Jarak

780 77 6
                                        

Sore itu, Dira tiba di rumah sendirian. Begitu ia membuka pintu, suara seorang pria menyambutnya. Rupanya, Ami Usman, salah satu teman lama keluarga, sedang berada di rumah.

"Assalamu'alaikum... I'm home!" seru Dira, sembari menaruh tasnya di kursi terdekat.

"Wa'alaikumussalam," jawab Ami Usman. "Untung kamu sudah pulang," lanjutnya, sedikit terburu-buru.

"Ami sudah lama di sini?" tanya Dira, sambil menatap heran.

"Saya tadi antar Pak Toha pulang," jawab Ami Usman santai, tanpa memedulikan bahwa Dira sebenarnya bukan anak kandung Pak Toha.

"Feen Pak Mo? (Pak Mo ke mana?)" tanya Dira dengan nada penasaran.

"Yasytaghil. (Sedang sibuk)," balas Ami Usman pendek, sebelum ia berpamitan untuk segera pulang.

Setelah Ami Usman pergi, Dira langsung menuju kamar Pak Toha. Ia menemukan pria itu sedang berbaring, tampak lelah dengan wajah sedikit pucat.

"Tadi saya terkilir saat berjalan, jadi ada sedikit pendarahan lagi," cerita Pak Toha perlahan, seolah tak ingin membuat Dira khawatir.

"Saya telepon Mbak Ai, ya, Pak?" tawar Dira, cemas melihat kondisi Pak Toha.

"Jangan. Saya minta tolong kamu saja untuk mengganti perban ini," pinta Pak Toha dengan nada tenang.

Dira hanya mengangguk. Baginya, merawat Pak Toha bukan beban, malah ia merasa seperti mengurus ayahnya sendiri. Dengan telaten, ia mengganti perban dan membersihkan luka tersebut.

Namun, kekhawatiran tetap tak bisa ia sembunyikan. "Pak, Mbak Ai harus tahu. Apalagi kalau keadaan Bapak semakin parah," ujarnya lembut.

Pak Toha tersenyum tipis. "Maaf, kalau saya merepotkan," katanya.

"Bukan begitu, Pak," balas Dira, menahan desakan hatinya. "I mean, you should not pretend to be okay. She is your daughter, right?"

Pak Toha terdiam sejenak, lalu menjawab dengan pelan, "Jika pekerjaannya sudah mulai longgar, saya pasti bicara."

Setelah selesai mengganti perban, Dira kembali ke kamarnya. Ia baru ingat harus melakukan panggilan video ke rumah. Ketika membuka ponselnya, ia melihat tujuh panggilan tak terjawab. Dira melirik jam tangannya, pukul 17.30. Itu berarti di Indonesia sekarang sekitar pukul 13.27. Ia berpikir, ini masih waktu yang memungkinkan untuk menelepon.

Namun, setelah tiga kali mencoba menelepon, panggilannya tetap tak dijawab. Rasa gelisah mulai muncul. Akhirnya, Dira memutuskan mengirim pesan:

"Assalamu'alaikum. Mas, maaf, tadi aku sedang sibuk. Kalau sudah senggang, kamu balas pesan ini, ya."

Ia menunggu sejenak, berharap ada balasan, tapi tak kunjung datang.

Sementara itu, hingga Maghrib tiba, Ai belum juga pulang ke rumah. Setelah selesai bekerja, Ai meminta sopir taksi online mengantarnya ke sebuah masjid yang tenang dan jarang dikunjungi banyak orang. Sopir itu membawa Ai ke Masjid Hasan Anani, sebuah masjid yang terletak di tepi Laut Merah, tepatnya di Corniche Al-Hamra, Jeddah.

Masjid itu menawarkan suasana damai yang menenangkan hati. Hingga selesai Isya, Ai tetap tidak beranjak dari sana. Ia mengisi waktu dengan membaca Al-Qur'an dan melaksanakan salat sunnah.

Setiap kali membaca butiran kalimat surat Al-Fatihah, dadanya terasa sesak, seolah seluruh perasaannya berkumpul di sana. Dalam setiap rakaat salat, makna ayat-ayat itu menyentuh hati terdalamnya. Air matanya jatuh, membasahi sajadah tempatnya bersujud. Ia merasa begitu kecil di hadapan Tuhan, tapi anehnya, perasaan itu justru menenangkan.

Garis RuangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang