5. Holaholo

59 11 3
                                    

[Refrein main]

Sebuah oval raksasa tampak menguasai dunia seisinya, mengintimidasi semua makhluk yang bersembahyang di bawah titahnya. Oval raksasa yang berpijar kelabu itu bergeming, dengan posisi berdiri yang agak miring ke bawah. Seolah tertahan di udara, seperti akan jatuh. Oval tersebut kuat terpancang pada tempatnya, tidak mudah roboh oleh sedikit pun gangguan.

Berikutnya, satu bola tercipta di sisi kanan, berotasi dan bergerak menyamping seakan tertarik menuju pusat oval raksasa, kemudian berpindah agak ke bawah, diam statis di situ. Satu bola lagi tercipta di sisi kiri, kali ini hanya berotasi, tidak bergerak ke mana-mana. Bola di bawah pusat bergerak maju mundur berulang kali, depan belakang berulang kali, kanan kiri berulang kali, berputar di tempat, berotasi, terus-menerus aktif bolak-balik. Sementara itu, bola di sisi kiri berdiam saja. Selepas oval raksasa berkedip-kedip sejenak, bola di dekat pusat turut berhenti, ikut diam.

Selanjutnya, tercipta galaksi luar biasa nan indah lagi berkilauan.

[Refrein setop]

***

Orang-orang tidak acuh pada kehadiran beberapa sosok kecil bersayap yang bersembunyi di dalam rimbunnya pohon-pohon penghijauan. Mimpi buruk semalam hanyalah mimpi belaka, tidak nyata dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap dunia fana.

Di tepi jalan tanah lempung, Kambodja terlihat asyik terkoteng-koteng, memperhatikan kamera di genggaman yang diangkat agak ke depan wajah. Seakan-akan, wanita muda yang mengenakan kemeja dan rok itu membuat dunia imajinatif sendiri, kemudian tenggelam di dalamnya, berlarut-larut terlena oleh kenikmatan semu hingga lupa daratan. Bayangkan, segala sesuatu yang mustahil ada di dunia nyata dapat dengan mudahnya didapatkan di sini. Fantasi membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Namun, tahu-tahu seseorang membuat terkejut hingga Kambodja harus menoleh dan menurunkan kamera. Runtuh sudah dunia khayalan yang sudah susah-susah dia ciptakan. Sang Kreator menunjukkan raut ekspresi kecewa karena harus ditarik kembali ke dunia nyata. Semua dinding pertahanan runtuh seketika akibat kedatangan seorang penyusup.

Bu Kop, nama yang akrab bagi wanita paruh baya bertubuh gempal dan agak bongsor serta rambut sedikit berubannya dikonde juga mengenakan kebaya pun rok pula memakai topeng--sebentar, ambil napas dahulu--memanggil dengan nada khas ibu-ibu berkarisma. Jelas, beliau memiliki banyak anak sehingga harus berwibawa supaya para kerucil menurut dan mau diatur.

“Nak Kam, di sini kamu rupanya.”

Bu Kop rupanya tidak sendiri. Beliau bersama seorang pria jangkung bertubuh kurus yang memakai kemeja kelabu serta celana panjang. Orang itu tampak eksentrik, memiliki bentuk wajah segitiga dengan dagu lancip. Matanya sipit ditambah kerutan kantung berlapis di bawah. Rambut panjang berubannya disisir rapi dan tampak mengilat di bawah sinar mentari.

“Jadi ini Kambodja yang dibicarakan semua orang itu, ya?” soal si pria.

Ah, apakah Kambodja seterkenal itu? Wanita yang ditanyai mengiakan, kemudian agak membungkukkan badan, mengulur lengan lalu berjabat tangan. Tak lupa senyum manis dia tunjukkan.

Bu Kop memperhatikan gerak-gerik dua orang itu--atau jangan-jangan hanya Kambodja saja?--lalu menyahut, “Mumpung Nak Kam libur di hari Minggu, jadi saya mengajaknya berjalan-jalan, menyaksikan panen kacang tanah di sini.”

Muncullah sebaris kalimat yang rasanya kurang afdal jika tidak diucapkan.

Kambodja, perkenalkan, ini Pak Sugeng; Pak Sugeng, perkenalkan, ini Kambodja.

Dua insan tersebut saling cengir-cengir.

Bu Kop menjelaskan bahwa Pak Sugeng merupakan pembuat topeng paling terkenal di Desa Soco. Ya, itu karena dia satu-satunya pembuat topeng di sini.

People under Construction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang