Pukul 11:30 malam, Ai baru pulang ke rumah. Semua penghuni sudah tertidur, termasuk Dira. Dengan langkah pelan, Ai memasuki kamar agar tak membangunkan teman sekamarnya itu. Namun, ketika membuka pintu, ia melihat Dira duduk di bangku panjang dekat jendela, masih terjaga dengan ponsel di tangannya.
"Belum tidur?" tanya Ai, memecah keheningan.
"Belum," jawab Dira singkat, matanya masih tertuju pada layar ponsel.
Ai berjalan menuju lemari, melepas abaya yang dikenakannya sambil berkata, "Segeralah tidur. Besok sebelum subuh Ami Usman jemput kita untuk ambil miqot ke Tan'im. Lalu kita umroh sunnah ba'da Subuh. Kita jamaah Subuh di Haram."
Nada suara Ai terdengar datar, seolah itu hanya rutinitas biasa. Namun, bagi Dira, berita itu seperti angin segar di tengah kegelisahannya hari ini. Ia langsung berdiri, mata yang tadi sendu kini bersinar penuh semangat.
"Serius, Mbak?" tanya Dira, memastikan.
"Apa aku kelihatan bohong?" balas Ai sambil melirik.
"Aaaaa!" Dira spontan berteriak kecil lalu memeluk Ai dari samping. "Terima kasih, Ya Allah... makasih banyak, Mbak!" serunya dengan suara penuh haru.
Ai sedikit terkejut, tetapi membiarkan Dira meluapkan kebahagiaannya. Setelah beberapa detik, Dira melepaskan pelukannya. "Sorry ya, Mbak. Saya histeris," katanya sambil menunduk malu.
"Lain kali jangan tiba-tiba memeluk begitu lagi," kata Ai dengan nada santai. "Selain papa sama mama, tidak ada orang lain yang pernah melakukannya. Aneh aja rasanya."
"Memangnya Mbak nggak punya teman dekat?" tanya Dira, penasaran.
Alih-alih menjawab, Ai malah berdehem sejenak, lalu berkata, "Dir, sebenarnya aku juga belum pernah umroh. Sebelum berangkat kemarin juga nggak sempat manasik. Kamu kan lebih lama belajar di pesantren. Kalau nggak keberatan, bisakah kamu membimbingku besok?"
Mata Dira melebar, tak menyangka permintaan itu keluar dari Ai. "Kalau saya sih sempat manasik, Mbak, sama teman yang biasa bimbing jamaah haji dan umroh. Dia juga kasih buku panduan sederhana untuk tahu denah tempatnya. Terus suami saya juga banyak bantu kasih bacaan-bacaan penting," jelas Dira.
"Suamimu sudah pernah umroh?" tanya Ai.
"Belum juga sih, Mbak. Tapi kan pengetahuan agamanya lebih banyak, jadi saya belajar dari dia," jawab Dira sambil tersenyum kecil.
Ai mengangguk pelan, menerima penjelasan itu. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Dira. "Oh iya, sepertinya perasaanmu sudah membaik sekarang," katanya, mencoba mengingatkan Dira soal kegundahan tadi. "Masalah sama suamimu ya?" goda Ai.
Dira menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ya gitu lah, Mbak. Namanya juga LDR. Tadi dia video call, tapi saya nggak angkat. Pas saya coba balas, malah nggak ada jawaban. Terus saya kirim pesan, sampai sekarang belum kebaca. Apa dia ngambek ya?" katanya sambil mengerutkan kening.
"Apa dia ngambekan seperti perempuan?" tanya Ai, menanggapi dengan nada santai.
"Yeee... enak aja, Mbak! Suami saya bukan banci," balas Dira, cemberut.
"Kalau gitu, berarti kamu yang curigaan," balas Ai.
"Gimana nggak curiga, coba? Sekarang ada adik perempuannya temannya yang bantu dia di bagian promosi dan pemasaran. Masih muda dan cantik pula," jawab Dira, suaranya kesal.
Ai menghela napas panjang. "Nah, kejadian juga kan yang aku khawatirkan? Kamu terjebak pikiran negatif sendiri di tengah-tengah pekerjaan."
Dira hanya diam, merasa ucapan Ai ada benarnya. "Maaf, Mbak. Tapi gimana dong?" tanyanya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Ruang
RomanceAisha Kartika, CEO perusahaan interior Garis Ruang, memimpin proyek pembangunan hotel di Jeddah, Saudi Arabia, di mana lukisan Azura, sahabat sekaligus cinta yang pernah ia tinggalkan, menjadi bagian dari desainnya. Pertemuan ini menggugah kembali p...
