih di Surabaya, karena sebentar lagi dia akan lebih sibuk di Jakarta. Itulah mengapa dia hanya membeli beberapa snack saja, untuk kebutuhan sehari-hari, Wendy akan membeli nya saat tiba di Jakarta untuk mempermudah pindahannya.
Waktu sudah mulai pukul setengah sembilan malam. Wendy memang tidak biasanya pergi selarut ini, tapi dia menikmati indahnya alun-alun kota Surabaya. Wendy pun membeli seblak Mbok Darmi langganannya.
"Mulai besok kamu pindah Jakarta ya, nduk?" Tanya Mbok Darmi.
"Iya buk.. Merantau hehe," Jawab Wendy.
"Walah, hati-hati yaa nduk. Kata orang, Jakarta itu keras," Ucap Mbok Darmi.
"Tenang aja mbok, Wendy tahan banting kok anaknya. Gak bakal macem-macem juga hehe," Jawab Wendy.
Wendy lalu menghabiskan makanannya dan berjalan pulang. Dia juga bukan tipe anak yang sering keluar malam.
Setelah sekitar dua puluh meter berjalan dia mendapati seorang laki-laki yang berjalan sambil terhuyung dengan luka dibagian tangan dan perutnya. Dikarenakan jalan yang sangat sepi sekali Wendy langsung berlari ke arah laki-laki itu.
"TOL.." saat Wendy ingin berteriak meminta tolong laki-laki itu justru malah menutup mulutnya.
"Diam," Ucap laki-laki itu. Beberapa menit kemudian terdengar suara rombongan laki-laki yang sedang berlari.
"Cih bangsat," Ucap laki-laki didepan Wendy langsung menarik tangan Wendy dan bersembunyi di balik pohon besar di sebelah mereka.
Lalu Wendy mengintip sedikit, terdapat setidaknya sepuluh laki-laki berbadan besar yang berlari dan mencari-cari seseorang, mereka terlihat seperti preman. Setelah rombongan laki-laki itu pergi, Wendy berbisik kepada laki-laki disebelahnya itu.
"Ikut aku, mereka mungkin bakal nyari di gang ini. Soalnya mereka ke arah jalan buntu." Bisik Wendy.
Laki-laki itu sempat berpikir sebentar dan mengangguk pelan. Walaupun terluka hebat, laki-laki itu tetap dapat berlari pelan. Wendy mengajaknya ke warung seblak Mbok Darmi.
"Mbok, kita numpang ngumpet ya, aku nemu dia dikejar banyak preman.. Tolong ya mbok." Kata Wendy cepat namun terbata-bata.
"Sini-sini dikolong lemari," Tunjuk mbok Darmi.
Wendy dan laki-laki itu lalu duduk didalam kolong lemari yang awalnya berisi persediaan bahan baku untuk seblak. Laki-laki itu terhuyung setengah sadar dan ditangan kirinya terdapat bekas suntikan. Tanpa sadar Wendy menarik laki-laki itu kedalam pelukannya. Laki-laki itu mengingatkan dia dengan Daffa, adiknya, walaupun jelas terlihat lebih tua dari adiknya.
Benar dugaan Wendy, ada suara rombongan laki-laki datang ke warung seblak Mbok Darmi. "Misi bu, liat ada cowok gak lewat sini?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Cowok? Gaada siapa-siapa mas, udah malem juga, jam segini mah sudah sepi banget makanya saya mau tutup." Sandiwara Mbok Dari sangat meyakinkan walaupun Wendy tetap deg-degan.
"Disini ada jalan lain gak ya bu?" Tanya salah seorang lainnya.
"Gaada sih mas, sini jalan buntu.." Jawab Mbok Darmi.
"Bangsat! Kalo dia selamat maka kita yang mampus!" Gertak satu orang diantara mereka.
"Dia pasti belum jauh, bius yang gue suntik kuat banget soalnya," Omong salah seorang lainnya.
"Heh gobl*k! Kalo bius yang lo suntik itu kuat kenapa dia masih bisa jalan dan berantem lawan kita?" Ucap salah seorang lagi.
"Ya mana gua tau anj*ng! Lagian kalo dia gak dibius, kita semua udah mati lawan dia. Dan dia juga gak bakalan terluka sama sekali! Lo taukan dia siapa?" Jawab laki-laki itu.
"Cih sialan.. Adelio Saga Dirgantara, lo harus mati malam ini.." Ucap laki-laki itu.