Saling Mengenal

1.1K 118 24
                                        

Dira keluar dari ruangan Ai dengan wajah merunduk, membawa kantong kertas berisi smartphone yang baru saja diterimanya. Dia mengabaikan pertanyaan dari semua orang di kantor, termasuk Ben dan Janu, yang terlihat bingung melihat sikapnya.

"Dira, kamu kenapa diam saja, sih?" tanya Ben dengan nada kesal. "Kamu nggak dipecat sama Mbak Ai, kan?"

Dira menggeleng pelan. "Ben, antar aku pulang, dong," ucapnya lirih, tanpa menatap Ben.

"Ya, boleh," balas Ben, senang mendapat kesempatan itu.

Hari itu berlalu dengan suasana hati Dira yang diliputi renungan. Ia merasa malu atas prasangka buruknya terhadap Ai, bosnya. Di rumah, sikap Dira pun berubah, jauh lebih pendiam dibanding biasanya. Bahkan ibunya mulai curiga.

"Nak, kenapa dari tadi kamu diam saja? Apa kamu dipecat lagi?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.

"Tidak, Buk. Malah bos saya itu terlalu baik," jawab Dira dengan suara pelan.

"Ya bagus, dong. Kamu bisa belajar banyak dari dia. Siapa tahu bisa ikut sukses seperti dia," sahut ibunya sambil tersenyum lega. "Kepalamu masih sakit?"

"Sudah mendingan, Buk. Habis ini aku minum obat," balas Dira.

"Ya sudah, habis ini segera istirahat, ya," saran ibunya sambil memberikan segelas air putih.

Sore berganti malam, menyelimuti suasana hati Dira yang masih galau. Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya kurang mampu melindungi diri sendiri.

"Yang, kamu kenapa, sih?" tanya Hikam, suaminya, yang heran melihat istrinya lebih pendiam dari biasanya.

"Mas, aku boleh tanya sesuatu nggak?"

"Mau tanya apa?"

"Bagaimana kamu melakukan semuanya?" Dira menatap suaminya penuh rasa ingin tahu.

"Melakukan apa?"

"Selalu mendukungku meskipun aku sering gagal. Kamu mau tinggal bersama orang tuaku, mengurus mereka seperti orang tua kandungmu sendiri. Kamu bahkan tetap menerimaku apa adanya, meskipun aku belum pernah melahirkan seorang anak dalam rumah tangga kita," ujar Dira dengan suara lirih.

Hikam tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan istrinya. "Aku hanya menjaga apa yang kumiliki, termasuk diriku sendiri," ucapnya. "Aku selalu mencoba menjadi versi terbaik dari diriku—bekerja semaksimal mungkin, menjaga tanggung jawabku, dan mencintai kamu apa adanya. Aku tidak pernah menghancurkan diriku sendiri. Egois, kan? Tapi itu caraku untuk bisa terus memberikan yang terbaik, termasuk untukmu."

Dira terharu mendengar kata-kata suaminya. Dia semakin merasa bersalah karena akan meninggalkan Hikam selama dua bulan ke depan.

"Mas, boleh peluk nggak?" ucapnya pelan.

"Sini," jawab Hikam sambil membuka kedua lengannya.


Dira memeluk suaminya erat. "Nanti aku pasti kangen banget sama kamu," bisiknya. Dalam hati, ia berkata, Ternyata selama ini aku tidak cukup baik mengenali diriku sendiri. Aku sering menghancurkan diriku hanya karena merasa mampu. Mungkin itulah sebabnya, hingga usia 30 tahun, aku belum pernah benar-benar mencapai apa pun. Tapi aku bersyukur, setidaknya aku dicintai oleh pria ini.

Pelukannya semakin erat.

"Yang, besok jalan-jalan, yuk," ujar Hikam sambil menunjukkan sebuah kontak mobil di ponselnya.

"Mas, nggak mungkin, kan, kamu beli mobil?" tanya Dira kaget.

"Ya nggak, lah. Bulan ini ada margin lumayan dari jualan mie ayam. Aku sudah sisihkan buat kebutuhan Bapak Ibu, dan juga kebutuhan rumah. Sisanya sengaja aku gunakan untuk ajak kamu jalan-jalan, jadi aku sewa mobil," jelas Hikam dengan nada tenang.

Garis RuangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang